PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 AIR MATA DAN TAWA, ADALAH JUGA KEINDAHAN DUNIA


__ADS_3

Dikediaman Christian, keluarga besar mereka juga tak kalah sibuk.


Pengajian bersama keluarga dengan mengundang anak-anak yatim piatu dari salah satu yayasan juga digelar Christian.


Herdilan adalah adiknya juga, meskipun berbeda ibu. Tapi ia sudah berjanji dalam hati, akan melakukan kewajiban yang sama pada Herdilan seperti ia mengurus pernikahan Roger dan Fika tempo hari.


Ia dan sang istri benar-benar mempersiapkannya dengan suka cita.


Roger dan Viona serta Dzakki juga datang ke rumah baru mereka. Walaupun baru melahirkan seminggu yang lalu, tapi Viona ikut antusias menyambut kedatangan calon mama putra sulungnya itu.


Meski tidak ikut mengaji karena masih dalam masa nifas, ia tetap ikut berkumpul dengan para saudara suami.


Dzakki juga sangat senang karena rumah baru Christian terlihat lebih cerah pencahayaannya juga bagus auranya.


Ia melihat banyak semangat dirumah itu. Semangat baru yang menjadi kebaikan dan keberkahan bagi keluarga kakak dari Ayah dan Papinya.


"Dzakki, gimana rumah Papa Chris?" tanya Chris pada Dzakki yang nampak puas terlihat dari binar matanya.


"Bagus, Pa! Rumahnya sangat bagus! Semuanya!"


Christian tersenyum senang. Keponakannya pun bisa melihat aura yang bagus pada rumah barunya ini.


Keluarga besar itu kini terbiasa saling support dan saling memberi dukungan motivasi baik berupa saran juga doa-doa.


Viona dan Roger sedang asyik mencandai bayinya. Elzhar semakin menggemaskan, memang. Sehingga banyak yang berebut ingin menggendong bayi tampan itu.



Kedua bola matanya bulat bersinar indah. Pipinya embul mengembang bak kue donat. Alis, hidung, bibir...semuanya tampak sangat mempesona.


Walaupun masih sangat kecil dan baru seminggu umurnya, tapi sudah terlihat ketampanan serta kecerdasannya. Benar-benar perpaduan Roger dan Dzakki.


Tini dan Mutia sampai berebutan ingin menimang Elzhar Ghivaro.


"Ish, Tin...! Kamu khan sudah sering, hampir tiap hari gendong El. Aku baru sekarang ini punya kesempatan gendong! Sini, siniii!"


"Tini juga belum gendong, Kak Muti! Viona sama boss Roger selalu memanipulasi baby Elzhar untuk mereka berdua! Huhuhu..."


"Hei, hei! Sembarangan kalian oper-oper anakku! Ga boleh! Belum empat puluh hari, jangan di gendong sana-sini!"


Tiba-tiba Roger datang dan langsung mengambil Elzhar dari dekapan Tini.


"Aaa..., Boss! Koq Tini jadi ingat waktu Dzakki bayi ya?! Hahaha... Muka jutekmu beneran deh, persis seperti itu! Dulu malahan Viona sering dibuat nangis sama Boss Roger!"


"Iyakah? Beneran, Tin?" tanya Mutia dengan mata terbelalak, kaget. Senyumnya tipis dan kini makin melebar.


"Iya. Tanya saja Viona, Kak! Boss beneran ga izinkan kita mengurus Dzakki! Makanya, pas Baby El Tini malah merasa boss agak longgar protectivenya. Mungkin karena sibuk kerjaan juga ya, soalnya dulu kerjanya ga tiap hari waktu Dzakki bayi. Jadi 24 jam Dzakki sama boss Roger!"


"Hahaha... Iya, iya. Aku ingat, dulu sempat nginap di rumah Viona. Dan memang Dzakki itu tidurnya sama Roger ya! Hehehe..."


Roger yang dighibah oleh dua wanita yang dihormatinya diam-diam itu hanya memonyongkan bibirnya.


Ia memangku sang putra yang tertidur pulas setelah minum ASI Viona.


Sementara sang istri kini sedang makan di meja makan bersama Kenken, Verrel juga Herdilan.

__ADS_1


Saat ini pukul sembilan malam. Acara pengajian sudah selesai setengah jam yang lalu. Dan para tamu juga sudah pulang dari tadi.


.....


"Viona! Terima kasih banyak atas semua kebaikanmu. Aku tidak tahu, bagaimana lagi harus membalas semuanya. Hanya Tuhan yang tahu, berapa besar rasa syukur serta ucapan terima kasih ini untukmu!"


"Sudahlah. Jangan terlalu lebay mengungkapkan semua rasa itu. Hehehe...! Aku adalah ibu dari anakmu, Dzakki. Apapun itu yang berangkutan dengan putraku, pasti akan aku lakukan sekuat tenaga. Dan demi kebahagiaan putraku, aku pasti bersedia berkorban jiwa raga."


"Terima kasih!" Roger menyusut setetes air matanya yang turun di sudut kiri matanya.


Ia menoleh kiri dan kanan. Kenken, Verrel telah meninggalkan meja makan. Tinggal Herdilan dan Viona berduaan.


"Ini pertama kalinya kita mengobrol berdua," ucapnya pada Viona.


Viona hanya diam. Ia masih sibuk dengan makanan yang baru habis separuh diatas piringnya.


Masa menyusui membuatnya sering lapar dan porsi makannya jadi meningkat dua kali lipat.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu. Yang selalu menyakitimu dan tak pernah bisa membahagiakanmu!"


"Sudah, sudah! Aku malas mengenang masa lalu. Aku sudah lama memaafkan dan melupakan semuanya. Aku tulus mendoakan kebahagiaan juga untukmu. Kamu akan menikah minggu besok. Kamu akan berumah tangga lagi. Jagalah semuanya yang sudah Tuhan beri. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Berusahalah mengerti isi hati istrimu nanti! Jangan egois dan selalu menang sendiri. Karena perempuan itu selalu main perasaan, dan kurang pakai logika! Dan jika aku melihat kelakuan burukmu lagi, apalagi menyakiti hati istrimu,... aku tidak akan segan-segan memukulmu!"


"Kenapa? Kenapa, Yang?"


Roger yang tiba-tiba masuk sambil menggendong bayinya langsung ikut nimbrung pada pembicaraan Viona dan Herdilan.


"Hehehe...!"


Herdilan tertawa malu. Ia berdiri dan menarik satu kursi untuk Roger duduki.


Ia juga mengusap kepala baby Elzhar seraya bergumam, "Semoga Elzhar jadi anak sholeh, dan menjadi kebanggaan keluarga. Aamiin!"


"Mas, terima kasih banyak! Kamu adalah Ayah Dzakki yang terhebat. Aku..., aku sangat malu dan sedih pada kelakuanku di masa lalu! Aku... hik hik hiks, entah bagaimana Dzakki jadinya jika ia tak dirawat dan dibesarkanmu, Mas! Maaf...! Maafkan semua kesalahanku, Mas! Hik hiks..."


Herdilan menangis.


Ia tak mampu menahan keharuannya. Bahkan tubuhnya sampai menggelosor jatuh ke lantai. Dan terduduk di depan kaki Roger.


Sementara sang kakak tiri hanya menunduk. Bibirnya bergetar menahan tangis. Ia juga sebenarnya pria cengeng. Gampang terenyuh dan suka melankolis jika mendapati keadaan yang seperti saat ini Herdilan lakukan.


"Sudah, Lan! Dzakki itu adalah anakku. Sampai kapanpun dia adalah putraku. Meskipun Dzakki lahir dari dirimu, tapi... akulah Ayahnya. Akulah yang menyaksikan kelahirannya dan mengadzaninya. Aku yang mengurusnya sedari masih merah. Aku juga yang merasa sakit hati jika ada orang lain yang menyakitinya. Hiks...! Aku..., aku juga orangnya yang sangat takut kehilangan dia! Hik hiks..."


Kedua pria dewasa itu berlinang air mata. Saling mengungkapkan rasa sayangnya pada Dzakki Boy Julian.


Dan Viona pun menangis tersedu sedan, dengan tetesan-tetesan jatuh tak terlahan meluncur dari kedua bola matanya.


Mereka bertiga terharu dan larut dalam tangisan.


"Kenapa kalian menangis?"


Dzakki tiba-tiba berdiri di depan pintu dapur. Dengan mata berkaca-kaca dan mulutnya sedikit menganga.


Bocah itu menghambur ke tubuh Roger. Tangisnya pecah. Membuat Viona ikutan merangkul dan Herdilan semakin kencang tangisnya. Herdilan merasa sangat bersyukur memiliki putra sehebat Dzakki.


"Dzakki, sayang Ayah. Dzakki sayang Mami, Dzakki juga sayang Papi! Tapi saat ini yang paling Dzakki sayang adalah baby Elzhar! Hehehe... Maaf!"

__ADS_1


Roger dan Viona jadi terkekeh. Begitu juga Herdilan yang malu karena jadi terlihat seperti bocah kecil menangis di lantai tak melihat keadaan.


"Sudah sedih-sedihannya? Dzakki mau kita semua senang-senang! Hehehe...! Mami, Mami,"


"Ya, Sayang?"


"Dzakki hebat khan, Mi? Dzakki punya Mami, Ayah, Papi... juga Mama! Yeaaay...!!!"


Viona mengangguk. Ia tersenyum sembari menyusut air matanya.


Dzakki juga membantu sang Mami menyeka sisa-sisa airmata di pipi.


"Mami jangan nangis! Mami adalah Mami terbaik yang Dzakki punya! Selalu senyum ya, Mami! Dzakki sayang Mami!"


Terdengar suara Mutia dari sound sistem ruang tamu yang melantunkan sebuah lagu favoritnya. Rupanya mereka sedang bernyanyi bersama. Sementara Christian yang mengiringi suara lembut Mutia dengan dentingan pianonya. Membuat Viona ikut terhanyut dan kembali menangis.


Kubuka album biru


Penuh debu dan usang


Kupandangi semua gambar diri


Kecil bersih belum ternoda


Pikirkupun melayang


Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang


Tentang riwayatku


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Nada-nada yang indah


Selalu terurai darinya


Tangisan nakal dari bibirku


Tak kan jadi deritanya


Tangan halus dan suci


Tlah mengangkat tubuh ini


Jiwa raga dan seluruh hidup


**Rela dia berikan.


....


Oh Bunda ada dan tiada dirimu**

__ADS_1


'Kan selalu ada di dalam hatiku


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2