PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 157 UCAPAN KAK JO JADI KENYATAAN


__ADS_3

Fika memberi kabar, kalau minggu depan ia akan wisuda. Fika ingin sekali ada yang mendampingi. Dan meminta semua kakaknya ikut hadir di acara graduation di kampus Singapura.


Kak Mutia dan Kak Christian juga sudah kembali rukun rumah tangganya. Bahkan kini lebih harmonis setelah aku memberinya saran untuk mendatangi alim ulama atau penasehat perkawinan.


Rumah tangga mereka memang tidak berawal dari rasa cinta. Namun seiring perjalanannya yang sudah satu tahun setengah, dimana keduanya berkomitmen dan memegang teguh janji satu sama lain hingga tiba batas waktu itu.


Tiada salahnya bagi mereka untuk memulai hidup baru.


Sama-sama membuka diri, dan saling melihat kebaikan satu sama lain selama terikat pernikahan satu setengah tahun.


Kak Chris tak pernah menyakiti jasmani dan rohani kak Mutia. Bahkan menjadi suami siaga serta bertanggung jawab menafkahi anak dan istrinya.


Begitu juga kak Mutia. Meskipun ia masih memendam cinta pada kak Firman, ia berusaha menahan dirinya. Menjalani kewajibannya sebagai seorang istri, meski hanya diluarnya saja. Mutia tak pernah mencoba bermain api untuk kembali pada Firman.


Ia perempuan yang hebat. Bertekad menjaga nama baiknya dan suami hingga waktu perjanjian perceraian itu tiba. Bahkan Mutia selalu mendampingi Chris dimanapun dan kapanpun ketika suaminya sedang ada masalah. Ketika mengajukan laporan atas kejahatan mama Tasya ke pihak kepolisian, hingga papa Bambang yang juga jadi tahanan KPK. Mutia setia menjaga kestabilan emosi Christian.


Juga ketika sang Mama meninggal, dan kejadian paling tragis... Papa Bambang menembak kak Jo dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan pist*l yang dipakai menghabisi nyawa kak Jo.


Hhh...


Aku kembali sedih, mengingat kak Jonathan Lordess.


Pria yang diawal jumpa, kukira agak sedikit sakit jiwanya. Karena ia selalu memanggilku dengan nama 'Louisa'. Ternyata... karena parasku yang memang mirip mantan pacar pertamanya.


Hhh... Kakak...! Aku rindu padamu, Kak Jo!

__ADS_1


Aku hanya bisa menangis di kamar mandi. Menangis pelan dibawah guyuran shower air hangat. Karena itu tidak akan terdengar oleh Roger dan juga Dzakki.


Putraku kini sudah beumur empat bulan.


Ucapan kak Jo jadi kenyataan.


Kalau putraku akan naik pesawat terbang kelas bisnis diusianya yang empat bulan.


Kini Dzakki benar-benar naik pesawat ke Singapura di umur tepat empat bulan.


Sebelumnya aku dan Roger berkonsultasi dulu ke dokter Lena. Khawatir kalau akan membuat Dzakki-ku terganggu pertumbuhannya jika kubawa serta naik pesawat.


Tapi ternyata hasil pemeriksaannya bagus. Kondisi kesehatan Dzakki baik. Dan bisa dibawa serta untuk terbang ke Singapura dengan surat keterangan sehat dari dokter Lena.


Kami sekeluarga besar (bersama keluarga kecil kak Chris) juga bi Tini dan Kenken menaiki pesawat komersial kelas bisnis menuju Singapura yang memakan waktu kurang lebih satu setengah jam di atas udara. Tiga krucil hanya bayar tiket pesawat dua puluh persen dari harga normal.


Calon-calon pengusaha handal dan para CEO perusahaan besar. Enjoy saja mereka duduk manis dalam pesawat. Meski telinga mereka di sumbat 'earmuff'. Tapi mereka tak rewel dan tak menyusahkan penumpang lain.


..........


"Akhirnya..."


Fika menyambut kami di bandara Changi. Wajah cantiknya begitu sumringah.


__ADS_1


"Waaah... Velli, Verrel... sudah besar! Sudah bisa jalan ya, Kak?" tanya Fika pada kak Mutia.


Dici*mnya pipi si kembar dengan sangat gemas.


Fika tersenyum padaku. Cipika-cipiki padaku juga setelah pada kak Mutia.


Tetapi... Dia tak menghiraukan putra tampanku!


Aku sedih. Hanya bisa menunduk dan menelan saliva. Untungnya putra tampanku belum mengerti cemburu, melihat saudaranya yang lain dapat ci*man sayang dari Tantenya. Ternyata Fika, masih menyimpan dendam.


"Kenapa tak kau cium juga putraku?"


Aku senang, Roger menegur Fika. Meski hanya dalam hati saja.


"Dia bukan anaknya mas Roger! Dia anak si baj*ngan!"


Deg.


Jawaban Fika membuat lemas lututku. Hiks...Fika,.. kumohon jangan ucapkan kata makian pada putraku!


"Hei, Fika! Jangan berkata kasar didepan putra-putriku!" tegur kak Christian membuat kami perlahan berjalan bersama menuju area parkir dan meluncur ke lokasi hotel yang kak Chris booking tak jauh dari kampus Fika.


Aku hanya bisa diam. Sedikit terluka hati, tapi berusaha mengerti pada kesakitan hati Fika juga pada Herdilan. Ayah kandung dari Dzakki Boy Julian.


Tapi... Dzakki adalah putraku, Fika! Hhh... Dan andaikan kak Jo ada. Fika tak mungkin berani bertindak seperti tadi pada putraku! Tuhan... kumohon tolong ambil kebencian Fika pada putraku yang tak salah apa-apa!

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2