
Treet... treet... treet
Asistenku menelpon.
"Ya, hah? Apa kamu bilang??"
Butik dan rumah Viona sudah dijual? Kenapa? Mau kemana Viona?
"Hei...! Jangan dulu menghabisi lelaki itu!" teriakku pada beberapa preman yang sudah siap untuk mencegat Firman Setiawan.
"Kenapa, Boss? Kami sudah stand bye ini! Masalah nyawa melayang, sudah dipastikan itu orang!"
"Jangan dulu! Masih ada hal lain yang harus kuselidiki! Pending dulu buat gebukin tuh orang! Tunggu perintah dariku beberapa hari lagi!"
Aku penasaran. Langkah apalagi yang akan Viona ambil.
Mantan istriku itu sudah menjual butik mamaku dan juga rumah papa. Dia pasti akan pulang ke rumah orangtuanya yang kini kosong melompong tak berpenghuni.
Aku masih menyuruh asistenku untuk terus mengintai gerak-gerik dari Viona Yuliana.
Apa jangan-jangan Viona akan segera menikah dengan si Firman? Apa uang hasil penjualan butik dan rumah akan ia gunakan untuk buka usaha dengan lelaki parasit itu? Haish!!! Kalau iya, bodoh sekali mantan istriku ini!
Padahal ia jangan terlalu naif bercerai denganku dengan alasan tak mau dimadu. Malah lebih memilih si Firman, jurnalis miskin yang tak punya apa-apa itu. Masih lebih mending aku, walau harus dimadu pun posisinya tetap yang nomor satu! Hhh... Viona, Viona! Dasar perempuan tak tahu di untung!
Akhirnya rencana pembantaian Firman malam ini gagal. Aku masih harus mengintai Viona dan juga Firman. Hingga...
Treeet... treeet... treeet
Nyonya Kedua is calling.
Lady menelponku.
...[Mas! Kamu dimana? Ini jam berapa? Lupa jalan pulang? Atau masih mengejar istrimu yang sudah menceraikan itu?]...
Lady memberondongku dengan pertanyaan yang menyebalkan.
Klik.
Kumatikan panggilan teleponnya.
Malas mendengar makian dan juga sumpah serapah wanita itu. Hhh...
Treeet... treeet... treeet
My Mom is calling.
Kini mamaku yang menelpon.
"Hallo, iyaaa... aku pulang sebentar lagi! Kalian ini ga sabaran amat sih!? Aku juga butuh privacy buat kumpul sama temen-temen aku, Ma! Please... jangan bikin aku makin kesal sama kalian!"
...[Delan... Hik hik hiks... Delan, pulang... mama butuh kamu, Nak!]...
__ADS_1
"Mama?!? Ada apa? Kenapa Ma?"
...[Mama dilaporkan sepupu Mama dengan tuduhan pembunuhan berencana!]...
"What??? Siapa yang melaporkan Mama? Ini pukul sepuluh malam. Mana ada orang bikin laporan selarut ini?"
...[Pulang dulu, please...! Tolong mama! Hik hik hiks...]...
"Ya, aku pulang!"
Klik.
Hhh... Ada apa lagi ini? Siapa juga yang menuduh mama ngasal begitu? Sepupu yang mana pula?
"Boss, gimana rencana kita?"
Plak.
Satu tamparan dariku sebagai jawaban pada salah satu preman bayaranku.
"Sudah kubilang pending, ya pending! Nanti kuhubungi lagi! Awas,... aku harus segera pulang!"
Kutancapkan mesin mobil, nge-gas. Balik kerumah besar mama.
Dirumah keadaan ternyata kacau balau dengan banyaknya perabotan ruang tamu yang hancur berantakan.
"Ada apa, Ma?"
Aku hanya bisa mencoba bersabar. Membiarkan mama menangis keras dalam pelukanku. Sementara Lady yang duduk di kursi sofa dengan mata melotot kesal dan bibir seksinya yang manyun.
"Ada apa, Ma? Coba jelaskan, ada permasalahan apa?" tanyaku dengan pelan. Mencoba menenangkan mamaku yang kacau.
"Mama dikirimin surat panggilan dari pak Tarigan S.H!" sela Lady.
"Maksudnya surat panggilan dari kepolisian?"
"Iyalah. Bukan surat panggilan dari Yang Kuasa pastinya!" jawaban Lady membuatku sesak.
Deg.
Beraninya dia bilang begitu seolah itu kata-kata guyonan yang pantas dikeluarkan di saat mama sedang dalam kondisi seperti ini!
"Ma! Coba jelasin dulu sama aku, apa maksudnya!"
"Tania melaporkan Mama! Menuduh Mama hendak melakukan pembunuhan berencana padanya! Hik hik hiks..."
"Tania? Tania siapa?"
"Sepupu Mama! Mamanya Christian yang punya anak kembar itu lho!"
"Tante Tania? Memang Christian itu anaknya siapa? Anak istri pertama papa Bambang khan? Yang istrinya sudah melahirkan padahal baru lima bulan usia pernikahannya?"
__ADS_1
Kulihat wajah mama pucat pias.
Aku ingat mama punya sepupu dua. Tante Tania dan om Lordess.
Sejak usiaku sepuluh tahun, Mama tak pernah lagi mengajakku menyambangi rumah mereka yang ada di bilangan Menteng Raya.
Kata Mama mereka sudah pindah rumah. Dan om Lordess saja yang masih kutahu memiliki komunikasi jarak jauh dengan Mama. Karena om Lordess tinggal di Kuta Bali.
Tante Tania... jujur wajahnya saja aku lupa-lupa ingat. Yang bagaimana dan seperti apa orangnya.
Aku hanya ingat, sewaktu wajahku hancur berantakan kena petasan di umur 15 tahun kala itu. Om Lordess lah yang membantuku sampai di bawa operasi ke Korsel dan tinggal di sana selama satu bulan.
Tante Tania,... aku malah tak ingat kapan terakhir kali bertemu dan di ajak Mama.
"Ma?!"
"Tania, sepupu Mama!"
"Kakaknya om Lordess?"
"I-iya!"
"Kenapa menuduh Mama dengan sangat kejam sampai langsung buat laporan kepolisian? Apa ga bisa dibicarakan kekeluargaan? Apalagi ini sudah termasuk fitnah, Ma! Kapan Mama terakhir kali ketemu tante Tania? Apa sebaiknya aku cari om Lordess buat minta bantuannya?"
Kulihat mama menatapku lama. Kemudian mengangguk beberapa kali.
"Berarti aku harus ke Bali buat cari om Lordess?"
Mama tampak bingung.
"Nomor kontak Lordess juga tak aktif! Anak itu semakin susah dihubungi sekarang. Sejak dia depresi karena perceraiannya dengan Almira!"
"Lho? Bukannya kata Mama dulu om Lordess ga sedih karena ga cinta sama istrinya itu tapi cintanya sama pacar pertamanya yang sudah meninggal dunia?"
"Iya sih... Tapi dia sempat oleng sampai harus rutin konsultasi ke psikiater!"
"Om Lordess masih tinggal di Bali? Apa dia ga pernah ke Jakarta?"
"Entah! Mama juga lost contac sama dia, Lan! Coba kamu cari di Bali dulu, datangi villa yang pernah kamu kunjungi waktu bulan madu sama Viona!"
"Aku ikut!"
Aku terdongak mendengar suara keras Lady.
"Ini darurat, Dy! Aku juga tidak akan lama di Bali. Setelah urusanku selesai membicarakan permasalahan Mama, aku langsung pulang! Hanya mau ngobrol dulu sama om Lordess!"
"Aku ikut! Pokoknya aku ikut! Titik!"
Hhh... Ya Tuhan... Lady membuatku muak tapi mama hanya diam. Seperti malas untuk berdebat. Atau mungkin... permasalahan keluarga ini terlihat pelik bagi Mama? I don't know...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1