PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 155 KAK MUTIA TINGGAL BERSAMAKU


__ADS_3

"Roger... apa seperti itu aslinya?" tanya kak Mutia membuatku menoleh padanya.


Ia bertanya setelah aku dan Roger berusaha menenangkan bocah berusia empat bulan yang begitu unyu menggemaskan tak mau ditinggal Ayahnya.


Aku tertawa tak menjawab.


Roger memang pria aneh. Delapan bulan lebih tua umurnya dariku, dan sebulan lebih muda dari Herdilan. Namun konon katanya kepribadiannya dulu tak seperti itu.


Maksudnya, Roger tak pernah terlihat banyak bicara. Ia pendiam parah. Seorang individualis yang tidak terlihat menyukai anak-anak apalagi bayi, tapi kini... Ia justru sangat posesif dan begitu menjaga serta menyayangi Dzakki putraku.


Aneh bukan?


"Selama setahun setengah, aku ga pernah lihat Roger seperti itu, Vi! Bahkan... aku pernah juga serumah dengannya sewaktu masih tinggal di rumah mama Tania sebelum dijual! Roger pasif orangnya!"


"Hehehe... aneh khan? Aku juga ngerasa dia tuh titisan alien!"


Mutia yang tadi raut wajahnya sedih, suram...kini terlihat lebih cerah. Karena ada baby Dzakki bersama kami.


"Dzakki punya pesona sihir!" tuturnya dengan lembut memainkan jari jemari putraku.


"Bisa jadi! Ira juga bilang begitu, Kak! Hehehe... Alhamdulillah Dzakki memiliki keberuntungan yang besar. Moga terus selamanya seumur hidupnya! Tidak seperti aku!"


"Kamu juga perempuan yang sangat beruntung, Viona!"


"Kata siapa? Semua cinta yang banyak untukku selalu Tuhan ambil satu persatu!"


"Sstt...! Tak boleh menyalahkan Tuhan! Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk umat-Nya!"


"Betul. Untuk itu kita harus selalu bersyukur. Dan aku bersyukur sekali, dibalik musibah dan bencana yang Tuhan berikan padaku... Ada baby Dzakki yang jadi penyemangat hidupku, Kak! Aku rasa, kakak juga pasti berfikir begitu. Iya khan?" tanyaku dengan sengaja menyentil kak Mutia.


Perempuan yang setahun lebih tua dariku itu hanyalah menunduk. Airmatanya jatuh perlahan.


"Aku seperti mimpi, mengandung..."


"Aku juga! Walau ketika menikah dengan Delan, itu adalah impian. Tapi ketika aku tahu kalau aku hamil setelah kejadian perselingkuhan yang Delan lakukan diam-diam, aku membenci diriku yang hamil!"


"Sama. Aku juga!"


"Aku malah sempat nyemplung ke sungai dekat rumah ini! Dan kak Jo lah penolongku! Kenken penyelamatku!... Aku nekad hendak bundir setelah tahu kalau suami dan mama mertuaku bersekongkol menutupi pernikahan keduanya dengan JeLa!"


"Hhh... Aku tak mau berfikir pendek seperti itu. Saat itu Bapakku masih hidup, Vi! Kalau aku mati, siapa yang mengurusnya juga kedua adikku... itu fikiranku!"


"Hhh..."


Kami terdiam. Tenggelam dalam cerita masa lalu yang kelam.

__ADS_1


"Kakak... tidak kangen si kembar?" tanyaku membuat Mutia menelan saliva.


Aku tahu, kamu pasti kangen. Seorang ibu tidak mungkin melupakan anaknya meski hanya sekejap. Tidak! Seburuk apapun... Ibu selalu mengingat anak. Walau keadaan yang menyebabkan semua perubahan!


"Aku harus siap meninggalkan mereka. Mas Chris pasti akan mengurus Velli dan Verrel dengan baik! Bahkan lebih baik dari aku. Dia ayah kandung mereka!"


"Kakak juga ibu kandung mereka! Posisi kalian setara. Tak ada yang lebih tinggi ataupun lebih baik. Anak butuh Ayah dan Ibunya."


Aku mengangkat tubuh Dzakki yang tidur pulas setelah menangis tak mau ditinggal Roger, tadi.


Kutiduri buah hatiku itu ke atas ranjang dengan sangat perlahan. Dzakki terlihat begitu cute. Membuat aku gemas dan mencium pipi gembulnya.


Cup.


Harum aroma tubuh dan parfum Roger.


Mutia memperhatikanku dengan seksama. Matanya tak berkedip melihat ke arah buah hatiku.


"Berapa berat badan Dzakki sekarang, Vi?"


"Hmm... dua minggu lalu beratnya delapan kilogram, Kak! Usianya baru empat bulan kurang."


"Pertumbuhannya pesat juga ya!"


"Nyusunya kuat. Hehehe..."


"Kakak ASI? Lalu sekarang... pergi... bagaimana itu?" tanyaku tetapi langsung kutahan laju ucapanku yang tadi sedikit nge-gas.


"Hehehe... agak sakit ini!" jawab kak Mutia sembari meraba dua payud*ranya.


Hhh... Kesombongan perempuan! Ingin pergi, tapi nyatanya menyusahkan diri sendiri juga.


"Nanti meriang lho?!"


"Viona ga kasih ASI?" Mutia malah pura-pura mengalihkan ucapanku.


"ASI ku ga keluar, Kak! Padahal sudah beli alat pompa segala. Dokter Lena kata, mungkin karena aku dalam keadaan depresi. Jadi memicu gangguan pada ASI ku! Jadilah, pakai susu formula!"


"Aku sejak sejak usia kandungan sembilan bulan ASI nya malah keluar dengan sendirinya. Kata bidan hormonku bagus. Jadi lancar peredarannya!"


Meskipun bibirnya berkata-kata, tapi jarinya sibuk melihat handphonenya. Mutia ternyata membuka foto-foto di galeri hapenya.


Kangen anak juga khan?


"Kakak..."

__ADS_1


"Ya?"


"Apa kak Christian memperlakukanmu dengan buruk?" tanyaku pelan. Khawatir menyinggung perasaannya karena kami tak terlalu dekat juga.


"Mas Chris sangat baik! Bahkan kami belum pernah berhubungan intim meskipun sudah berumah tangga selama setahun setengah!"


"Hah???"


Aku terkejut mendengar pengakuannya.


"Dia pria yang penyabar. Juga dewasa. Dia tidak pernah memarahiku. Dia menjaga janjinya dengan sangat baik!"


"Lalu..., kenapa sekarang,"


"Aku meninggalkannya dan anak-anak?" sela Mutia membuatku mengangguk.


"Perjanjian kami, setelah anak-anak genap satu tahun...kami bercerai."


Aku melongo. Mendengar perjanjian aneh.


"Kenapa ada perjanjian?"


"Karena memang pernikahan kami hanyalah untuk menutupi aib. Hanya demi anak-anak kami saja! Tidak ada cinta di dalamnya. Cintaku, hanya untuk Firman. Bukan untuk mas Chris!"


"Tapi kak Chris sudah berjuang bersamamu. Bahkan selalu ada untuk kak Mutia dan anak-anak, bukan?"


"Tapi... aku masih mengingat satu kejahatannya padaku, Vi!"


"Apa?"


"Kenapa dia menggagahiku sewaktu pengaruh obat perangs*ng itu mengalir di tubuhku? Dia pria dewasa. Berumur 27 tahun kala itu. Seorang CEO Trading yang terhormat. Tapi..., dengan alasan kasihan melihatku yang menggelepar kepanasan, dia justru...memperk*saku. Dia tak lebih dari pria bajingan! Sama seperti pemuda-pemuda yang lebih dulu menyekapku dan mencekokiku minuman setan itu. Bedanya, dia yang menggantikan mereka!"


"Bukankah, kak Chris mau bertanggung jawab?"


"Huh! Dia menghancurkan semuanya! Masa depanku, impian indahku, juga cita-cita dan cintaku pada Firman! Bahkan aku... sampai saat ini masih memendam rasa sakit, karena telah mengkhianati cinta seorang Firman! Hik hik hiks... Aku selalu merasa bersalah. Apalagi kini Firman telah tiada!"


Mutia menahan tangis. Isaknya kecil sekali, tapi terdengar menyayat hati.


Sesekali ia mengusap lelehan air mata dan juga cairan dari hidungnya karena sesak.


Aku bisa mengerti rasa sakit dihatinya. Karena sama seperti rasa sakit yang kualami. Kehilangan kak Jo untuk selamanya.


Kurangkul bahu Mutia. Kami berpelukan erat.


Akan kubiarkan dulu kak Mutia tinggal di sini. Membiarkan dia merenung dan mengobati hatinya yang luka. Meski aku kurang setuju pada pilihannya pergi dan menjauh dari kak Chris terutama putra-putrinya yang baru setahun.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2