PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 104 IN FRAME "KEJADIAN YANG MENIMPA KAK FIRMAN"


__ADS_3

Ketiga sahabat itu pergi. Setelah cukup lama bertemu dan saling canda, cerita, tukar fikiran bersama di cafe and resto favorit.


Semuanya pergi dengan tujuan kembali ke rumah masing-masing. Ira dan Viona telah pulang lebih dulu setelah taksi online pesanan mereka satu persatu datang.


Firman sendiri pulang dengan sepeda motor 2 tak kesayangannya, Yamaha RX Z warna hitam plat merah itu.


Tiba-tiba sebuah mobil Kijang Innova memepet terus kendaraan roda duanya hingga nyaris membuat Firman terjungkal.


Ia akhirnya berhenti untuk menegur si pengendara mobil yang tampak ugal-ugalan.


Tok tok tok


Firman mengetuk jendela kaca mobil itu.


Turunlah enam pria yang... yang tadi menegurnya di tempat berbeda!


Ternyata mereka membuntuti Firman dengan sengaja. Dan seperti memang memancing amarah Firman untuk baku hantam.


Benar saja...


"Kalian ada urusan denganku? Ada masalah apa?" tanyanya dengan mata terus menatap pada keenam pria yang satu persatu turun dari mobil.


Dug.


Salah seorang dari mereka menendang tulang kering Firman yang kurang waspada.


"Hei!! Kalian yang salah, beraninya kalian bikin masalah!"


Firman melotot kesal. Diperhatikannya satu persatu orang-orang itu untuk mengindentifikasi ciri-cirinya.


Bug.


Untungnya Firman berhasil mengelak.


Jedig.


Lagi-lagi satu bogem mentah hampir merontokkan giginya.


"Eit! Kenapa kalian malah ngeroyok aku?"


Desig...


Firman kembali berhasil mengelak. Cukup kewalahan juga ia karena dirempuk secara bersamaan dari seluruh arah.


Prak!


Sedikit kena bahu, dan... Firman lengah.


Bug! Bag bug.. Gedebag gedebug!


Terang saja Firman kalah. Karena mereka berenam, juga main curang main hantam dari belakang.


"Hei..., curang!! Anjirrr!!! Aish..."


Mereka menggebug Firman yang sempat terjatuh hingga tubuhnya jungkir balik di aspal jalanan.

__ADS_1


"Hei, bangsat!!! Satu lawan satu kalau berani! Jangan main keroyokan woy!!" teriak Firman di sela-sela pertarungannya yang tak seimbang.


Kakinya menendang keras perut seorang yang membawa senjata tajam hingga terpental jauh ke jalan raya.


Tring...(suara pisau yang nyaris mengenai perutnya)


Firman menghela nafas, sedikit lega karena nyawanya tadi hampir melayang kena libasan sajam.


Tapi pelipisnya terluka sedikit sayatan. Juga di atas bibir bagian kanan menetes darah segar. Sebelah pipi kanannya pun berdarah terkena senjata tajam yang salah seorang dari mereka hujamkan.


Seseorang mengambil kesempatan curang itu. Dengan tak berperasaan melayangkan bogem mentah pada Firman. Hingga ia terhuyung ketika perutnya ditinju.



"Benar-benar cecunguk kurang asem, kalian!" umpat Firman kesal.


Ia mencoba memutar otak. Berfikir keras mencari cara agar tak mati konyol di tangan orang-orang tak bertanggung jawab itu.


Ditengoknya jalanan kiri dan kanan. Lengang tak ada orang lalu lalang. Hanya satu dua kendaraan yang lewat itu pun cukup lama jeda setiap mobil atau pun motor.


Bisa mati konyol aku di sini kalau tidak melakukan tindakan pengalihan! kata hati kecilnya.


Firman mencari-cari sesuatu.


Satu tangan sigap mengambil handphone di saku jaket parasutnya. Lalu segera menekan tombol panggilan darurat dan menyalakan kunci kontak motor yang di setel alarm tanda bahaya yang suaranya mirip sirene hingga memancing perhatian pengendara lain.


Ini membuat beberapa orang datang dan melihat kerumunan para pengeroyok Firman.


"Telepon Polisi, tolong telepon Polisi! Preman-preman ini ingin memeras saya!" teriak Firman.


"Mas, ga papa khan?" tanya seorang bapak pengendara mobil bak terbuka.


"Alhamdulillah, Pak! Terima kasih sudah menolong saya!"


"Ada barang yang di ambil gak? Mau saya antar ke kantor polisi untuk buat laporan?" tanya bapak baik hati itu.


"Tidak usah, Pak! Terima kasih. Untungnya tidak ada yang sempat mereka ambil! Mereka sepertinya bukan perampok asli, karena mereka lebih bonafid naik mobil. Saya malah naik motor, Pak! Hehehe..."


Firman tersenyum kecut. Begitu juga sang bapak penolong dan beberapa pengendara sepeda motor yang sempat turun tadi.


"Terima kasih banyak, Pak!"


"Ya sudah. Hati-hati mas bawa kendaraannya!"


"Iya, Pak! Saya pamit, permisi!"


Keadaan kembali kondusif dan satu persatu kendaraan melanjutkan perjalanan. Begitu juga Firman.


Sebelumnya ia memperbaharui status WA. Mencoba memberi keterangan dengan menposting wajah yang berdarah agar teman-teman persnya melihat.


Dan benar saja. Hapenya krang-kring langsung banyak yang chat juga menelpon.


Karena tanggung, Firman tetap lanjutkan perjalanan tanpa hiraukan ponselnya yang menyala terus-terusan.


Cukup pusing juga karena telepon itu tak berhenti.

__ADS_1


Viona!?!


Firman degdegan, ternyata Viona yang menelponnya.


"Hallo..."


...[Kak Firman! Gimana keadaanmu? Kakak sekarang ada dimana? Apa sudah ditangani dokter? Kak...]...


"Hehehe... Aku baik-baik saja, Vi! Jangan kuatir. Aku khan jagoan neon!"


...[Kakaaak... aku serius! Kamu dimana sekarang]...


"Masih di jalan! Di daerah Bungur, Vi!"


...[Ya udah, ambil jalur kanan Galur! Mampir ke rumah Ayahku, biar aku obati mukanya kakak!]...


Firman termangu mendengar ucapan.


...[Hallo!? Kak Firman? Kakak tahu alamat rumah orangtuaku khan?]...


"I-iya, Vi!"


...[Lanjut jalan, hati-hati ya kak?!]...


Pria bujangan itu langsung tancap gas meluncur ke arah yang Viona sebutkan tadi dengan senyum mengembang.


Telah lama ia menunggu kesempatan bagus ini.


Bahkan sedari dulu, ketika masa-masa kuliah mereka. Firman sebenarnya sering menstalker Viona hingga rumahnya. Menunggu gadis itu mengajak main meski basa-basi saja.


Tapi... saat itu dia terlalu takut untuk mendekati putri tentara berseragam loreng itu. Firman minder karena orangtuanya yang tak berpunya.


Berbeda dengan Mutia Permata yang sederajat dengannya, sama-sama orang biasa. Sehingga Firman lebih berani mendekati Muti yang saat itu sedang mengikuti ajang pencarian bakat di dunia modeling.


Ternyata Mutia memiliki perasaan yang sama dengan Firman, hingga akhirnya mereka memutuskan 'mengembangkan layar' dengan status berpacaran.


Sayangnya ditengah perjalanan dan di saat kiprah Mutia di dunia modelling berkibar, gadis itu berubah. Ia memutuskan tali pertunangannya dengan Firman dengan alasan sudah tak sejalan lagi.


Hiks. Kejamnya cinta.


Ternyata... Mutia lebih tertarik pada pemuda kaya raya yang sedang PDKT dengannya. Christian Suherman namanya.


Padahal Firman dan Mutia sudah terikat tali pertunangan. Dan ada rencana menikah dua tahun setelah sarjana.


Meski hanya cincin 24 kerat seberat lima gram saja, namun itu cukup mengikat hubungan keduanya. Seharusnya.


Tapi seperti yang Ira kata, dua tahun harus kalah dengan dua bulan.


Lepas dari Firman, empat bulan kemudian Mutia Permata Melody menikah dengan pria muda tampan, kaya tajir melintir itu. Lalu melahirkan sepasang bayi kembar lima bulan kemudian.


Berarti...


Hhh...


Firman menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghapus memori ingatannya tentang Mutia. Lalu kembali tersenyum mengingat Viona.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2