
"Ini yang sangat aku takutkan sedari awal!"
Semua menatap wajah Christian yang nampak suram. Wajahnya lusuh, hatinya remuk redam.
Perjalanan hidup almarhum Papanya kembali jadi sorotan. Bahkan... kini lebih terdengar menyakitkan karena kisahnya jadi sangat menyeramkan dibibir banyak orang.
"Dasar netizen maha benar!" rutuk Fika geram.
"Bukan. Tapi hanya Allah lah Yang Maha Benar!" ralat Christian membuat adik perempuannya hanya mendengus kesal.
"Hhh...!"
Viona pucat pasi, ia kini benar-benar merasa hidupnya kembali kepada masalah lima tahun lalu. Ketika ia sangat galau dan gamang untuk memilih memulai rumah tangganya dengan Roger.
Nasib membawanya berada selalu dalam pusaran klan Bambang Suherman. Membuatnya kini seolah sangat terpojok dengan keputusannya menjadi istri Roger Gibran Suherman.
Viona benar-benar ambruk mentalnya. Digojlok sana sini, dighibah sebagai perempuan yang tak memiliki hati.
Bahkan orang menuduhnya sebagai perempuan gampangan yang sangat mudah jatuh cinta hingga menikah lagi dengan kakak tiri dari mantan suami.
Itu adalah tuduhan yang membuat Viona terpuruk.
Walau ia sendiri ketika mengatasnamakan diri sebagai orang luar yang hanya bisa melihat dari tampilan saja, pasti juga akan berfikir seperti itu.
Tapi ini..., ia adalah pemeran utama hingga terjadinya kecarut-marutan kehidupannya kini.
Apakah ini murni kesalahannya sendiri dalam menentukan pasangan hidup serta belahan jiwa?
Apakah salah jika ia ternyata mendapatkan jodoh lagi yang sangat luar biasa sedangkan status sang suami kini adalah kakak tiri dari mantan suami terdahulunya?
Viona hanya bisa menangis dalam diam. Suaranya kini bahkan menghilang, meskipun hanya untuk sekedar berdiskusi dengan keluarga besar sang suami.
"Ini semua salahku! Ini semua salahku, Kak! Andaikan aku tidak menerima cinta Mas Roger, dan lebih memilih menikah dengan orang lain... mungkin jalan ceritanya tidak akan seperti ini!"
Semua terkaget. Akhirnya Viona mengeluarkan semua uneg-uneg namun dengan perasaan bersalah yang sangat besar.
Roger berusaha menenangkan psikologis istrinya yang memang agak rentan. Terlebih, Viona saat ini sedang mengandung calon anaknya.
"Yang! Istighfar, Yang!" bisik Roger setelah dapat memeluk erat tubuh sang istri. Airmatanya ikut menetes. Mengalir perlahan karena ia juga merasa bersalah besar.
"Aku..., aku juga adalah lelaki yang tak tahu diri! Aku mencintaimu sepenuh hati. Aku tidak pernah melihat asal-usulmu dan juga masa lalumu! Aku yang paling bersalah. Bukan kamu!"
Roger mencoba menatap legamnya bola mata Viona yang penuh riak kecemasan.
__ADS_1
"Aku! Aku yang lebih bersalah, Mas! Aku ini seperti perempuan murahan! Aku tidak punya perasaan! Tidak memikirkan masa depan yang akhirnya justru menjadi seperti sekarang ini! Hik hik hiks!"
"Aku yang paling bersalah! Andai dulu aku tidak terpikat pada pelakor biadab bernama Lady Navisha,... keluarga kecilku tidak akan hancur berantakan!!!"
Semua menoleh ke arah Herdilan. Wajahnya merah, bibirnya bergetar. Ia merasa semua ini adalah kesalahan fatalnya.
"Stoooop!!!"
Christian berteriak keras.
Wajahnya tegang dan terlihat sangat bagaikan singa yang sedang lapar.
Suasana di pendopo langgar pesantren Suryalaya tempat keluarga besar almarhum Bambang berkumpul seketika hening.
Hanya butiran-butiran air mata yang jatuh disetiap individu yang hadir di riungan itu.
"Sudah selesai main salah-salahannya?" tanya Chris kemudian.
Suasana masih tampak hening. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan kakak sulung mereka.
"Haruskah kita juga menyalahkan almarhum Papa yang kini sudah tenang di alam baka? Haruskah?... Haruskah kita kembali mengorek-ngorek langkah masa lalunya yang kita anggap suatu aib yang akan terus mengikuti jati diri dan status kita kemana pun kita pergi? Harus kita bongkar kuburnya Papa dan menghakiminya sekali lagi karena ini seperti sebuah karma yang menjadi suatu kutukan turun temurun?"
Semua diam.
"Ini semua telah terjadi! Ini semua telah menjadi suratan kisah hidup kita semua!!! Dan andaikan aku bisa memilih,... aku pun tak ingin menjadi putra sulung Papa Bambang Suherman! Aku juga tidak ingin menjadi kakak kalian semua! Yang bisanya hanya menangis dan mengeluh soal kehidupan!!!"
Semua menunduk semakin dalam.
Berlinang airmata.
Dengan tangan menyusut butiran bening dan lelehannya yang turun membasahi hidung.
Semua tak bisa berkata apa-apa. Bahkan hati mereka hanya bisa terdiam. Tak berani berkomentar.
"Aku sudah sangat bahagia, memiliki kalian sebagai adik. Aku sangat berterima kasih pada Allah, yang akhirnya menguatkan hubungan kita satu sama lain. Sehingga kita bisa ada ditahap seperti sekarang ini. Tahap yang harusnya semakin mengeratkan tali persaudaraan kita yang dulu tak pernah ada!"
"Mas..."
"Aku sangat bahagia, ternyata Allah memberi kita banyak cobaan dan kita bisa lalui itu semua. Kita semua, telah mendapatkan keberkahannya. Tapi apakah kini kita harus kembali ke masa lalu, masa dimana semua orang saling menyalahkan diri sendiri, terpuruk dan pergi melarikan diri hingga tali yang selama ini menguat perlahan lepas dan menghilang?"
"Peduli omongan orang! Peduli mulut pedas masyarakat diluar sana yang tahunya menghujat dan menghujat! Apa untungnya? Justru membuat kita jadi lemah dan menjauh dari rasa bersyukur kita pada Tuhan!!!"
Chris seketika menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Kini ia yang merasa sangat sesak. Beban dijiwanya teramat berat.
Adik-adiknya semua dalam keadaan terhempas dan jatuh karena kecaman dan omongan orang diluaran sana.
Bahwa mereka adalah keturunan dari orang yang tak bermoral. Bahwa mereka adalah keluarga yang abnormal.
Bahkan orang menilai mereka sebagai manusia yang rendah iman. Bermain-main dengan kehidupan. Tak beradab meskipun memiliki pendidikan dan harta.
Sangat menyedihkan.
Begitu orang menilai keluarga mereka diluaran sana.
Media elektronik membombardir fisik serta mental mereka semua. Menjadi orang yang sangat bersalah dan sangat menyedihkan. Bahkan ada sebuah lembaga yang mengatasnamakan moralitas pun mengelitik mereka untuk buka suara dan melakukan taubatan nasuha dan menyerang keluarga besar mereka di media massa.
Christian nyaris tak mampu bertahan dari gempuran.
Selain kondisi kejiwaan semua anggota keluarganya yang down, juga tindakan masyarakat menghujami mereka dengan kata-kata dan perlakuan menyakitkan. Membuat semua anggota keluarga bagaikan hidup terisolasi.
Bersyukur masih ada keluarga lain yang bersedia menampung dan memberi tempat pada mereka.
Pesantren kecil yang terpencil menjadi tempat pelarian mereka sementara.
Herdilan ikut Fika ke Singapura. Beruntung Fika tidak terlalu menjadi sorotan karena kini ia berdomisili di negara Singa itu. Sehingga Chris memerintahkan Herdilan untuk sementara mengungsi ke tempat Fika tinggal.
Ia dan Mutia, juga Roger serta Chris juga anak-anak, sementara ini tinggal di Suryalaya.
Tempat yang tenang, damai dan jauh dari keramaian ibukota. Bahkan tidak ada televisi juga sinyal internet yang menjadi pengantar berita yang menyakitkan mata, telinga serta hati mereka.
Verrel, Velli dan Dzakki untuk sementara waktu off dari sekolah. Mereka kini lebih memperbanyak ilmu agama dengan sembahyang dan tadarus di pesantren yang adik kandung Mutia diami kini.
Pesantren itu memang tidak sebesar pesantren lainnya yang tersebar di pelosok Suryalaya.
Hanya pesantren kecil dengan belasan santri. Kebanyakan mereka adalah anak yatim piatu yang sengaja berlindung dan bergantung kepada Abah serta Nyai pemilik pesantren.
Abah memiliki sawah yang luas. Itu sebabnya para santri dan ustad yang berada di sana cukup mengolah sawah miliknya sehingga hasilnya bisa untuk makan dan biaya hidup sehari-hari yang penuh dengan keterbatasan.
Christian adalah donatur tetap pesantren itu sejak Wildan menjadi salah satu muridnya belasan tahun lalu.
Kini mereka berbaur bersama di tempat yang jauh dari gedung-gedung dan kendaraan mewah yang lalu lalang di jalan raya.
Hanya dusun kecil dengan penduduk yang hanya kurang dari seratus jiwa saja. Tapi mereka hidup tenang dan tenteram.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1