
Sudah bulat tekadku kini. Mengajukan perceraian segera ke Pengadilan Agama. Gugat cerai untuk suamiku adalah tujuanku.
Sakit hati ini telah ia duakan. Bahkan menikah lagi dengan seorang perempuan cantik yang tak lain dan tak bukan adalah teman akrabku di masa kuliah. Ini sungguh kejam.
Bahkan hanya dengan meminta cerai dan meninggalkan Herdilan dalam kehidupanku selanjutnya bagiku terasa tidak adil.
Terlalu mudah ia mendapat karma.
Sejujurnya aku memanglah wanita bodoh yang tak pandai dalam melakukan 'balas dendam'. Hanya cucuran air mata dan umpatan makian saja. Tak bisa melakukan apa-apa karena memang aku ini bukan perempuan pandai bermain peran.
Untunglah, Kak Jonathan mengatur semuanya. Walaupun bukan aku yang membalas dendam secara langsung, setidaknya... ada orang 'baik' yang mau membantuku dalam hal melampiaskan semua kekecewaanku dengan tekad bulat menghancurkan hidup mereka karena telah jahat padaku.
Setelah bolak-balik ke Pengadilan Agama dalam jangka waktu beberapa minggu ini, urusanku bisa terselesaikan.
Dengan di dampingi pengacara hebat dari bantuan kak Jo, aku berhasil mendapatkan surat perceraian tanpa ketok palu. Alasanku jelas dan tepat sasaran. Suamiku menikah lagi tanpa izinku. Bahkan ibu mertua malah menipuku serta, menutupi kenyataan dan malah menjadi saksi pernikahan kedua suamiku. Aku dan istri keduanya pun kini dalam keadaan hamil empat bulan. Sehingga aku mempercepat proses perceraian agar tiada lagi drama-drama keributan rumah tangga yang bisa membuat goncang jiwa serta psikisku.
Pak Hakim yang baik hati mempermudah langkahku. Akta surat perceraian telah dikeluarkan. Tinggal Herdilan tanda tangani dan kami sah cerai sebagai suami istri.
...........
"Viona! Ini apa?"
"Akta surat cerai kita, Lan!"
"Kamu beneran sudah mengurus semuanya?"
"Aku tahu kamu sangat sibuk! Selain harus mengurus PH Mamamu, kamu juga sibuk mengurus istri mudamu yang cantik jelita itu! Aku cukup pengertian bukan? Sebagai seorang mantan istri?"
Herdilan Firlando menatap netraku tak berkedip. Binar matanya kini kian meredup. Bahkan aura suram terpancar membuatku sedikit gelisah. Khawatir juga pada reaksinya yang tak bisa kuprediksi.
Kakiku melangkah mundur, ketika Delan memajukan kaki kanannya.
"Viona! Kuharap kamu hanya dalam keadaan yang tidak stabil hingga bisa melakukan ini padaku!" katanya masih tak percaya.
__ADS_1
Sejujurnya akupun tak kan mampu melakukan semua ini seorang diri. Karena aku adalah perempuan rapuh yang tak mengerti 'balas dendam'. Tapi ini masih belum sesuai dengan keinginan hatiku, Herdilan! Kau harus mendapatkan karma yang lebih kejam karena kejahatanmu yang luar biasa! Itu sumpah serapahku padamu di setiap mengingat momen-momen mungkin saja kalian tertawa terbahak-bahak membodohi aku!
"Tanda tangani itu, dan aku hanya akan meminta hakku saja! Aku tidak ingin terus menerus berada di sekitarmu!"
Hanya kalimat-kalimat itu yang mampu kukeluarkan dari mulut pahit ini. Lelah hati memikirkan semua kegundahan.
"Tidak! Aku tidak akan menandatanganinya. Sampai kapanpun!"
Dan Delan dengan tegas menolak.
"Semua sudah terjadi! Itu maumu khan? Kau sadar konsekuensinya menyelingkuhi aku khan? Tiada maaf untuk semua yang kesalahan fatal yang telah kau lakukan!"
"Tapi aku telah menjadi suami yang baik bagimu, Viona! Kau harus banyak bersyukur!"
"Aku selalu bersyukur pada Tuhanku!"
"Tapi kau justru mengambil keputusan bercerai tanpa kompromi lebih dulu denganku. Kamu mau hidup sama siapa sekarang? Mau bagaimana? Sedangkan Ayah Ibu sudah tidak ada? Kau harus bisa menerima takdir hidupmu. Diluar sana, banyak perempuan yang lebih miris dari kamu, tapi mereka tetap menerima takdirnya tanpa banyak keinginan dan gaya. Suami-suami mereka suka berjudi, main perempuan tak hanya satu,... mabuk-mabukan... bahkan tak benar dalam memberikan nafkah lahir juga batin!"
Guncangan ini membuat jantungku sakit. Pintarnya Herdilan Firlando memainkan kata-kata, seolah justru memojokkanku karena mengambil tindakan gegabah menurutnya.
Oh no! Seperti itu ternyata pemikirannya. Berselingkuh dan poligami tanpa sepengetahuan istri masih lebih baik kah menurutmu, mas Herdilan tersayang?
Aku hanya tersenyum getir. Menatap wajah pria 'tampan' yang dulu kubanggakan ternyata memandangku sebelah mata.
"Boleh aku tahu, apa kesalahanku hingga kau duakan aku dengan perempuan tak tahu diri itu?"
Herdilan merapat tubuhku. Berusaha meraih bahu ini agar terpeluk olehnya. Tapi kudorong segera karena aku tak ingin berdekatan lagi.
"Ini alasannya!" jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Kau terlalu angkuh dan jumawa!"
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanyaku sama sekali tak mengerti.
"Kau tidak peka! Kau kurang mampu melakukan peranmu sebagai seorang istri!"
"A-apa?"
"Kau jarang memulai duluan! Harus selalu aku yang lebih dulu melakukan pendekatan padamu! Kau perempuan dingin! Kau tidak punya perasaan yang halus dalam mencintai! Bahkan aku sendiri selalu ragu padamu, apa kau mencintaiku sepenuh hati? Apa hanya karena kedua orang tua kita hingga kau jadi terpaksa cinta padaku?!"
Aku terpaku, mendengar penuturan lugasnya.
"Lantas,... apa artinya diriku yang selalu menuruti semua perkataanku? Apa gunanya penantianku selama setahun ini? Setiap malam menunggumu pulang kerja, menyiapkan semua keperluan pribadimu, menyiapkan makan meski aku tak lihai memasak dan bukan aku juga yang masak. Aku... mengekormu! Mendengarkan semua ucapanmu tanpa banyak tanya dan mengeluarkan pendapat lain dari hati kecilku. Itu karena aku sadar sepenuhnya,... kamu adalah suamiku. Dan aku mencintai suamiku yang sudah bekerja keras mencari nafkah dari pagi hingga malam untukku. Walau aku tak tahu pasti berapa gaji suamiku karena urusan keuangan tak pernah kau bagi kesusahannya denganku. Itu apa menurutmu?"
Blegeerrrrr! Duarrrr...
Bagai petir kilat yang saling menyambar.
Kami berdua saling adu argumen dengan banyak kata dan kalimat pembelaan diri sendiri. Yang intinya, tiada yang sudi mengakui kesalahan masing-masing.
Apakah aku juga salah? Atau dia sepenuhnya yang salah?
Apakah aku belum sepenuhnya dia anggap sebagai istri yang baik?
Lalu apa si Lady itu dia anggap 'pelengkap' yang baik? Begitukah? Atau perempuan kelas atas itu melakukan kewajiban suami istri dengan benar pula? Atau memang hanya sebagai ban serep di atas ranjang saja?
Shiit, shiiit shiiiiit!!!
Aku hanya bisa menangis keras ketika pria tak berperasaan itu pergi keluar rumah besar Mamanya.
Ya. Aku mengantarkannya langsung kerumah mama Tasya.
Berharap semua mengetahui langkah yang kuambil termasuk mama Tasya juga Lady Navisha.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1