
"Boleh aku lihat foto Vionanya Om Lord?" tanya Delan penasaran tingkat tinggi.
Jonathan menyeringai lebar.
Sasaran sudah masuk perangkap. Akankah ia jadi kesetanan jika aku memperlihatkan foto-fotoku bersama Viona? gumam hati Jonathan.
Aha! Aku punya foto jadulku bersama Louissa! Hehehe... Aku kerjain dulu dia, sebelum jantungnya colaps kukasih tahu yang sebenarnya!
"Ini... Viona Om Lord?"
"Iya."
Herdilan tersenyum. Ternyata memang sangat mirip! Cuma bedanya, di foto ini Om Lord masih muda. Hehehe... Ternyata begini ya, kehaluan seorang penderita bipolar itu! katanya dalam hati.
Jonathan ikut tersenyum. Hahaha... Terjebak juga dia! Sangat terlihat senyum jumawanya yang memperlihatkan sifat culas turunan Tasya Bams! Ck ck ck... Aku kasih fotoku yang bersama Viona, seru kali ya!?!
"Ini juga!"
Mata Herdilan tampak terbelalak.
"Ini...?!?! Ini... ini istriku, Om! Viona Yuliana!!!"
"Ya memang! Tapi mantan istri! Perlu kau ralat! Kenapa responmu berubah?"
"Dimana Viona? Dimana dia, Om? Vionaaa... Vionaaa...!!!"
Herdilan langsung sikap berubah 180 derajat.
Pria yang akan berusia 26 tahun itu berdiri. Berkacak pinggang dengan wajah tegang sambil berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Mantan istri tepatnya.
"Vionaaa!!!"
Mampus kau bocah tengik! Jonathan mendengus dengan senyuman tipis. Matanya hanya melihat Delan yang lebih mirip ayam betina yang belingsatan mencari tempat hendak bertelur.
"Dimana Om sembunyikan Viona!"
"Viona tak ada dirumah ini! Kalau kau tak percaya, cari dia... silakan!"
"Om! Jadi selama ini Viona ada bersama Om?"
"Ya. Memang. Kenapa? Bukankah sudah kau buang dengan tanpa perasaan?"
"Aku tak pernah membuang istriku. Tidak! Aku menyayangi Viona! Aku mencintainya!"
"Cinta? Cinta apa? Cinta yang bagaimana? Yang kau lupakan begitu saja setelah ada perempuan lain yang datang menggodamu?"
"Om... Aku khilaf Om! Sungguh benar-benar khilaf saat itu! Kurasa Om bisa mengerti aku. Usiaku masih muda, tapi sudah memiliki semuanya. Wajar saja jika aku sampai lupa diri! Kumohon, Om! Tolong pertemukan aku dengan Viona! Aku akan menjaganya sepenuh hati kali ini!"
__ADS_1
"Huh! Enaknya kau bilang!... Maaf Delan! Aku dan Viona akan segera menikah, setelah Viona melahirkan. Jadi..., tolong kau harus menjaga jarak dengannya nanti!"
"Om??? Apakah omongan Om itu benar?"
"Mana pernah aku bohong seperti mamamu si Tasya itu? Kau lihat,... dia... membohongiku, Tania juga kau dengan tanpa pikir panjang!"
"Mama melakukan itu karena keadaan!"
"Ya. Keadaan yang juga memasung dirinya karena terlena dibuai harta. Hidup nyaman, itu alasan!!!"
"Tapi Mama tak punya niat jahat pada Om dan Tante Tania! Hanya ingin dicinta juga disayang. Tak ingin yang lain!"
"Cinta, sayang... haus uang juga haus ketenaran! Tak peduli pada sepupu dan ponakan-ponakannya yang masih kecil-kecil saat itu!... Mamamu memang keren! (Prok prok prok)!"
"Jadi selama ini, Om tahu kisah Mama dan Papa juga tante Tania?"
"Aku tahu semuanya! Aku lihat semua kejahatan Mamamu juga Papamu! Hhh... Mereka pikir, hidup enak dan penuh kejayaan yang mereka pilih lewat jalan pintas itu akan abadi selamanya? Tidak, Delan!"
"Om... Kenapa Om tidak punya keinginan menyadarkan semuanya? Kenapa justru Om membiarkan Mama dan Papa terus menerus dalam kesesatan?"
"Aku? Aku menyadarkan mereka??? Kau tidak cukup tahu sifat dan watak mereka. Tasya dan Bams memang pasangan serasi. Pasangan bangs*t dan baj*ngan! Sama seperti dirimu dan juga Lady Navisha! Sama!!!"
Herdilan menjatuhkan tubuhnya didepan Jonathan. Tangisnya pecah, isaknya memuncah.
Ia memohon pada Omnya untuk kebaikan dipertemukan dengan Viona sang istri pertama.
"Om... Kumohon kebaikanmu, Om! Please... hik hik hiks...!"
"Begitukah, Jo?"
Jonathan dan Herdilan tersentak kaget.
Ada orang lain lagi ternyata yang ikut menyimak perdebatan mereka.
"Mas Bams!!!"
"Papa???"
Seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri sekitar lima meter dari Jo dan Delan.
Wajahnya hitam tapi pucat. Ubannya hampir kini menghabisi rambut hitamnya yang legam.
Bambang Suherman.
Berdiri dengan kaki sebelah agak terpincang-pincang dan mengucurkan darah segar.
Bambang kabur dari tahanan KPK???
Dan... tangan kanannya mengambil sesuatu. Sepucuk senjata api.
Herdilan yang masih terduduk dihadapan Jonathan membulatkan penglihatannya.
__ADS_1
"Papa!!! Apa yang Papa lakukan?"
"Diamlah Herdilan! Ini urusan Papa dengan cecunguk satu ini!"
"Hehehe... hebatnya kau Mas! Bisa melarikan diri dari tahanan kepolisian!"
Bambang tetap fokus pada Jonathan yang justru terlihat tenang. Bahkan Jo masih tertawa sambil melangkah pelan ke kanan dan ke kiri.
"Setelah kamu menyakiti hati saudaraku, kini kau masih belum sadarkan diri akan kelakuanmu yang salah!?" kata Jo membuat Bambang merebak bola matanya. Berkaca-kaca tapi tak turun air mata.
"Tania... telah tiada! Semua karena kau, Jo!!!"
"Kau gobl*k! Kau yang membunuhnya!!! Lewat tangan istri keduamu yang kau pelihara cukup lama!!! Kenapa kau salahkan aku!!!"
Jonathan berteriak keras. Mengacungkan telunjuknya pada kakak iparnya yang empat belas tahun lebih tua darinya.
"Kau yang membuat kehidupanku yang damai bersama Tania dan Tasya jadi hancur berantakan!" Kini Bambang yang berteriak.
"Ya Allah ya Tuhanku!!! Si laknat ini masih juga sombong tak sadar diri, kalau perbuatannya itu justru menghancurkan dirimu sendiri!"
Dor dor dor
Tiga kali peluru itu dikeluarkan dari revolver kaliber 9 mm yang Bambang pegang. Menembus dada dan perut Jonathan.
"Papa!!!" teriak Herdilan tak percaya.
Sedangkan Jonathan hanya melongo seraya memegangi dada dan perutnya yang terkoyak. Darah segar keluar merembes dari kulitnya lalu tembus ke pakaian Jonathan Lordess.
"Selamat, Bams! Kau kini adalah pengikut setan iblis di neraka jahanam! Selamat atas keberhasilanmu... menjadi pengabdi setan!" ujar Jo dengan tersenyum lebar.
Dooor...
Satu kali lagi tembakan Bambang. Tepat mengenai batok kepala sang adik ipar yang langsung terjelembab jatuh dengan bergelimangan darah.
Herdilan tak berani berkedip menatap sang Papa yang terlihat gagah berdiri di hadapannya. Matanya terus mengalirkan air seperti anak sungai yang banjir.
"Papa!!!" katanya dengan lirih.
Dan...
"Herdilan! Maafkan Papamu ini! Christian, Roger, Fika... Maafkan Papa! Maafkan...karena telsh menjadi Papa yang jahat!"
Dor!!!
Kali ini Bambang menembak kepalanya sendiri. Dan... tumbang setelah menjatuhkan senjata api yang sedari tadi dipegangnya.
"Papaaa...!!! Papaaa!!! Om Lordeeess!!! Tolooong! Siapapun tolooong!!!"
Suasana di siang pukul sebelas itu menjadi peristiwa berdarah yang paling memilukan dalam kehidupan seorang Herdilan Firlando.
Peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
__ADS_1