
Pernikahan Herdilan Dan Kartika tinggal dua minggu lagi. Tapi sang calon mempelai pria masih ada di negara Singapura.
Masih ada project yang harus dikerjakan Herdilan dalam minggu-minggu ini.
Kartika juga masih mengajar di sekolah dasar tempat Dzakki menuntut ilmu.
Kedua calon pengantin itu terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hingga suatu ketika...
Irma rekan Kartika mengajar seperti memendam sesuatu untuk diutarakan pada gadis manis berhijab itu.
"Bu Tika, bisakah kita berbincang setelah selesai mengajar nanti siang? Tapi saya ingin kita bertemu sebagai teman. Bukan sebagai rekan kerja!"
Perempuan yang seusia dengan Kartika tapi telah memiliki suami dan satu orang anak itu adalah rekan mengajar selama tiga tahun.
Ajakannya yang tiba-tiba dan terdengar serius itu tentu saja membuat Kartika berfikir jauh.
Dan benar saja.
Irma memberinya sebuah foto Herdilan bertemu dengan perempuan cantik di sebuah kafe di malam minggu kemarin.
Tentu saja Kartika jadi tertohok juga melihat gambar bukti yang disodorkan Irma padanya.
"Maaf, bukan maksudku membuatmu gamang untuk melanjutkan pernikahan. Bukan, Tika! Ini hanya sebagai pengingat saja, bahwa sebelum kita melangkah ke jenjang yang lebih serius, cobalah kenali lebih dulu pasangan kita. Itu saja pesanku!" tutur Irma dengan wajah agak memelas.
Maksudnya mungkin baik, memberitahukan pertemuan antara Herdilan dan Rihana di kafe tempat ia dan suaminya menghabiskan malam minggu.
Dan berharap Kartika tahu pertemuan yang Herdilan lakukan dengan perempuan muda nan cantik jelita.
Keduanya tampak sangat intim dalam obrolan. Bahkan sesekali terlihat sang wanita merangkul bahu calon suami Kartika. Begitu dalam penglihatan Irma.
"Bang Herdilan sudah memberitahukan kalau ia akan bertemu sahabat lamanya dahulu sebelum pergi ke Singapura, Ir!" kata Kartika, berusaha menutupi keadaan yang sebenarnya.
Walaupun hatinya juga panas, tapi dia tak mau terlihat bodoh dihadapan Irma dengan mengatakan hal-hal yang seharusnya ia jaga.
Herdilan akan jadi suaminya dalam waktu dua minggu lagi.
Baik buruknya Papi Dzakki kini adalah tanggung jawab dan juga hal yang harus ia terima.
__ADS_1
Bukankah ia telah menerima Herdilan lengkap dengan semua kekurangannya di masa lalu? Itu artinya ia pun harus siap menerima kabar burung yang tak mengenakkan itu.
Walau belum tentu benar ceritanya, atau mungkin itu hanya penglihatan sepihak Irma saja, Kartika belum bisa memastikan. Dan ia juga enggan untuk meminta konfirmasi dari Herdilan.
Ia ingat pesan sang calon suami, kalau pekerjaannya membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga tidak bisa leluasa memegang handphone. Jadi untuk saat ini ia akan meredam emosinya sendiri agar tak sampai terlalu menyakitkan.
"Bukan apa-apa. Menjaga itu lebih baik daripada mengobati. Waspada itu perlu supaya tidak sampai kejadian, Tik! Aku hanya ingin Tika bahagia. Dan tidak masalah kita menanyakan langsung pada calon suami kita jika melihat sesuatu yang ganjil. Apalagi kasus perceraian sebelumnya dengan Maminya Dzakki karena adanya perselingkuhan. Jadi sebelum itu terjadi, kami harus bisa memutus hubungan yang tak lazim itu seandainya benar-benar terjadi. Jangan sampai kebablasan! Begitu maksudku, Tik!"
"Terima kasih, Ir atas nasehatnya. Aku senang, memiliki teman yang baik. Yang mau berbagi pengalaman dalam rumah tangganya supaya tetap selalu harmonis."
"Hehehe...! Aku juga masih banyak belajar memahami suamiku! Walaupun sudah mau delapan tahun hidup bersama, toh tetap saja ada miskomunikasi diantara kita. Apalagi kamu dan Bang Herdilan yang memang belum mengenal satu sama lain dengan baik."
"Iya, benar katamu! Kami memang mencoba komunikasikan semuanya, kalau ada ganjalan yang sekiranya tidak enak dihati. Tapi saat ini Abang sedang sibuk bekerja di luar kota. Jadi kami belum saling menghubungi."
"Oh begitu. Ya sudah, itu saja yang mau aku sampaikan. Semoga kalian langgeng dalam berumah tangga. Sakinah, mawaddah warrohmah."
"Aamiin...! Makasih doanya, Irma!"
Begitulah. Selalu saja ada cobaan dan ujian menjelang pernikahan.
Kartika hanya bisa menghela nafas. Pasrah pada Kehendak Tuhan dan sabar menunggu sampai Herdilan pulang. Ia pasti akan menanyakan pertemuan pria itu dengan seorang wanita cantik yang dilihat Irma.
Seingat Kartika, Herdilan memang bercerita akan bertemu dahulu dengan Ciko sahabatnya yang baru pulang dari Malaysia. Bukan hendak bertemu dengan Rihana.
Itu membuat Kartika jadi susah tidur.
Akhirnya keesokan harinya ia putuskan untuk menjenguk Viona dan baby Elzar, adiknya Dzakki yang baru saja pulang dari rumah bersalin setelah usai mengajar.
"Dzakki!"
"Ya, Bu?"
Dzakki sangat cerdas sekali. Anak itu bisa dengan cepat beradaptasi dan membedakan status keduanya di sekolah.
Ia memanggil Kartika Mama jika hanya mengobrol berdua. Tapi menyebutnya Bu Guru sewaktu mereka ada di lingkungan umum sekolah.
"Ibu mau ikut Dzakki. Kita pulang bersama, Oke?"
"Iyakah? Baik, Bu Guru!"
__ADS_1
Dzakki senang sekali. Hari ini Bu Guru kesayangannya yang akan menjadi Mamanya, mengajak pulang bersama.
Ia dengan sabar menunggu Ibu Gurunya itu membereskan peralatan kerjanya. Sampai mereka keluar dari ruang guru menuju gerbang sekolah.
"Dzakki di jemput kah?"
"Iya, Bu! Wa Kenken sudah menunggu di luar gerbang!"
"Oh. Kalau begitu Ibu bisa ikut menumpang Wa Kenken. Boleh ya?" tutur Kartika membuat putra sulung Viona itu mengangguk.
"Tentu, Mama!"
Kini mereka telah berada di luar wilayah sekolah. Dzakki pun merubah panggilannya pada Kartika. Spontan keduanya tertawa.
"Itu Wa Kenken!"
"Selamat siang, Bu Guru Kartika!" sapa Kenken dengan sopan.
"Panggil nama saja, Mas! Hehehe... saya boleh ikut menumpang ya? Ingin melihat baby Elzar Ghivaro yang setampan Dzakki Boy Julian!"
"Tentu saja boleh! Dan memang Elzar setampan Dzakki diwaktu bayi. Hehehe..."
Dzakki tersenyum malu-malu kucing. Kenken dan Kartika seperti senang menggodanya.
"Baby Elzar lebih tampan dari Dzakki, hehehe..." jawabnya mencoba merendah.
Kenken dan Kartika ikut tersenyum senang. Bocah imut yang kini menjadi kakak itu telah berubah makin dewasa. Dzakki benar-benar kebanggaan keluarga Suherman.
"Bagaimana persiapan pernikahannya Mbak Kartika?" tanya Kenken mencoba mengakrabkan diri pada Kartika, orang baru yang akan menjadi saudara barunya dalam waktu dua minggu lagi.
"Alhamdulillah, semua berkat Mbak Mutia dan Mbak Tini. Juga Maminya Dzakki serta semuanya, Mas... sudah mencapai delapan puluh persen. Tinggal sedikit lagi, semuanya beres."
"Syukurlah! Semoga lancar sampai hari H!"
"Aamiin...! Terima kasih doanya!"
Dzakki senang sekali. Ia duduk diam dan hanya menyimak obrolan ringan Kartika dengan Kenken.
Obrolan santai, tetapi membuat hatinya menghangat karena tali persaudaraan klan Bambang Suherman semakin mengerat diantara mereka.
__ADS_1
Semoga semua selalu terjaga atas izin dan ridho Allah Ta'ala. Begitu doa Dzakki selalu.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...