PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 IN FRAME "DUKA HERDILAH FIRLANDO"


__ADS_3

Tiga puluh jam, ponsel Herdilan tidak diaktifkan. Pekerjaannya menuntut loyalitas dan fokus yang tinggi dalam mengerjakan tugasnya kali ini.


Sebenarnya sejak kemarin tubuhnya sedikit lemas. Mungkin karena home sick atau memang cuaca pancaroba yang tak menentu. Tapi Herdilan harus tetap semangat menjalani rutinitasnya sebagai seorang pekerja.


Apalagi ia ada di negeri orang. Tak ada satu pun kerabat di tempatnya tinggal. Hanya beberapa teman dan sahabat sesama warga negara Indonesia saja yang ia kenal.


Membuatnya tak berani main-main apalagi macam-macam, dalam urusan pekerjaan. Semua tertulis ketat di peraturan kontrak kerjanya yang masih delapan bulan lagi.


Pukul sebelas siang, ia baru kembali mengaktifkan hapenya.


Terkejut melihat banyak notice yang masuk. Bahkan ada puluhan panggilan tak terjawab dari Christian, Roger, Fika. Bahkan juga Viona yang tak pernah menghubunginya pun ikut melakukan panggilan telepon kepadanya.


Deg.


Jantung Herdilan bagaikan kena hantaman palu besar.


Sakit sekali rasanya.


Seketika... tubuhnya lemas dan ambruk di tanah.


"Mama...! Mamaaa!!!" pekik Herdilan keras membuat beberapa rekan yang ada di sampingnya terkejut mendengar teriakannya.


Ia shock membaca japrian Christian. Katanya Mama Tasya meninggal dunia pukul setengah enam sore kemarin, dan dikebumikan pukul sembilan pagi tadi.


Air matanya turun deras.


Ia segera menelpon balik sang kakak tiri.

__ADS_1


"Mas! Mas Chris!!! Mama, Mamaku mana Mas?! Hik hik hiks..."


...[Herdilan,... tabahkan hatimu. Mamamu sudah bahagia disisi Allah Ta'ala. Yang kuat ya?! Kami disini mendoakanmu juga!]...


Christian mengganti panggilan Herdilan dengan Video call ke layar ponsel dan dialihkan ke layar televisi. Hingga tampak seluruh keluarganya yang berkumpul di rumah almarhum om Jonathan Lordess.


"Papiii!!!" Dzakki berteriak memanggil Delan yang terlihat dilayar tv.


...[Dzakki!!! Hik hik hik... Dzakki. Oma Tasya...]...


"Iya, Pi! Oma meninggal huhuhu...hiks! Papi kapan pulang?"


...[Entah, Nak! Papi mau pulang. Tapi... semoga bisa dapat izin!]...


Herdilan berurai air mata. Terlihat olehnya, wajah-wajah lesu yang sedih setelah pemakaman ibundanya tercinta.


Hanya ucapan terima kasih yang bisa ia haturkan pada semua saudaranya.


Herdilan kembali terpuruk, setelah menutup panggilannya. Menangis ia meraung-raung di lantai.


Mama yang selama ini selalu ada di sisinya. Dalam suka maupun duka. Dalam senang juga sedihnya. Kini telah tiada.


Mamanya telah meninggal dunia. Pergi untuk selama-lamanya.


Ia terisak sendiri. Dengan diusap perlahan punggungnya oleh beberapa teman kerjanya yang turun prihatin.


Kini ia benar-benar sendiri. Sebatang kara. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Dan gelar yatim piatu pun menjadikannya semakin sedih menambah gelar duda yang disandangnya.

__ADS_1


"Yang sabar, Lan! Kuatkan dirimu, tabahkan hatimu!"


Herdilan bangkit. Ia menuju ruang manager kantor tempatnya bekerja. Mencoba bernegosiasi agar bisa kembali pulang ke tanah air segera. Entah bagaimanapun caranya.


Meski ia harus mendapatkan sanksi. Herdilan tak peduli.


Ia benar-benar ingin pulang.


Setelah cukup lama dan cukup alot pembicaraan yang tak ada ujung pangkalnya, Herdilan keluar dari ruangan sang manager dengan muka masam.


Kini ia mencoba menghubungi Ciko, teman yang mengajaknya untuk bergabung dalam usaha bersama ini.


Saat ini ia dan Ciko memang sedang tidak satu tempat kerja.


Ciko memintanya untuk bertahan selama seminggu. Sampai pengerjaan dekorasi dinding kantor trading dan cafe yang memakai jasa mereka itu selesai digarap sesuai perjanjian pemesanan.


Ciko akan mencoba melakukan lobi agar bisa mengganti Herdilan dengan teman lainnya. Ia faham keadaan teman di masa SMA nya itu sedang berkabung. Ia juga mengerti perasaan Herdilan yang ingin segera pulang karena sang Mama yang berpulang ke Rahmatullah.


Akhirnya, Delan harus menahan rasa sabarnya untuk satu minggu ke depan. Padahal acara tahlilan sang Mama sudah lepas lebih satu minggu. Membuatnya hanya bisa menghela nafas. Kesal.


Begitulah. Kerja di negri orang. Konsekuensinya ya seperti ini. Tak bisa pulang segera jika terjadi sesuatu di negeri asal.


Baik itu keadaan duka, begitu juga dalam suka. Ia tak boleh sesuka hati melepaskan pekerjaan yang sudah mengkontraknya kerja.


Hhh...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2