PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KEANEHAN BERLANJUT PART 2


__ADS_3

Dzakki pulang kerumah setelah cairan infusannya telah habis dan dokter tidak menemukan suatu virus penyakit yang terdeteksi membahayakan tubuhnya.


Bahkan darah segar tak mengucur sama sekali dari seluruh indera milik Dzakki.


Lusa Dzakki diwajibkan kembali ke RSUD untuk general check up. Supaya dapat mengetahui perkembangan kesehatannya.


Christian tetap mendampingi sang ponakan meskipun saat ini ia sedang banyak kerjaan. Dan ikut mengantar Dzakki sampai ke rumah almarhum Jonathan Lordess.


Sementara Wali Kelas Dzakki dan pak Kepseknya kembali ke rumah masing-masing setelah mereka berpamitan.


"Dzakki!"


"Ya Papa Chris?"


"Papa Chris minta, Dzakki jangan sok jagoan melawan hal-hal yang berbahaya seoerti itu. Ingat! Dzakki memiliki Mami dan juga Ayah yang pastinya mencemaskan kamu. Bisa Dzakki mengerti ucapan papa Chris?"


"Iya, Pa! Maaf... Dzakki, kasihan lihat Ibu Kartika! Dia... dia ada dalam sandera gondoruwo itu!"


"A apa Dzakki? Dzakki bicara apa sih?"


Viona yang tanpa sengaja mendengar percakapan Dzakki dan Chris ketika ia masuk kembali kamar putranya langsung bereaksi.


"Tidak, Viona! Dzakki dan aku hanya sedang bercanda!" Chris langsung menghandle ucapan Dzakki. Berusaha menenangkan Viona dan mengalihkan pembicaraan.


"Tadi Dzakki koq seperti ngomong...genderuwo. Apa? Apa Aku salah dengar?"


Roger yang baru masuk hanya celingukan, bingung melihat kepanikan Viona yang jelas tergambar di wajah manisnya.


"Ada apa, Sayang?" tanyanya seraya merangkul tubuh Viona dari belakang.


Chris memberi isyarat, agar Roger mencoba membawa Viona keluar sebentar dari kamar Dzakki.


"Dzakki lihat sendiri khan? Mama Dzakki sangat cemas dan nyaris histeris. Dan lagi, hal goib itu memang ada. Dan memang sudah pasti kalah dengan kekuatan Allah Ta'ala. Tapi,... Dzakki masih teramat muda untuk menantang makhluk goib itu. Takutnya, Mami Viona yang tidak mengerti, Ayah Roger yang tak faham masalah supranatural, mereka jadi terlibat kedalam lingkaran urusan Dzakki yang tidak main-main pada makhluk itu. Dzakki mengerti maksud Papa Chris?"


Dzakki hanya menelan ludahnya.


Bocah itu kini baru terbuka fikiran dan pintu hatinya. Maminya sedang mengandung adik yang sangat ia idamkan.


Dan tadi saja Dzakki nyaris terluka karena dicekik makhluk jelek yang hitam, tinggi besar itu karena tak suka padanya. Dzakki dianggap terlalu ikut campur dan dikhawatirkan memutus hubungan yang tak seharusnya terjadi antara makhluk besar itu pada ibu Guru cantiknya.


Chris mencoba meniupkan doa-doa pada ubun-ubun Dzakki Boy Julian.


Ia kemudian keluar kamar setelah mencium kening sang ponakan dan pamit kembali pulang ke rumahnya.


"Roger!"


Chris menemui adik kandungnya. Matanya menatap tajam Roger. Dan Roger seolah mengerti maksud sang kakak.


Mereka berjalan beriringan keluar ruang makan menuju ruang tamu.


"Viona! Aku pamit pulang!"


"Makan dulu, Kak!" suara Viona dari pintu dapur.


"Lain kali saja!"


"Kak, salam untuk kak Mutia dan anak-anak ya?"


"Oke. Pamit ya?"


"Yang aku antar kak Chris sampai gerbang dulu ya?" izin Roger pada sang istri.

__ADS_1


"Iya, Sayang! Maaf... Aku masih pegang adonan ini. Gak bisa ikut antar kak Chris keluar!"


"Ga papa, Vi!" sela Christian menjawab permintaan maaf sang adik ipar.


Roger mengikuti langkah Chris.


"Ger!... Titip doa untuk Dzakki!"


Mendengar permintaan sang kakak, hatinya langsung merasa. Bahwa telah terjadi sesuatu yang cukup serius pada Dzakki sampai Christian berkata seperti itu.


Roger menahan langkah Christian. Kepalanya menoleh ke arah dalam rumah. Memastikan sang istri tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Kak! Ada apa dengan putraku?" tanyanya was was.


"Setidaknya doa kalian sebagai orangtua adalah suatu kekuatan bagi Dzakki dalam melangkah!"


"Maksud Kakak?"


"Dzakki..., saat ini sedang ada masalah dengan makhluk lain ciptaan Allah Ta'ala."


"Maksud kakak itu apa sih? Kalo ngomong yang jelas, napa?"


Roger kesal. Dihentaknya tangan Christian.


Dan Chris hanya bisa menghela nafas panjang.


"Dzakki bisa melihat hal gaib. Dan dia sedang berusaha untuk membantu seseorang yang menurut anakmu itu perlu dibantu. Padahal orang yang dibantunya sendiri tidak faham dan tidak meminta bantuan sama sekali."


Roger mematung, bingung.


Ia masih mencoba menela'ah ucapan kakaknya yang diluar logika.


Chris mengangguk.


Roger mulai konek. Ia menatap kedua bola mata sang kakak.


"Lebih seringlah meniupkan asmaul husna pada anakmu setiap malam dan perbanyak dzikir surat-surat pendek juz 30. Tiupkan selalu pada keseluruhan anggota tubuhnya. Dan untuk saat ini, jangan biarkan Dzakki tidur sendirian! Dia dalam pengintaian makhluk tak kasat mata itu!"


Dug dug dug


Jantung Roger seperti dipukul bedug bertalu-talu.


"Kamu sedang menakut-nakutiku khan?"


"Hei,... apa aku sedang dalam mode on becanda?"


Roger menelan saliva. Christian masuk ke mobilnya sembari melambaikan tangan.


Tinggallah Roger sendirian dengan raut muka tegang.


Pria dewasa berumur 36 tahun itu masuk segera ke dalam rumah. Tujuan utamanya kini adalah sang anak yang sedang terbaring sendirian di ranjang kamarnya.


"Dzakki!"


"Iya, Ayah!"


"Kita duduk di luar rumah yuk?" ajak Roger sembari menuntun tangan putranya.


Dzakki menurut.


"Mamiii...! Boleh kami minta sepiring buah dingin?" Roger berteriak kepada Viona yang masih sibuk di dapur menyiapkan makan malam bersama Tini.

__ADS_1


"Oke, Boss! Delivery order siap meluncur!" canda Viona dari balik sekatan pintu dapur.


Tini tertawa mendengar jawaban Viona. Ia dengan sigap mengambil semangka, melon, pisang ambon, buah naga, pear dan juga anggur hijau.


Mengupas satu persatu kulit buahnya kecuali anggur. Memotong, mencucinya dengan air bersih dari dispenser. Lalu menatanya dalam piring keramik datar besar yang berwarna putih.


Lalu memberikannya pada Viona untuk dibawa gazebo halaman belakang rumah mereka.


"Pesanan datang, tuan muda yang tampan!" goda Viona sembari menjawil dagu sang putra.


"Terima kasih, Mami!" kata Roger dan Dzakki berbarengan. Gelak tawa pun terdengar dari mulut ketiganya.


Mereka pun asyik makan buah bersama.


"Dzakki tidak merasa sakit apapun khan?" tanya Viona, menyelidik sang putra.


"Tak ada, Mami!"


"Kalau ada yang sakit, langsung bilang ya? Jangan diabaikan!"


"Iya."


Roger tak banyak bicara. Fikirannya masih tertuju pada ucapan sang kakak.


"Mulai malam ini, Mami dan Ayah akan tidur bareng Dzakki!" kata Roger akhirnya.


"Kenapa, Yah? Dzakki tidak apa-apa koq, Yah! Dzakki bisa tidur sendiri juga. Mami sama Ayah gak perlu terlalu khawatir!"


"Ayah sama Mami memang mau tidur bareng Dzakki memangnya gak boleh ya? Apa Dzakki sudah punya pacar?" goda Roger dengan senyum menyeringai.


"Pacar itu apa, Ayah?"


Roger tertawa. Ia baru menyadari kalau Dzakki masih sangat polos dan kurang faham dunia luar. Yang di jaman kini bocah-bocah ingusan sudah tahu pacaran.


....


Pukul sebelas malam.


Mereka tidur bertiga di atas ranjang tidur kamar sang putra.


Dzakki dan Viona sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Namun tidak pada Roger.


Ucapan Christian terngiang-ngiang selalu.


Sesekali Roger memandangi wajah polos Dzakki yang terlelap di tengah-tengah dia dan Viona.


Roger mengusap lembut wajah tampan putra asuhnya. Bingung dan kagum karena Dzakki memiliki kelebihan, kata sang Kakak.


Brak!!!


Roger tersentak. Ada suara sangat keras berasal dari ruang tengah rumahnya. Seperti ada benda besar jatuh dari atas menghantam lantai keramik.


Ia langsung bangkit. Bergegas keluar kamar.


Ternyata bukan hanya Roger saja yang mendengar suara keras. Tapi Kenken juga. Mereka berdua berbarengan keluar dari kamar masing-masing.


Keduanya saling pandang. Lantas berjalan mencari asal muasal suara itu.


Tapi tak ada tanda-tanda apapun. Membuat Roger dan Kenken saling berpandangan.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2