
Suamiku akhirnya menyetujui pikiran serta saran Mama Tasya. Rumah pemberian Papanya, diterima walau dengan setengah hati.
Sejujurnya mas Delan lebih suka memiliki rumah hasil dari keringatnya sendiri. Dan akupun menyetujui pendapat itu.
Tapi... tak ada salahnya juga menerima pemberian Papa Bambang yang di sinyalir adalah warisan Papa untuk mas Herdilan.
Rumahnya cukup besar bagi kami berdua. Terdiri dari dua kamar tidur yang luas, ruang tamu, ruang keluarga, dapur serta halaman belakang yang lebih luas dari rumah itu sendiri.
Itu yang membuatku cukup bergembira.
Mas Delan mengambil inisiatif untuk membangun ulang alias renovasi keseluruhan rumah tersebut karena tidak sreg dengan model dan bentukannya.
Diperkirakan sekitar dua tiga bulan, rumah kami akan selesai pemugarannya.
"Setelah kita pindah dari rumah Mama, baru kita ikut program bayi tabung. Gimana? Oke khan pemikiranku?"
Aku tersenyum dalam pelukan Mas Delan. Rencana yang indah dan sempurna. Aku suka sekali pemikirannya.
Dua bulan ke depan, rumah tangga kami tepat satu tahun. Kado terindah di tahun pertama pastinya. Rumah baru, juga... semoga Tuhan mengijabah aku agar bisa hamil. Pastinya akan sangat luar biasa.
Aku sangat bahagia membayangkan dua bulan ke depan. Kini hanya cukup butik Mama Tasya fokusku. Sebagai seorang pemilik hibahan serta penerus mutlak, aku wajib juga berfikir untuk membuat inovasi-inovasi baru agar butik tetap berjalan dengan semakin tingginya angka penjualan.
Aku tidak bisa hanya ongkang-ongkang kaki saja menerima kenikmatan semua ini tanpa tanggung jawab.
Mama Tasya memberiku untuk membuat butiknya lebih maju serta lebih sukses lagi, tentunya. Dan kalau aku berhasil, akan lebih membanggakan Mama juga kepuasan bagi diriku sendiri.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
In Frame POV HERDILAN FIRLANDO
Hhh...
Pekerjaan sebagai seorang produser ternyata bukanlah pekerjaan mudah. Banyak resiko serta berat pula tanggung jawabnya.
Bukan hanya harus memuaskan para pengusaha pemilik suatu brand merk yang memesan iklan padaku.
Tapi juga aku harus menjaga dan mengurus para artis serta talent yang bergabung dalam agency PH-ku.
"Boss..."
"Ada apa Pak Yoss?"
"Talent kita Jelita Lara... terkena kasus!"
__ADS_1
"Siapa? Kasus bagaimana?"
"Jelita, Boss! Teman kuliahnya Boss itu lho!"
Aku terdiam menyimak pembicaraan serius pas Yoss, asistenku di bagian produksi.
"Begitu boss! Selama ini ia mengalami KDRT oleh pamannya sendiri. Bahkan semua penghasilannya sebagai model serta pemotretan majalah dewasa itu di ambil semua oleh pamannya!"
Aku tak habis fikir.
Jelita alias Lady Navisha. Menurutku usianya bukan lagi remaja. Yang harus di urus keuangannya juga oleh pamannya. Bahkan sudah dewasa di usia 23-24 tahun mengatur skedul dan juga teken kontrak sendiri. Walau memang pamannya sendiri adalah manager pribadinya.
Hhh...
"Bagaimana Boss? Sedangkan dia masih ada beberapa kontrak dengan PH kita!"
"Biar dia ditempatkan dulu di apartemen Bungur. Sebulan cukup mungkin di sana dulu buat rehat!"
"Baik, Boss!"
Aku sudah lama tak bertemu Lady lagi. Meski ia pernah menchatku beberapa kali hanya sekedar say hello dan menanyakan kabar Viona.
Sedang aku sama sekali belum menceritakan tentang Lady pada Viona, istriku.
Seperti hari ini,... Aku kembali hanyut di antara huruf-huruf dan angka-angka keyboard laptopku.
Andai itu 'makhluk hidup'... mereka akan teriak lelah dan penat nyaris tak istirahat ku tekan tutsnya.
Mau bagaimana lagi. Hhh...
Selain butuh kerjaan dan uang untuk biaya hidupku serta memberi nafkah istriku, aku juga dituntut untuk ikut andil bertanggung jawab mengurus kerjaan Mamaku yang kini diestafetkan padaku.
Ada konsekuensi yang terbayar dari barteran hidup yang nyaman tentunya.
Aku harus bersedia bekerja keras melewatkan waktu luangku bersenang-senang bersama Viona, istriku tercinta.
Setahun kurang hampir rumah tanggaku bersamanya. Suka duka pastinya telah kami lewati. Juga banyak tawa dan air mata juga terlampaui.
Aku bahagia bersama Viona. Semua impianku di masa belia akhirnya tercapai.
Menikah diusia muda, tak jadi halanganku tuk berkarya layaknya para bujang milenial di luaran sana. Justru aku terbantu jika nafsu syahw*tku datang di saat yang tidak tepat, ada istriku tempatku melampiaskannya.
Tidak seperti para sahabatku yang kebanyakan masih bujangan. Mereka alhasil lebih sering berzina ria baik dengan pacar maupun wanita sewaan demi kesenangan.
__ADS_1
Aku tidak. Ada Viona yang akan selalu melayaniku dengan baik di atas kasur, sumur juga dapur. Begitu istilah bagi para istri pasangan suami.
Umur kami masih muda. Bahkan belum pas dua puluh tiga tahun. Jadi urusan keturunan belum jadi penghalang kami untuk bahagia.
Namun semua itu adalah masalah besar bagi Mama kandungku sendiri.
Sifatnya yang memang seperti itulah, cukup membuat keluarga kecilku dengan Viona menjadi terusik.
Mama ingin kami segera memiliki momongan. Bagi Mama, mendapatkan cucu segera adalah niatan bulatnya menikahkan aku dengan Viona.
Hadeuh! Begitulah Mamaku. Selalu bersikap di luar kapasitasku sebagai seorang putra tunggalnya.
Aku selalu beliau tuntut untuk bisa menjadi apa saja. Menjadi apapun yang ia pinta termasuk membuatkan cucu untuknya.
Sedang semua itu bukanlah kuasaku. Semua kuasa Tuhan. Sekeras apapun aku dan Viona berusaha, tapi Tuhan belum berkehendak...ya mau bilang apa!
Sampai-sampai Mama mengajukan opsi agar kami mengikuti program bayi tabung padahal rumahtangga kami baru seumur jagung. Bahkan belum menginjak setahun.
Mama... Mama!
Treeet... treeet... treeet...
"Hallo, Lady?"
...[Boss, please help me...]...
"Hei, hei! Kamu di mana?"
...[Aku ada di lobi apartemen Boss di Bungur. Tolong aku, hik hiks... Aku... dipukuli pamanku, Boss!]...
Lady? Dipukuli pamannya di apartemen perusahaan Mamaku? Berani sekali orang itu.
"Lady!... Aku otewe! Take care your self! Cari sekurity apartemen, segera!"
...Klik....
Handphone Lady mati.
Dan aku hanya bisa menghela nafas, kesal juga.
"Pak Putra! Putar balik ke apartemen Bungur! Sekarang!"
Aku menyuruh supirku untuk segera meluncur ke apartemen di bilangan Bungur. Segera menemui Lady yang tadi siang baru saja pak Yoss, asistenku memindahkannya ke sana.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...