PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 TAK SEINDAH KHAYALAN


__ADS_3

Ternyata, bekerja di luar negeri dengan jaminan waktu kontrak itu tidak bisa seenak jidat berhenti ditengah jalan.


Semua ada konsekuensinya. Selain kena denda wanprestasi, kita juga bisa kena sanksi kurungan badan atas ingkar perjanjian dan alhasil cap karyawan buruk akan terus kita sandang nantinya.


Akhirnya Herdilan melanjutkan masa kontrak kerja yang masih delapan bulan.


Apa mau dikata. Semua sudah lacur. Ia sudah kepalang pergi meninggalkan negara tercinta demi mencari cuan, juga pengalaman.


Hati yang sedih dan kecewa adalah faktor utamanya. Dan kini semakin lengkap sudah penderitaannya. Sang Mama telah berpulang ke Rahmatullah.


Dengan sangat berat hati dan rasa malu yang teramat banyak, Herdilan hanya bisa menghaturkan ucapan banyak terima kasih pada Kakak-kakaknya yang telah mengurus pemakaman hingga tahlilan sang Mama dengan sangat layak.


Ia tak bisa berbuat apa-apa. Selain doa dan pasrah.


Dirinya hanyalah makhluk kecil yang kini sedang diperantauan.


Bergulat dengan cat-cat akrilik dan kuas, perasaan galaunya perlahan bisa tersalurkan.


Herdilan Firlando. Pria dewasa berusia 33 tahun yang seorang duda keren dengan wajah tampan, dingin tak berekspresi itu memiliki banyak penggemar.


Baik secara terang-terangan, juga secara diam-diam.


Dia kini tak seceria di masa mudanya dahulu. Lebih cool, kalem tak banyak bicara. Bahkan Ciko sang sahabat pun merasakan perubahan dahsyat pada diri Herdilan.


Dulu ketika remaja, Delan memang sempat menutup diri. Terlebih setelah kembali lagi ke dunia nyata sepulang operasi wajah di negara gingseng.


Herdilan sempat ingin merubah jati dirinya yang angkuh, sombong dan jumawa sehingga para sahabat ternyata banyak yang tersakiti oleh sikap arogannya di masa pubertas itu.


Lalu Ciko mengenal Herdilan yang di fase itu.


Dan kini Herdilan justru seperti lebih tenggelam lagi auranya dari pada saat pertama kali bertemu.


Ciko sahabatnya sudah beristri. Orang Indonesia asli. Meski mereka kini LDR-an, namun Ciko dan Mega memiliki kekuatan cinta yang kuat. Mereka berkomitmen untuk masa depan dua buah hati yang telah lahir kedunia.


Dan Herdilan sangat kagum pada keteguhan hati sang sahabat. Cinta Ciko membuatnya teringat di masa lalu.

__ADS_1


Andaikan saja dulu hatinya seteguh hati Ciko pada Mega, rumah tangganya tak akan hancur berantakan.


Andaikan saja cintanya sekuat cinta sang sahabat pada istri, mungkin saat ini ia tak akan ada disini dan jadi begini.


"Woy... bengong mulu kerjaan lo, Lan!?!"


Herdilan melonjak kaget. Ia hanya bisa tersenyum masam mendapati tepukan Ciko yang membuatnya kembali tersadar di dunia nyata.


"Lo yang bikin gue bengong melulu, njir!"


"Ngapa emangnya?"


"Please deh, jaga perasaan gue ***! Janganlah lo ayang-ayangan disamping kuping gue!" semprot Herdilan yang hanya dijawab leletan lidah sang sahabat.


"Sorry, bro! Beginilah cara gua menyikapi hubungan jarak jauh yang asem manis kecut ini! Mau bagaimana lagi...! Jarak jadi kendala buat gue mesra-mesraan sama bini gua. Hehehe..."


"Berarti masih mending gue ternyata ya?! Asli jomblo ga bikin mumet kepala atas bawah! Hahaha...!"


"****** emang lo, ya!?! Hahaha... Asem!"


Herdilan hanya bisa membatin dalam hati.


Ia hanyalah pria dewasa yang merana. Namun masih termasuk enak karena tidak ada tanggungan kewajiban yang diemban.


Jauh berbeda dengan Ciko.


Istri dan kedua anak perempuannya nun jauh di negeri tercinta. Butuh cinta dan kasih sayangnya. Belum lagi ia juga harus rutin mengirimi biaya hidup mereka dari tempatnya bekerja.


Nasib, nasib!


Semoga istri dan anak-anak Ciko bisa membawa diri serta memanfaatkan hasil jerih payah kepala keluarga yang telah jungkir balik mencari uang. Bahkan sampai merantau ke negeri sebrang.


"Nih! Gua punya nomor cewek, bro! Single, anak Indon pula. Namanya Ayu. Wajahnya se-ayu namanya. Mau ga lo? Lumayan buat temen chat-an khan! Siapa tahu jodoh!"


Herdilan kembali terperangah.

__ADS_1


Ciko memberinya sebuah kartu nama. Tapi ditolak halus Delan dengan tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala.


"Ga minat, Cik! Disini gua ga niat cari jodoh. Gua hanya fokus cari cuan. Buat sunatan anak gua nanti tahun depan!" jawab Delan tegas.


"Dzakki mau sunat? Kapan?"


Delan mengangkat bahu.


"Belum pasti waktunya. Umur putraku kini sudah mau setahun. Kabarnya Dzakki baru ingin disunat kalau ia punya adik nanti!"


"Hahaha...! Pe'er buat mantan bini lo ya?!"


Delan hanya menunduk menanggapi gurauan Ciko.


Tak berani ia menjawab karena pasti obrolan bakalan makin panjang.


Jam istirahat telah usai.


Mereka kembali sibuk dengan kerjaan masing-masing. Melebur bersama fikiran semangat baru dan keringat bercucuran.


Semoga Dzakki-ku senantiasa sehat dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa! Doa Herdilan Firlando dalam hati.


Kini ia kembali fight.


Begitulah hari-harinya di perantauan. Menghitung detik demi detik untuknya kembali ke negeri tercinta.


Memeluk erat tubuh putra kebanggaannya yang pintar luar biasa.


Kini ia tak lagi selalu merutuk diri. Semangatnya kembali pulih. Seiring obrolan santai bersama Ciko dan teman-teman senasib lainnya.


Cinta bisa datang dan pergi sesuka hati. Namun kasih sayang tetap terpatri didalam diri.



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2