
"Om Lordess?!"
"Herdilan! Masuk..."
Delan termangu melihat penampilan omnya yang terlihat tetap awet muda.
Cukup lama ia tak melihat Lordess. Mungkin tujuh atau delapan tahun tak bersua. Terakhir bertemu ketika ia dirawat di rumah sakit Korsel selama sebulan dan menjalani operasi plastik wajah.
"Kesini sama siapa?" tanya om Lordess dingin.
Herdilan terlihat kikuk melihat sepupu Mamanya itu. Secara om Lordess adalah kakak kandung dari tante Tania, orang yang kini melaporkan mamanya ke polisi dengan tuduhan hendak melakukan pembunuhan berencana.
"Sendiri Om!... Om, ada yang mau Delan diskusikan sama Om Lord! Bisakah kita mengobrol serius tentang Mamaku?"
"Hm... Sudah besar rupanya kamu sekarang! Sudah bisa menghandle urusan Mamamu!"
"Om...! Aku sangat tahu kalau Om adalah orang yang baik. Memori ingatanku masih sangat baik menandai Om. Mulai dari membantu operasi wajahku delapan tahun yang lalu di Korea, hingga terakhir memberiku dua tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Bali untuk bulan maduku setahun yang lalu."
"Syukurlah, kamu tidak amnesia!"
"Aku sangat berterima kasih atas semua kebaikan Om padaku, juga pada Mama! Aku kesini memang membawa misi khusus. Pastinya Om sudah mendengar sendiri dari Tante Tania. Yang sejujurnya aku kurang mengenal beliau serta kebaikannya. Tapi aku yakin beliau sama baiknya dengan Om, secara kalian adik kakak!"
Jonathan Lordess mengangguk-anggukan kepala. Terlihat tenang meski raut wajahnya datar.
Jantung Herdilan terasa dipacu dengan cepat. Ia sebenarnya mulai terbiasa berbicara dengan banyak pengusaha face to face. Melobi pekerjaan serta tanda tangan kontrak dengan banyak pihak.
Tapi ini berbeda.
Melobi Om-nya sendiri agar mau berbaik hati membantu mamanya terbebas dari tuntutan hukum dari kakak kandung om Lordess.
Telapak tangannya mulai basah. Juga keringat kecil menetes perlahan membasahi dahi. Padahal suasana sore itu begitu sejuk dan adem. Berbanding terbalik dengan suhu tubuh Herdilan yang memanas karena nervous.
__ADS_1
"Om...! Aku minta maaf, beribu-ribu maaf atas nama Mamaku pada Om terlebih pada Tante Tania! Mama mungkin bersalah besar, karena hampir menghilangkan nyawa tante Tania. Mama tidak punya pemikiran seperti itu, Om! Aku... aku berani menjamin Mama, dan Mama sangat menyayangi Om juga Tante Tania! Aku berani sumpah, Om!"
"Begitu ya?!..."
Herdilan menelan salivanya. Ia berusaha menekan perasaan serta intonasi suaranya menjadi lebih lembut agar Om-nya itu mau bernegosiasi.
"Mama selalu menanyakan kabar Om. Bahkan ketika aku dan istriku liburan di villa ini setahun yang lalu, Mama juga menanyakan keberadaan Om. Mama ikut prihatin atas kehidupan rumah tangga Om!"
Jonathan tersenyum. Ia mengetuk-ngetuk dahinya. Sesekali terkekeh mendengar keponakan 'kesayangan'nya itu sedang mengeluarkan kata-kata jilatan.
Asisten rumah tangga Jonathan datang membawakan baki berisi minuman dan cemilan.
"Minum dulu, Lan! Kamu pasti masih capek karena perjalanan yang cukup jauh."
Herdilan mengangguk. Ia berusaha tersenyum manis dan menetralisir jalan darahnya yang kencang dengan mengambil segelas sirup berwarna merah yang disuguhkan.
"Oh iya... Bi Kurni dan Cemen apa masih bekerja di sini, Om?" tanya Herdilan berusaha mencairkan suasana yang kaku.
"Hm... Cemen kutempatkan di Seminyak. Bi Kurni dan keponakannya sekarang di Ubud, mengurus restoran milik Roger!"
"Ya."
Herdilan diam sesaat. Ternyata mengobrol dengan om Lordess tidak seperti yang ia bayangkan.
Mamanya sempat memberinya keterangan kalau om-nya itu pengidap bipolar disorder setelah kasus ditinggal kabur Almira, istrinya.
Makanya, ia harus sedikit berhati-hati agar tak menyinggung perasaan Sang Om yang labil.
Melihat reaksi aura wajahnya, Delan menyimpulkan kalau saat ini omnya itu dalam keadaan tenang dan tidak dalam kondisi yang buruk seperti ucapan sang Mama.
"Kamu kesini mewakili Mamamu?"
"I-iya, Om!"
__ADS_1
"Kenapa bukan dia saja yang datang sendiri? Atau pergi mencari Tania langsung ke rumahnya? Kenapa harus jauh-jauh kau datangi aku?"
Herdilan menghela nafasnya.
"Mama histeris, agak stress keadaannya saat ini. Makanya aku mewakili Mama menemui Om! Apa... sebaiknya aku datangi Tante Tania? Tapi aku gak tahu rumah beliau, Om!"
"Hhh... Mamamu terlalu tamak hidupnya!"
Delan menunduk. Tak berani membantah ucapan Om Lordess apalagi menyelanya.
"Kamu tahu, kejahatan apa saja yang sudah mamamu lakukan?"
Herdilan menatap mata Jonathan.
"Kau pastinya tidak tahu khan? Aku yakin, Tasya menyembunyikan banyak rahasia meskipun dia sangat menyayangimu. Atau bisa jadi dia lakukan ini semua juga untuk kemakmuranmu di masa mendatang. Tapi caranya salah! Dia mengambil hak saudaranya dengan sangat curang!"
Hhh... Lagi-lagi Herdilan menarik nafas panjang.
"Pulanglah besok! Katakan pada Mamamu, untuk menceritakan semua kebenaran padamu, Lan! Om tidak bisa membantunya. Kecuali Tasya sendiri yang mau menyadari sikap dan tindakan salahnya selama ini."
"Om...! Bisakah aku minta alamat Tante Tasya?"
"Temui saja saudara sedarahmu! Kamu bisa diskusi bagaimana baiknya!"
"Saudara sedarahku? Si-siapa, Om?"
"Christian Suherman! Putra pertama Bambang Suherman dengan Tania Camila, kakak kandungku itu!"
"A-apa???"
"Kau kaget bukan? Tanyai langsung Mama dan Papamu! Kalau kau ingin penjelasan yang jelas sejelas-jelasnya!"
__ADS_1
Terbelalak Herdilan. Kaget bukan kepalang.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...