PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 164 AKU DAN DOKTER DIANDRA


__ADS_3

Setelah banjir air mata menangisi mama Tasya, kini aku duduk diam termenung tak banyak kata di ruangan dokter Diandra.


Tak terasa waktu menjelang Maghrib. Dan membuka satu persatu chat teman kampusku yang mengatakan kalau mereka pulang duluan.


Mama Tasya sendiri telah dibawa ke kamarnya oleh beberapa perawat.


Setelah menjalankan ibadah dan kembali bertemu di ruangan Dokter Diandra, aku memberanikan diri bicara padanya.


"Dokter! Boleh saya tanya sesuatu?"


"Silakan Viona!"


"Apa... ada seseorang yang setiap bulan membayar biaya hidup Mama Tasya selama dirawat di sini?"


"Ada. Kurasa kamu juga kenal padanya!"


"Siapa?" tanyaku penasaran, dengan hati berdebar. Herdilankah? tebakku degdegan.


"Christian!"


"Kak Chris? Beneran kak Chris?"


Tak kusangka, kak Chris yang justru paling gencar ingin memasukkan mama Tasya ke penjara kini justru adalah orang yang paling peduli bahkan mengurus semua keperluan hidup wanita yang pernah menghancurkan hidup ibu kandungnya itu.


Salut aku pada kepribadiannya yang langka.


Memang ternyata gen Mama Tania adalah gen terbaik dari segi sifat, sikap dan juga moralitasnya.


"Dia adalah teman saya satu almamater meski beda jurusan. Dan dia menitipkan ibu Tasya sedari kasusnya dicabut oleh si Chris itu. Tiap bulan, urusan ibu Tasya dan pengobatannya jadi tanggung jawab Chris."


"Lalu putra kandungnya mama Tasya?"


"Maksudmu... mantan suamimu kah?"


Aku mengangguk sekali. Jawabannya hanya senyuman. Membuatku merasa makin penasaran dan kurang puas.


"Sepertinya Viona tidak tahu kelanjutan kisah Herdilan Firlando, ya? Atau... memang sudah tidak ingin mendengar kisahnya lagi dan lagi?"


"Saya memang tidak mendengar kabar apapun lagi tentang dia setelsh kejadian... hhh... kak Jo dengan papa Bambang,"


"Ya. Sepertinya Chris memang menutup rapat-rapat semua akses berita tentang kasus ibu Tasya juga Herdilan!"

__ADS_1


Aku termangu. Bisa jadi. Karena aku memang benar-benar tak mendengar berita apapun tentang Delan!


"Herdilan masih dalam tahanan!"


"Dipenjara? Kasus apa??? Apa... apa almarhumah Lady meninggal karena, Delan???"


"Bukan Lady. Tapi wartawan lepas yang motornya sengaja ia senggol hingga masuk sungai dan tenggelam hingga meninggal dunia!"


"Wartawan lepas? Itu kak Firman!!!"


"Ya. Kasus itu. Dan mantan suamimu itu mendapat hukuman lima tahun penjara setelah justru dia sendiri yang menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya itu!"


O my Gosh! Jadi..., jadi kak Firman meninggal dunia karena motor yang dikendarainya itu diserempet Delan hingga terjun bebas ke sungai Pesangrahan? Gila! Delan benar-benar sudah gila!!!


Mataku terbelalak. Kaget bukan main kalau ternyata mantan suamiku itu adalah orang yang cukup menakutkan kini.


"Ya Tuhan! Herdilan... kenapa jadi seperti itu?!?" gumamku pelan. Membuat Dokter Diandra tersenyum menatapku tak berkedip.


"Viona! Ngomong-ngomong, berapa semester lagi kamu lulus dan wisuda?"


Syukurlah, dokter Diandra mengalihkan arah pembicaraan kami. Dia sengaja menghilangkan kekhawatiranku secara perlahan. Dari rasa terkejutku kena serangan dadakan mama Tasya lagi, juga dari kabar buruk tentang Herdilan yang masuk penjara karena membuat nyawa kak Firman melayang.


"Sekarang saya semester lima. Semoga bisa lulus tepat waktunya, Dok! Secara... saya juga punya satu anak yang kini usianya tiga tahun yang harus saya urus. Karena tahun depan Dzakki masuk playgroup dan setelah itu... Taman Kanak-Kanak. Masa golden age yang harus saya ikuti perkembangannya untuk kesehatan jiwanya juga. Terlebih... putra saya, mmm... tidak memiliki keluarga yang utuh seperti anak-anak lain pada umumnya!"


Dokter Diandra menunduk. Tersenyum mempermainkan ballpoint tinta yang ada di genggamannya.


"Ternyata kamu juga punya anak dari Delan!?"


"Ya. Kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Karena kami bercerai ketika saya mengandung tiga bulan. Hehehe..."


"Hehehe...! Tidak tampak seperti seorang ibu. Secara umur kamu baru 28 tahun!"


"Beberapa bulan lagi 29 tahun, Dok! Hehehe... sudah tua!"


"Saya lebih tua, 34 tahun. Tua mana? Kamu apa saya?"


"Lebih tua rektor saya pastinya. Hehehe..."


"Hahaha... Viona! Saya kira kamu tidak bisa bercanda. Ternyata, gesrek juga! Hahaha..."


"Aduh, Dok! Anak psikologi itu mana ada yang normal? Gesrek semualah, termasuk saya! Hehehe..."

__ADS_1


"Dan saya, seorang psikiatri. Berarti lebih gesrek dong!"


"Hahaha... Kalau yang ini saya tak berani ngomong nih, kecuali dokter punya grup gesrek... baru saya akui! Hihihi..."


"Ya Tuhan! Hahaha..."


Kami terlibat obrolan panjang. Hingga lupa waktu dan azan kembali berkumandang. Waktunya sholat Isya.


"Yok, ibadah dulu!"


"Mari, Dok!"


"Viona! Hm... boleh saya mengajakmu bertemu diluar jam kerja?"


"Untuk apa?"


"Ya... hm... menonton misalnya!"


"Menonton televisi, Dok? Kenapa harus bertemu di luar jam kerja kalau untuk menonton televisi?"


"Haish!... Hehehe... Ini ajakan serius! Tapi sekiranya menolak, katakan saja. Tak perlu merasa tak enak pada saya."


"Sebentar, sebentar... Mohon maaf sebelumnya Dok, boleh saya tahu status dokter? Menikah atau... sedang ada hubungan reletionship? Bukan apa-apa... saya tidak mau ada hati yang tersakiti. Walau kita tidak punya hubungan spesial, tapi saya khawatir orang terdekat dokter nanti salah faham. Karena dokter mengajak saya ketemuan diluar jam kerja!"


Pertanyaanku tentu saja membuat merah wajah Dokter Diandra, seketika.


Hm... mencurigakan khan!?


"Hehehe...! Status saya,... saat ini single. Tapi, double juga! Hehehe..."


Tuh khan!?! Terdengar ambigu jawabannya. Hhh... Aku sekarang harus lebih waspada. Pria itu punya banyak ide dan berbagai cara untuk membuat wanita terlena. Padahal... ada perempuan lain yang menghiasi kehidupannya. Mungkin! Who knows! Dan aku tak ingin jadi wanita perusak rumah tangga orang. Karena kutahu, sakitnya rumah tangga dirusak orang. Jangan sampai judul cerita hidupku berubah menjadi "Aku Janda Yang Membuat Janda Wanita Lain". Hadeeuh... No no no, naudzubillah!


"Maaf Dok, saya sibuk dengan Dzakki ketika di luar jam kampus. Kecuali, Dokter bersedia ikut bermain bersama saya dan Dzakki di kediaman Kak Jonathan, mendiang omnya kak Christian!"


"Hehehe... saya kira tadi saya ditolak. Ternyata..."


"Memang dokter mau melamar pekerjaan pada saya? Kenapa merasa ditolak? Dan saya juga tidak dalam kapasitas membuka lowongan pekerjaan karena saya tak punya perusahaan! Hehehe..."


Ya Tuhan! Kenapa aku jadi seperti perempuan pintar yang anggun tapi angkuh? Padahal dokter Diandra pasti lebih pintar. Dan pastinya dia lama-lama illfeel dengan sikapku ini.


Bodo amatlah! Aku juga tak ingin membuat dia berfikir macam-macam. Juga berfikir kejauhan. Sedikit ge'er boleh khan!? Hm...

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2