
Kartika benar-benar terpesona menatap wajah tampan sempurna baby Elzar Ghivaro.
Imut sekali.
Membuat Kartika jadi gemas ingin menciumi pipi bayi merah yang baru lahir empat hari lalu.
Andai ia lebih dekat dan telah sah menjadi istri dari Papanya Dzakki, ingin rasanya meminta izin dapat menggendong bayi tampan itu.
"Gantengnyaaa...!" kata Kartika dengan penuh kekaguman.
Viona tersenyum senang.
Rasa sakit yang kemarin-kemarin ia rasakan terbayar tuntas dengan kehadiran Elzhar Ghivaro putra keduanya.
"Gemes ya, Ma!?" tambah Dzakki membuat Kartika menoleh dan mengangguk.
"Iya. Imuuut, pingin uwel-uwel!"
"Hehehe..."
"Semoga Mama sama Papi cepat dapat adek bayi yang lucu seperti baby Elzhar!" doa Dzakki. Tentu saja Kartika tersipu malu.
Statusnya baru calon istri, tetapi sudah dapat doa punya adik bayi dari Dzakki.
Viona ikutan tertawa kecil.
"Mudah-mudahan anak kalian nanti perempuan. Biar tambah semarak adik-adiknya Dzakki!"
Viona ikut menggoda dan menambah doa yang membuat Kartika makin merah wajahnya.
Saat ini saja aku dilema, karena tingkah Abang Herdilan yang masih penuh misteri! Bagaimana mungkin bisa berfikir jauh untuk mendapatkan bayi mungil yang manis dan lucu. Seorang bayi perempuan pula! Hiks...
Kartika bergumam dalam hati.
Dzakki menggenggam jemarinya lembut. Seketika Kartika mengingat pada kemampuan six sence calon putra sambungnya itu.
Wajahnya membeku. Ia takut Dzakki bisa melihat dan membaca isi hatinya.
Matanya beradu pandang dengan mata Dzakki yang berbinar indah. Kartika jadi malu sendiri.
"Papi sepertinya jarang mengirim pesan ya, Ma?!" tebakan Dzakki benar.
Herdilan memang jarang sekali menchatnya. Dan dia juga malu untuk menchatnya lebih dahulu.
Begitulah, Kartika termasuk kedalam kategori wanita jadul yang gengsi untuk memulai dan lebih suka menunggu.
Ia paling takut dinilai sebagai perempuan gampangan yang suka mengungkapkan duluan.
Mamanya mengajarkan selalu untuk menjaga sikap sejak masih kanak-kanak.
Jangan pernah menjadi wanita agresif karena pria bisa salah faham dan menilai rendah perempuan model begituan. Begitu selalu bu Fajar mendidik Kartika.
Kartika terkejut ketika Dzakki tiba-tiba sudah memegang handphone dan terlihat wajah tampan Herdilan di layar kaca ponselnya.
"Papi, Papi! Dzakki sedang bersama Mama! Mama menengok adek Elzhar di sini! Papi kapan pulang?" tanya Dzakki pada Papinya.
Hiks...! Abang! Kenapa bisa-bisanya video callan sama Dzakki, tapi untuk chat aku sekedar tanya kabar saja justru kamu terkesan jaga imej sekali!
Kartika sedikit kecewa melihat sang calon suami.
Hati kecilnya sedih. Ia juga ingin diperhatikan sedemikian istimewanya oleh Herdilan. Ingin di telepon tanpa harus lewat Dzakki, putranya.
__ADS_1
Kartika menunduk, pura-pura tak mau melihat wajah tampan yang tersenyum manis di hape Dzakki.
"Mama datang sama siapa?" terdengar suara lembut Herdilan bertanya pada Dzakki.
"Sama Dzakki, dari sekolah!"
"Apa Mama sudah makan siang?"
Kini Kartika sedikit senang. Rupanya Herdilan juga menanyakan keadaan perutnya yang memang keroncongan, belum makan siang.
"Nanti kami makan bersama, kata Mami. Wa Tini sedang menyiapkannya, Pi!"
"Oh, begitu! Ya sudah, Dzakki harus selalu jadi anak baik. Jaga adik Elzhar juga Mami. Dan jaga Mama Kartika juga. Ya? ****Papi kerja lagi ya, Nak! Minggu depan Papi pulang****."
"Iya. Have anice day, Papi!"
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam!"
Dzakki mematikan sambungan videonya dengan Herdilan. Nampak Kartika pura-pura sibuk mengelus-elus jemari mungil baby Elzhar.
"Ayo, kita makan sama-sama!"
Viona masuk kembali ke kamar setelah tadi keluar sebentar melihat Tini yang sedang memasak di dapur. Ia memastikan kalau istri Kenken itu apakah sudah selesai menyiapkan makanan untuk makan siang mereka dan ternyata sudah.
"Ayooo!"
Dzakki senang. Tangannya langsung menarik jemari Kartika untuk keluar kamar besar pribadi Viona.
Kartika makan bersama Viona, Tini, Kenken dan juga Dzakki.
Roger makan siang di universitas tempatnya mengajar.
Baik Kartika maupun Viona masih terkesan malu-malu untuk memulai pembicaraan yang santai. Diantara mereka seperti masih ada pagar pembatas yang menjegal sehingga agak kesulitan untuk membuka pertemanan.
"Mama orangnya pemalu dan pendiam ya?"
Tiba-tiba Dzakki mengatakan kalimat yang membuat pipi Kartika memerah.
"Mama dan Mami itu sifatnya agak mirip. Makanya seperti berkaca pada diri sendiri. Dan keduanya sama-sama gengsi untuk memulai satu topik obrolan. Betul khan?"
Viona dan Kartika tertawa berbarengan.
Dzakki membuka jati diri mereka dihadapan keduanya langsung tanpa tedeng aling-aling.
Kini Viona lebih lega karena mengetahui isi hati Kartika yang sama sepertinya.
"Bu Tika jangan sungkan sama saya. Silakan tanya apapun yang ingin diketahui tentang keluarga ini!" ujar Viona membuat Kartika tersenyum.
"Maminya Dzakki justru yang sungkan, karena memanggil saya dengan panggilan Ibu. Usia saya hanya terpaut tiga tahun lebih muda dari Mbak. Panggil saja saya Tika, sepertinya lebih santai!"
"Baiklah. Hehehe... Aku panggil kamu Tika, boleh?"
"Tentu boleh! Saya senang sekali, kalau Mbak Viona memanggil seperti itu! Hehehe..."
Keduanya saling bertatapan. Tini yang menyimak saja sedari tadi, ikut tersenyum mengangguk-angguk.
Kini suasana menjadi lebih santai karena keduanya saling lempar kalimat canda untuk mencairkan suasana.
Setelah makan, Viona kembali ke kamar untuk menyusui baby Elzhar.
Kartika pun ikut kembali masuk karena masih sangat gemas dan ingin melihat terus bayi mungil nan tampan itu.
__ADS_1
Dzakki sengaja tidak ikut ke dalam kamar Maminya. Ia ingin memberi ruang khusus untuk keduanya saling bercengkerama.
"Tika pastinya punya banyak pertanyaan tentang hubunganku dengan Herdilan di masa lalu!"
Kartika terdiam sesaat. Viona bisa mengerti kegundahan hatinya. Membuatnya langsung menunduk, tak berani mengiyakan.
"Kami kini sudah seperti saudara. Tidak ada lagi hubungan khusus, kecuali hubungan persaudaraan. Apalagi diantara kami ada Dzakki, yang selalu jadi penengah. Selain Mas Roger tentunya. Jadi..., kumohon Tika tidak berfikir macam-macam tentang keadaan kami kini."
"Maaf, kalau fikiran saya mungkin terlihat agak,..."
"Aku mengerti. Sangat mengerti. Bahkan aku salut dan kagum, Kartika bisa meredam kegalauan hatimu yang pastinya simpang siur penuh ketakutan tentang calon suamimu!"
Kartika menatap wajah Viona.
Keduanya berusaha menenangkan satu sama lain lewat pancaran mata masing-masing.
"Saya..., sejujurnya takut sekali menghadapi pernikahan ini. Saya..., saya tidak memiliki pandangan kedepannya tentang rumah tangga kami nanti. Dan benar kata Abang, bahwa itu terjadi karena kami belum mengenal satu sama lain."
Viona segera memegang jemari Kartika.
"Aku mengerti perasaan Kartika. Aku juga pasti akan memiliki pikiran-pikiran yang sama jika ada di posisi kamu! Tapi bolehkah aku memberi satu keterangan?"
"Tentu, Mbak! Saya sangat senang sekali!"
"Herdilan yang sekarang, berbeda dengan Herdilan yang sebelas tahun lalu saya nikahi. Jadi, tolong Kartika membuka diri dan hati untuk Herdilan! Sepertinya dia juga kesulitan untuk mengungkapkan rasanya pada Kartika. Berilah ia kesempatan. Dan aku yakin, kamu tidak akan menyesal menerimanya sebagai suami."
Kartika termangu untuk beberapa saat.
"Bukan maksudku untuk memuji-muji Herdilan setinggi langit, dan membuat kamu jadi berfikir untuk ke arah yang positif. Tapi..., perkataanku ini bukan omongan dibibir saja, tapi lain di hati. Tidak, Tika!"
Kartika mengerjapkan kelopak matanya.
"Kamu sudah cukup umur untuk bisa menilai sendiri mana yang baik dan mana yang tidak, menurut pendapatmu sendiri. Dan aku yakin, kamu adalah perempuan cerdas yang tidak gampang mengambil keputusan. Aku juga tidak mau kamu kecewa berkepanjangan karena merasa ditipu Herdilan dan juga kami. Kita akan menjadi saudara nantinya. Untuk itu aku ingin kamu bisa menerima kami juga nanti kedepannya!"
"Mbak!... Saya sedang galau!"
"Iya?"
"Teman saya melihat Abang Herdilan sedang bersama perempuan muda yang cantik di sebuah kafe. Saya takut,... Abang menikah dengan saya tanpa perasaan sedikitpun. Dan hanya... sebagai tameng."
Viona menelan salivanya.
Kartika seperti dirinya dimasa lalu. Benar-benar mirip kisahnya dengan Herdilan muda dahulu.
Ya Tuhan...! Jangan biarkan Herdilan menjadi seperti Herdilan yang dulu menyelingkuhiku dengan Lady Navisha! jerit hati kecil Viona.
"Kartika!... Aku sewaktu menikah dengan Herdilan masih berumur 21 tahun. Masih sangat muda, labil dan juga egois sekali. Aku juga tidak peka pada keadaan waktu itu. Kami masih sama-sama kekanakan karena usia yang terpaut umur hanya delapan bulan saja. Untuk kasus Tika saat ini, cobalah bicarakan dengan Herdilan baik-baik. Tanya saja kalau itu menjadi ganjalan! Jangan ragu apalagi malu! Itu akan membuat hubungan kalian jadi lebih baik kedepannya. Dan..., tidak akan ada perceraian jika kita saling pengertian! Dan satu hal yang perlu Kartika lakukan!"
"Apa itu, Mbak?"
"Berdoalah selalu pada Tuhan. Minta petunjuk-Nya. Pasti Tuhan akan tunjukkan! Dulu aku tidak melakukan itu. Dulu ibadahku tidak bagus, dan hanya menerka-nerka. Setelah itu cuek pada kenyataan yang ada. Itu sebabnya rumah tangga kami semakin goyah dan retak hingga patah!"
Kartika menghangat hatinya. Jiwanya lebih tenang. Viona memberinya saran yang menyejukkan.
Ia berjanji dalam hati, malam nanti ia akan berdoa lebih khusu'.
Setelah itu ia juga akan menchat Herdilan dan menanyakan kabar serta pertemuannya dengan Rihana beberapa waktu lalu tanpa sepengetahuannya.
Ia inginkan penjelasan dari Herdilan yang sebenarnya. Dan ia juga ingin jujur tentang hatinya yang penuh kekhawatiran setelah mendengar dan melihat fotonya bersama Rihana yang dipotret Irma.
Semoga Herdilan bisa memberinya jawaban yang menenangkan. Itu harapannya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1