PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 205 POV HERDILAN


__ADS_3

Tinggal sendirian ternyata membawa kejenuhan.


Meskipun warung sembakoku laris manis diserbu pembeli karena penjualnya adalah duda tampan sepertiku. Hehehe... narsis sedikit, boleh lah ya! Tetap saja aku merasa kesepian.



Daganganku perlahan berkurang dan stok satu persatu habis.


"Mau kemana Bang, udah rapi?"


"Mau belanja, Mbak! Ke agen, tapi mau pergi dulu jenguk Mama saya di rumah sakit."


"Memangnya Mamanya sakit apa? Dirawat di rumah sakit?"


"Iya. Tapi minggu depan sudah diizinkan pulang, Mbak! Alhamdulillah!"


"Syukur deh! Salam ya sama Mamanya!"


Begitulah. Kehidupanku kini jadi penjual sembako idaman para ibu sekitar rumah.


Aku hendak belanja. Tapi ada satu yang menggelitik dikalbu.


Wajah bocah imut yang jadi penolong di rumah bedeng tempo hari membuatku sangat ingin melihatnya.


Bagaimana kabar bocah tampan yang baik hati itu ya? Sungguh aku kangen mendengar celotehnya.


Akhir-akhir ini wajah bocah itu menari-nari dibenakku. Membayangkan wajah putraku pasti setampan Dzakki.


Ya. Aku ingat, namanya Dzakki. Nama yang manis! Apa dia masih mengenaliku ya, setelah aku memangkas rambut gondrongku yang saat itu baru beberapa hari keluar dari lapas.


Dengan semangat pagi dan niat ridho Allah Ta'ala, aku melangkah keluar rumah.

__ADS_1


Rencanaku untuk mencari pekerjaan untuk sementara kupending dulu. Menunggu Mama Tasya pulang dari rumah sakit.


Mama bisa menjaga warung sederhana ini. Setidaknya, akan ada kegiatan lain yang menyibukkan hari-hari Mama hingga tak lagi memikirkan hal yang tak guna.


Baru aku akan memulai rencana, mencari pekerjaan yang lebih layak dengan ijazah sarjana ekonomiku.


Nanti setelah itu aku bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk kuberikan pada putraku nanti.


Tapi, membawa CV dan fotokopi ijazah sarjanaku rasanya tak ada salah juga.


Cuaca pukul tujuh di Ibukota terasa luar biasa. Mentari bersinar cerah. Orang lalu lalang sibuk mengejar waktu berpacu dengan kemacetan yang sudah jadi makanan sehari-hari warganya.


Syukurlah... Aku tiba tepat pada waktunya.


Jam sekolah mulai pukul delapan pagi. Jadi ada kesempatan untuk mengajak ngobrol Dzakki jika sudah terlihat di gerbang sekolah.


Kuperhatikan satu persatu. Rata-rata mereka diantar oleh ibunya. Kembali terbayang wajah Viona yang pastinya juga mengantar putraku kesekolah pagi ini. Entah sekolah dimana.


Hhh...


Mataku melihat sesosok mungil yang kukenal. Turun dari mobil dengan menggandeng tangan seorang pria.


Pasti itu Papanya. Hhh... Andai aku bisa seperti itu pada anakku kelak. Mengantarnya ke sekolah dengan suka cita. Tuhan... Aku ingin sekali bertemu istri dan anakku!


Kulihat wajah Dzakki bersinar cerah. Sesekali ia tertawa menyapa teman-temannya yang juga berjalan santai masuk area sekolah.


Hingga...


Grep.


"Mas sedang apa di sini?"

__ADS_1


Aku terkejut sekali. Seorang wanita sekitar berusia 25 tahunan menepuk pundakku dari belakang.


"Ah... Maaf! Saya hanya sedang mengamati anak-anak itu! Mereka terlihat bahagia hendak mencari ilmu!" jawabku agak terbata-bata.


Untungnya pakaianku sangat rapi. Dan dandananku kini tidak seperti ketika baru keluar dari penjara. Aku juga sudah ke barber shop, potong rambut dan cukur kumis serta jenggot. Syukurlah!


"Mas..., sedang mencari pekerjaan?" tanyanya melihat amplop map coklat yang kupegang.


"Iya, Mbak! Tapi melihat bocah-bocah itu semangat, membuat saya teringat masa kecil!"


"Hehehe... Iya betul! Makanya saya sangat senang ketika kerabat saya memberikan kepercayaan untuk mengurus Taman Kanak-Kanak Rinjani ini!"


"Oh, ternyata guru besar TK Rinjani!"


"Hehehe... hanya tutor saja! Kebetulan kami sedang membutuhkan tenaga pengajar laki-laki untuk mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan!"


Aku tercengang. Seperti suatu keberkahan yang datang. Tuhan benar-benar Maha Besar.


"Tapi honorarium yayasan kami tak sebesar ditempat lain. Maklum, bukan TK Internasional!"


"Saya... saya berminat sekali, Mbak!"


"Panggil saja saya Geraldine. Murid-murid biasanya menyebut saya, Miss Gerald. Umur 25 tahun!"


"Oh... Saya Herdilan. Herdilan Firlando, pendidikan sarjana ekonomi usia 30 tahun."


"Kalau begitu, mari silakan...kita bicarakan lebih lanjut di kantor!"


Aku mengangguk hormat. Mengikuti langkah kaki miss Geraldine masuk gedung sekolah dan menyusuri aula TK menuju ruang kantornya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2