PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 MASIH CERITA HERDILAN FIRLANDO


__ADS_3

Herdilan tak habis fikir. Saat ini ia tengah gegana karena seorang wanita muda.


Rihana namanya. Kini sedang menangis sesegukan dalam sebuah kamar di lantai dua cafe Seruni sambil memegangi kedua kaki Delan.


"Hik hik hiks, Abang! Aku akan lakukan apapun perintah Abang, asal aku ikut Abang. Aku sudah seminggu ini luntang-lantung tak jelas tinggalnya. Menginap terus-terusan di kostan teman justru semakin menambah runyam. Teman-teman jadi kena tegur pemilik asrama yang tidak mengizinkan membawa teman menginap."


"Itu bukan urusanku! Lagipula jujur, aku gak kenal kamu. Bisa saja kamu menipuku, membawa barang-barang berhargaku setelah kutolong nantinya. Zaman ini zaman edan. Semua bisa saja terjadi khan? Bahkan kau pun tadi menawarkan dirimu ONS denganku. Hhh... Aku lebih respek dengan perempuan-perempuan gigih yang bekerja dengan tenaga meski hanya jadi babu TKW di negeri orang! Kalau kau hanya sekedar jadi ayam kampus di sini, lebih baik kau pulang ke Indonesia. Daripada tingkahmu memalukan bangsa. Untuk jadi pemersatu bangsa, tak perlu kau dagang diri. Kabari orangtuamu, minta dikirimi uang untuk ongkos pulang!"


Rihana berdiri. Merengkuh tubuh tegap Herdilan dengan erat.


Tangisnya pecah. Terdengar melambat dan lirih.


Tak urung hati Herdilan melunak juga.


"Berapa umurmu?"


"Dua puluh enam tahun, Bang!" jawab Rihana disela isak tangisnya.


"Kamu masih muda. Usiamu lebih muda sedikit dari adik bungsuku! Jangan sedih dan frustasi berkepanjangan, Rihana! Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Tapi bukan berarti kegagalan membuatmu gelap mata. Aku sangat mengerti kegundahan hatimu. Tapi mohon maaf,... aku tidak bisa membantumu! Aku memiliki seorang anak laki-laki yang menungguku pulang ke tanah air dengan selamat dan tidak berbuat onar di negeri orang!"


"Abang... sudah menikah?" tanya Rihana gelagapan.


Herdilan mengangguk.


"Sudah. Istriku malah ada dua! Maka dari itu, aku bukan pria yang beruang! Memangnya kau mau jadi istri ketigaku?" ujar Herdilan dengan gurauan ngasalnya. Ada benarnya juga ucapannya, meski itu di masa lalu.


Rihana terdiam. Masih dengan isakan yang perlahan berkurang.


"Kamu pasti belum makan!" tebak Herdilan. Karena ia mendengar bunyi perut Rihana yang keroncongan.


"Kalau hanya seporsi nasi menu paket hemat, aku bisa mentraktirmu! Ayo!"


Syukurlah, akhirnya aku punya akal juga untuk terbebas dari jerat cinta palsu perempuan ini! Meski harus berbohong dan menipunya dengan mengarang cerita masa lalu yang dilebih-lebihkan.


"Tapi..., bang Ciko pernah bilang, kalau Abang ini single!?"


"Itu hanya akal bulus. Supaya perempuan mau dekat."


"Apa...bukan sebaliknya? Abang berbohong padaku supaya aku tidak membebani hidup Abang?"

__ADS_1


Hhh... Asem! Ternyata perempuan ini lebih licik dan cerdas dari perkiraanku. Begitu gerutu hati Herdilan.


"Mau kutraktir makan gak?"


"Mau, Bang!"


Akhirnya sebuah kedai kecil di sudut jalan Chow Kit jadi pilihan Herdilan setelah keduanya keluar dari kamar dan pergi meninggalkan kafe yang lebih mirip night club itu.


Wajah Rihana nampak kuyu.


"Aku ke toilet dulu ya, Bang!"


"Pergilah! Makanannya juga belum datang!"


Rihana bergegas ke toilet yang ada di dalam kedai rumah makan mungil itu.


Ia hanya bisa menghela nafas berkali-kali.


Hatinya gamang. Antara malu dan gusar. Dirinya terlanjur mengumbar banyak cerita bohong pada pria dewasa yang dikiranya adalah pasangan gay. Ciko dan Herdilan.


Bagi Rihana yang penyuka BL, dua pria dewasa yang memiliki daya tarik tersendiri dan terlihat sangat akrab itu bagaikan pasangan kekasih sesama jenis.


Semua kesalahfahaman membuat Rihana seperti orang linglung. Ia menangis sendirian dengan berjongkok di sudut ruangan cafe yang saat itu masih tahap pembenahan menjelang pembukaan. Dan saat itulah ia mengenal Ciko, teman Herdilan.


Ciko terkejut mendapati dirinya yang sedang menangis seperti bocah ingusan kehilangan ibunda tercinta.


Perlahan dari obrolan yang menghibur, Ciko dan Rihana saling bertukar cerita. Tentang pekerjaan serta informasi pribadi kenapa mereka kini ada di negeri orang.


Rihana menceritakan kisah hidupnya detail pada Ciko yang dianggapnya pria dewasa dan matang.


Bahkan Ciko tak segan memberinya advis, nasehat serta masukan yang pada akhirnya membuat Rihana sedikit terbantu.


Rihana mendapatkan pekerjaan meski hanya beberapa hari saja di sebuah resto sebagai tenaga pengganti berkat Ciko.


Ciko juga jujur pada Rihana kalau ia adalah pria beristri dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil.


Disitulah Ciko menceritakan tentang Herdilan. Sahabatnya yang jomblo akut, katanya.


Rihana pernah bertemu Herdilan di cafe Seruni juga. Tapi tampang gantengnya mengisyaratkan kalau sahabat Ciko itu terlihat dingin dan menakutkan.

__ADS_1


Sehingga Rihana berani berasumsi kalau Herdilan seperti cemburu karena Ciko kenal dekat dengannya.


Namun yang jadi pikirannya, kenapa Ciko justru begitu gigih ingin mengenalkan Rihana lebih lanjut pada Herdilan. Bahkan seolah memberikan clue, bahwa Herdilan bisa membantunya melewati masa-masa sulit saat ini.


Hhh...


Rihana kembali ke meja pesanannya. Namun...


Ternyata Herdilan telah pergi. Hanya ada meja yang dipenuhi makanan pesanan yang telah di bayar Herdilan.


Tentu saja membuat Rihana kecewa berkali-kali lipat.


Treeet... treeet... treeet


"Bang Ciko?"


...[Sepertinya kamu tidak berhasil menakhlukan Herdilan ya, Ri?]...


"I iya. Maaf, Bang!"


...[Pepet terus dia. Aku ingin membuatnya kembali menjadi pria perkasa! Aku sedang mengusahakan rektor kampusmu untuk menarik keputusan mendrop outmu. Kalau kamu bisa mengubah Herdilan, akan aku perjuangkan kursi kelasmu kembali. Tinggal dua semester lagi, bukan?]...


"Iya, Bang! Tolong Ri, Bang!"


Rihana akhirnya mendapati alamat apartemen kontrakan Herdilan.


Ciko menyuruhnya agar datang kesana. Kalau perlu dengan membawa koper pakaiannya dan pindah ke rumah Herdilan.


Hhh... Lagi-lagi Rihana menarik nafas panjang.


Kepalanya hampir pecah. Hidupnya kini terlunta-lunta. Jatah bulanan yang biasanya mengalir lancar dari Ayah dan Ibu kini tiada lagi.


Bahkan kini ia pun harus keluar dari asrama putri yang disediakan pihak universitas bagi para mahasiswa-mahasiswi karena kasus salah nama.


Pihak kampus salah men-DO. Nama Rihana bukan hanya satu, tapi ada tiga. Rihana Deliapuspita, Rihana Wiriaatmaja, Rihana Diana Puspita.


Seharusnya yang di DO itu adalah Rihana Deliapuspita, mahasiswi asal Selangor itulah biang keroknya. Namun pihak kampus justru mengambil tindakan gegabah dengan langsung mengeluarkan bahkan mem-black list nama Rihana Diana Puspita, tanpa meminta konfirmasi terlebih dahulu dengan pertemuan empat mata.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2