PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 CRISTIAN YANG MELEMAH


__ADS_3

"Papa Chris!"


"Ya, Dzakki? Kamu belum tidur?"


Dzakki menggeleng.


Chris menatap wajah lembut keponakannya itu. Dzakki semakin terlihat dewasa. Juga kedua putra-putrinya. Keadaan semakin membuat ketiga bocah itu menjadi lebih pengertian.


"Tidurlah! Hari sudah larut malam!"


"Kapan kita pulang ke Jakarta, Pa?"


Christian hanya bisa mengusap pipi Dzakki.


"Sabar, ya? Kamu sudah tidak kerasan tinggal disini ya, Dzakki?"


"Bukan tidak kerasan. Tapi Dzakki takut ketinggalan pelajaran, Pa! Dan... sepertinya situasi mulai aman sekarang! Tadi kak Velli nangis. Kak Velli kangen teman-teman sekolahnya. Apa... kita akan terus menetap di sini, Pa?"


"Papa mengerti sekali perasaan kalian, Dzakki! Bersabarlah, Nak! Kita akan pulang ke rumah kita nanti. Pasti! Percayalah pada Papa Chris!"


Dzakki menatap wajah Christian. Jemari mungilnya menarik tangan Chris. Dan seketika Chris terkejut pada frame yang baru saja melintas di otaknya.


Dzakki membagi penglihatannya.


"Kita sudah bisa kembali pulang, Pa!" katanya pelan.


Dzakki memahami ketakutan yang ada di jiwa Chris. Bahkan ia pun sempat down menerima kenyataan pahit, kalau masyarakat luas begitu membenci keluarganya yang aneh tapi nyata itu.


Ia takut juga, jika mereka kembali ke ibukota... mereka akan dihabisi seketika.


"Kita bisa kembali memulai hidup baru, Pa! Dengan perasaan yang baru, dan juga usaha yang baru. Iya khan?"


"Hehehe... Iya, betul! Dzakki pintar, tapi bolehkah Papa Chris menghela nafas sejenak? Papa... juga manusia biasa. Papa bisa rapuh dan jatuh. Papa Chris takut sekali, tak bisa bangkit seperti dulu lagi. Semua telah hancur dan musnah karena Kehendak Allah juga. Papa sangat mengerti itu! Tapi... disini Papa mendapatkan ketenangan yang sejati. Uang, harta tak jadi patokan kita hidup bahagia. Makanan sederhana, semua yang serba seadanya,... justru menjadikan kita pribadi yang lebih kuat, yang tidak terlalu berambisi dalam mengejar mimpi...sampai kita lupa diri dan menyakiti sesama karena rasa iri hati juga dengki."


Dzakki mendengarkan keluh kesah hati Christian.


Bocah itu sengaja diam tak menjawab. Sengaja membuat Chris mengeluarkan semua uneg-unegnya hingga tiada lagi kekecewaan yang tersisa.


Dzakki ingin Christian kembali fight dengan jiwa kepemimpinannya mengatur dan menyokong keluarga besar mereka penuh supportnya.


Christian benar-benar terbantu oleh percakapan ringan antara dirinya dan Dzakki di malam pukul sepuluh itu.


Hingga akhirnya ia bisa merehatkan tubuh serta fikirannya dengan hati tenang karena bebannya mulai berkurang.


.............


Kukuruyuuuuk


Kukuruyuuuuk


Ayam jago berkokok silih berganti. Pertanda mentari menjelang pagi.


Pukul empat dini hari...


Kiya dan para ustad serta santri-santri perlahan bangun dari tidur nyenyaknya.


Begitu juga Christian dan Mutia, Viona-Roger.


Mereka bangun bersamaan seraya menuntun putra-putri mereka yang masih dalam kondisi mengantuk parah.

__ADS_1


Suara adzan dan juga cipratan air wudhu akhirnya membuat mereka kembali segar dan terpacu untuk memulai aktifitas keagamaan.


...


"Kak...! Aku dan Viona akan pergi dulu ke kota. Istriku wajib kontrol ke bidan kesehatan. Kandungannya kini masuk usia tujuh bulan. Tinggal dua bulanan lagi, Viona akan lahiran!" kata Roger pada Christian.


"Iya. Pergilah! Aku masih akan tetap di sini sampai suasana hatiku kembali tenang!"


Mutia menunduk. Sebenarnya ia pun ingin mengajak Chris kembali ke ibukota.


Sekolah putra-putrinya jadi terbengkalai meskipun Verrel Velli mendapatkan bonus pelajaran Agama yang cukup menggembirakan, tetapi banyak hal lain yang juga butuh perhatian darinya di ibukota. Yakni bisnis konfeksinya yang sebulan ini ia tinggalkan.


Chris menoleh pada Mutia.


Ia merasakan aura kegelisahan istrinya.


Chris meraba jemari tangan Mutia. Batinnya sedih, telapak tangan sang istri kini sedikit berbeda. Lebih kasar dibanding ketika hidup di kota.


"Roger!..."


"Ya, Kak?"


"Bawalah anak dan istriku serta! Aku titipkan mereka padamu!"


"Mas? Mas... menyuruhku dan anak-anak kembali ke ibukota tanpa Mas?"


"Pergilah ikut Roger dan Viona, Lody! Tinggallah sementara disana sampai aku kembali dan bisa membeli rumah kembali!"


"Mas!"


"Kumohon...! Jagalah anak-anak kita dengan baik! Aku..., masih ingin tinggal di sini untuk beberapa saat lagi!"


"Tapi anak-anak butuh dirimu. Mereka harus kembali sekolah, setelah hampir sebulan libur tanpa izin pihak sekolah."


"Mereka juga membutuhkanmu!"


"Lody,... tolong fahami aku. Untuk kali ini, kuminta pengertianmu!"


Mutia masuk kedalam bilik kamarnya. Menangis tak mau mengindahkan permintaan Christian.


Sementara Roger dan Viona jadi bingung dengan situasi ini. Mereka memang bertekad untuk kembali ke kota mengingat perut Viona yang semakin membesar dan hampir dua bulan lagi mendekati persalinan.


Verrel mendekati sang Mama.


"Ma! Ada baiknya kita pulang dulu ke kota. Nanti minggu depan kita kembali jemput Papa!" bujuk putra tampannya bijaksana.


"Engga'! Mama tidak akan pulang tanpa Papa! Mama akan terus di sini jika Papa juga masih ingin di sini!"


Christian hanya bisa menghela nafas panjang.


Ia memilih pergi ke sawah membantu para santri yang sedang menandur tanaman padi. Ini sudah saatnya setelah minggu kemarin mereka membajak tanahnya dengan bantuan beberapa kerbau milik Abah.


Chris memberi pesan pada Roger sebelum ia pergi, agar tetap pulang ke kota bersama Viona juga Dzakki.


Ia masih ingin tetap di sini untuk saat ini.


Verrel dan Velli menangis, melihat saudara sepupunya itu pulang ke kota bersama kedua orang tuanya. Kedua anak kembar itu juga ingin kembali ke kota, namun harus lebih bersabar menahan diri karena sang Papa yang masih belum mau beranjak pergi. Sementara Mamanya pun tak mau pergi tanpa Papanya.


"Maaas! Maaas Chriiis!!!"

__ADS_1


Chris mendengar panggilan keras sang istri yang terlihat melambai-lambaikan tangannya di galengan pinggir sawah.


Mutia nampak pucat pasi. Wajahnya basah dengan cucuran keringat dingin.


Chris segera berjalan cepat, menuju Mutia dengan meninggalkan saung bambu tempatnya duduk merenung sembari menikmati pemandangan alam persawahan yang hendak ditanami padi.


"Kenapa, Yang?"


"Verrel Velli ga ada sejak sejam lalu!" kata Mutia dengan suara gemetar.


"Kemana???"


Chris ikut pucat. Istrinya langsung menangis terisak.


"Gak tahu!"


"Apa...mereka ikut Roger dan Viona?"


"Ga, Mas! Tadi masih ada sama aku di kamar setelah Viona dan Roger pergi membawa Dzakki. Malah Verrel Velli masih menangis di sampingku minta ikut pulang ke Jakarta!"


Christian segera pulang ke pesantren tempatnya tinggal.


Ia mencoba mencari putra-putrinya ke semua penjuru pesantren. Memasuki kelas santri dan menanyakan keberadaan anak-anaknya, siapa tahu ada mengetahui.


Namun... nihil. Semua menjawab tidak tahu.


Hingga Nyai menarik tangan Mutia sembari menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


"Ssstt... Mereka sedang mendengarkan dongeng Abah di kamar, dan tuh... sampai ketiduran gitu!"


Christian menghela nafas lega. Hampir tadi ia menyalahkan dirinya sendiri yang sedang lemah sampai anak-anak dan istrinya nyaris jadi korban.


Mutia dan Chris kini bisa bernafas lega. Putra putri mereka sedang tidur setelah mendengarkan wejangan lewat dongengan Abah yang sudah mereka anggap kakek sendiri itu.


"Mas...! Apakah kamu masih ingin terus terpuruk dengan semua permasalahan yang menghampiri kita?" tanya Mutia padanya. Membuat Chris hanya bisa menunduk lesu dengan wajah kaku dan membisu.


"Mas...! Bangkitlah! Kita sudah hampir sebulan melarikan diri dari masalah ini. Tidakkah kamu ingin membela dirimu dan keluargamu di khalayak umum?"


"Apa... aku perlu melakukan itu, Yang?"


"Tentu saja!"


"Haruskah kita juga mengatakan pada semua orang, kalau kita tidak bersalah dan tidak menyalahi aturan yang ada?"


"Harus!"


"Begitukah? Bukankah jika kita mencoba menjelaskan sedangkan orang tak faham pada kejadian yang menimpa keluarga kita, justru akan membuat kita secara tidak langsung membuka aib kita sendiri? Biarlah, Yang! Aku hanya membutuhkan waktu dan juga kebaikan Allah Ta'ala saja. Aku hanya, saat ini sedang kurang baik perasaannya!"


"Mas, bangkitlah! Semangatlah!... Aku percaya kamu bisa lebih baik lagi dan bahkan lebih baik dari kemarin! Tuhan menguji kita untuk sesuatu yang semakin indah pastinya. Kenaikan derajat kita, mungkin!"


"Aamiin...! Maafkan aku yang sedang dalam fase lemah ini, ya? Kumohon, tunggu sampai lusa. Aku pasti akan membawamu dan anak-anak kembali ke kota! Hanya saat ini, aku seperti sedang belum ingin beranjak dari desa yang indah ini. Aku masih ingin mendekatkan diriku pada sang Kholiq. Betapa aku telah kufur dan kurang rasa syukur. Sehingga dengan mudahnya hatiku hancur hanya karena satu ujian ini, Yang! Aku sangat bersyukur, memilikimu. Yang selalu setia mendampingiku dalam situasi apapun. Terima kasih, Yang!"


Chris merengkuh bahu Mutia. Kedua berpelukan dengan gejolak perasaan yang campur aduk tak karuan.


Berharap besok lusa kaki mereka melangkah dengan tenang, menuju keberkahan serta di jalan kebaikan.


Itu pinta hati kecil Mutia dan Christian.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2