PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 75 DRAMA RUMAH TANGGA HERDILAN-LADY


__ADS_3

"Viona, tunggu! Jangan pergi sebelum kita tuntas berdiskusi!"


Aku menelan saliva. Benar-benar jengkel luar biasa melihat tingkah polah si Lady Navisha.


"Diskusi? Diskusi dengan kalian? Apa urusanku, hah?"


Delan semakin pucat wajahnya.


"Please, Lady! Go home now!" katanya terlihat menahan amarah.


"Tidak! Sebelum aku mendapatkan hak yang sebagaimana mestinya darimu, Mas!"


O my God! Seumur hidupku 'jungkleneng' dua puluh tiga mau dua empat, baru sekali ini kulihat perempuan yang benar-benar tak punya malu! Lady Navisha... kenapa kau tak berfikir berpuluh-puluh kali lipat ketika kau hendak berucap? Betapa bodoh dan hinanya kau dihadapanku!


Aku naik darah. Melesat secepat kilat tak kuhiraukan janin dalam perutku yang sudah masuk empat bulan.


Plak plak plak


Tiga tamparan berhasil kulampiaskan pada pipi mulus perempuan laknat itu!


Sesekali jadi perempuan gahar, boleh khan!?!


"Viona, viona! Jangan, Viona!"

__ADS_1


Kujambak rambutnya Viona dan juga rambut Herdilan sekalian. Mumpung emosi ini masih on dalam status siaga nyaris memuntahkan laharnya.


"Kalian sama-sama manusia sampah! Bahkan sampah tak berharga yang tak bisa di daur ulang! Cocoknya kalian tinggal di TPA Bantar Kemang sana!"


"Viona, Sayang! Ingat anak kita, Vi! Jangan sampai anak kita memiliki tabiat pemarah..."


Bangsat! Delan membuat amarahku semakin memuncak.


"Hyaaaa... (Bug bag bug) Aku jadi begini karena mu! Karena tingkah kalian yang seperti hewan!!! Pergi! Pergi kalian dari rumahkuuuu!!! Pergiii!!!"


Aku lupa rencana awal bersama kak Jo. Aku lupa semua yang sudah kurancang di otakku untuk membuat hubungan Delan dan Lady hancur berantakan.


Yang ada... amarahku yang sudah di ubun-ubun dan memukul habis suami serta selingkuhannya itu.


"Viona! Kau akan menyesal karena telah mengusirku dan mas Delan dari sini! Ayo, Mas! Ayo! Kamu lihat sendiri khan, perempuan yang pertama kamu nikahi sekarang sudah menjadi perempuan stress! Lihat mas, lihat! Dia tak peduli padamu! Hanya aku yang peduli! Hanya aku, si Viona tidak! Jadi lebih baik dia yang kau ceraikan, bukan aku!!"


Hik hik hiks... Ini gila! Ini gilaaa!!!


Kami ribut besar pukul sebelas malam.


Berteriak-teriak mengganggu kenyamanan tetangga sekitar pastinya. Berargumen saling membela diri dengan pembenaran kata-kata sendiri.


Aku, Delan dan Lady... kenapa Tuhan jadikan individu-individu ini seperti hewan-hewan tak berakal?

__ADS_1


Kami benar-benar di luar kendali. Aku terutama. Menangis sejadi-jadinya setelah mengusir keluar dua manusia biadab itu.


Menangis sesegukan di atas pembaringan. Menangis, menangis dan menangisi semua nasib hidup yang buruk ini.


Apa ini benar-benar takdir Tuhan? Apa ini memang keinginan Tuhan menghempaskanku sedemikian dalamnya, bahkan sangat dalam, gelap gulita jiwa ini rasanya.


Tak ada orang yang memberiku kekuatan. Tak ada! Bahkan kedua orang tuaku... keduanya telah tiada!


Hik hik hiks...


"Nyonya...! Yang sabar ya?"


Bibi Farida mendatangiku. Memberiku kekuatan lewat kata-kata lembutnya.


"Bibi, hik hik hiks..."


Kupeluk tubuh perempuan berusia sekitar 35 tahun itu. Hangat dan nyaman. Beliau menjadi asisten rumah tanggaku sejak kepindahan kami di rumah ini. Otomatis, bibi Faridalah orang terdekatku di rumah.


"Bibi...! Aku yakin bibi tahu sejak awal khan hubungan mereka?" tanyaku pada beliau.


"Tidak, nyonya! Saya hanya ada di bagian dapur kotor dan lantai satu saja. Jadi saya sama sekali tidak mengetahui hubungan tuan dan Miss Lady itu!"


Aku menangis di pelukannya. Merintih dengan isak tangis pilu, penuh kesedihan. Di luar sana masih terdengar teriakan demi teriakan Lady dan juga bentakan Herdilan.

__ADS_1


Kukira mereka berdua akan langsung pergi karena ada kesempatan. Ternyata, masih ada keributan demi keributan baru tentang drama mereka. Hhh...


__ADS_2