
"Vi, nih minum!"
Lady tadi izin meninggalkanku untuk membeli minuman.
"Apaan nih?!?"
"Katanya sih coctail! Coba aja!"
Rasanya... manis agak asam semriwing.
"Minuman apaan sih ni, Dy? Rasanya aneh. Ada rasa-rasa sodanya tapi asem manis!"
"Ya mana gue tau, bisa jadi asinan buah dicampur sprite! Orang kampus koq yang sediain! Mana mungkin ada alkoholnya!"
Aku terpaku. Lady menyeringai membuatku malu hati.
"Sorry,... hehehe!"
"Emang lo, dasar! Udah untung gue ambilin!"
Aku tak bermaksud curiga pada Lady Navisha. Tapi melihat gelagatnya yang sampai setengah jam meninggalkanku sendirian membuatku bertanya-tanya. Dari mana dia, dan minuman ini beli di mana.
Kami kembali asyik menikmati suasana. Meski terdengar hingar-bingar, tapi para maba dan senior kampus berbaur tanpa ada sekatan membuatku enjoy.
"Vio! Ini udah jam sembilan lewat! Lo ga takut bokap lo ngadat!"
Aku terkejut ketika Ira tiba-tiba menepuk pundakku, mengingatkan batas waktu yang Ayah berikan.
"Iya, Ra! Hampir lupa, gue!"
"Lo mau pulang sekarang? Tanggung kali', bentar lagi band favorit lo tampil!"
"Takutnya perjalanan pulang macet, Dy! Gue mesti balik sekarang!"
"Haish, ga asik lo ah!" semprot Lady padaku. Matanya menyorot ke arah Ira, teman sekelasku yang membuatku jadi ingat waktu pulang.
"Gue sih cuma ngingetin temen gue ya! Ga ada urusan sama elo!" celetuk Ira sambil berlalu pergi.
Entah kenapa, kedua temanku itu terlihat tidak bisa saling akur dan berteman baik.
Jika aku sedang bersama Ira, Lady tak kan pernah mau ikut gabung bersama kami. Begitu sebaliknya.
Tapi aku tahu, kedua temanku itu orang baik. Juga teman yang asyik dengan karakter dan gaya serta sifat berbeda.
Perlahan kumulai bisa membaca kepribadian Lady juga Ira.
"Aku pulang dulu ya, Dy!"
Aku segera bangkit dari kursi penonton di area panggung.
"Serah lo deh!" katanya kesal.
Mau tak mau kulemparkan senyuman nakal untuk menggodanya.
"Moga pulang nanti ada alumnus ganteng tajir yang nganterin lo!" bisikku di telinganya.
Lady tersenyum kecut. Tapi bibirnya menjawab 'aamiin'. Pertanda kini moodnya kembali menaik meski masih kesal padaku.
Aku segera mengambil kunci kontak motor matic yang ada di tas kecil. Berjalan perlahan ke arah basement menuju parkiran.
__ADS_1
Duk.
"Aduh!!!"
Hhh... Tubuhku terhempas kelantai. Seseorang menabrak dengan kecepatan larinya yang luar biasa.
"Maaf!!!" katanya sambil segera membantuku berdiri.
"Delan?"
"Viona?"
"Ish...! Kenapa sih pake lari-lari di koridor?" umpatku padanya.
Kesalku meninggi mengetahui orang yang menabrakku tadi.
"Maaf, Vi! Gue dapet telepon dari ketua HIMA ada kejadian di lantai dasar katanya."
"Kejadian apa?"
"Ada alumnus yang terdeteksi memakai narkoba!"
Aku merasa kepalaku pusing. Tampak samar dan mata kunang-kunang.
"Apaan tadi kata lo, Del?"
Bruk!
Entah apa yang terjadi padaku setelah itu. Yang pasti, aku sama sekali tak sadarkan diri.
Flash on...
Herdilan Firlando tampak kebingungan melihat Viona Yuliana tiba-tiba jatuh terkulai.
Gadis yang pertama kali ia lihat dan ternyata sekampus sejurusan bahkan sekelas itu kini tak sadarkan diri.
Sewaktu ia hendak mendaftar di kampus ini, Herdilan melihat sesosok gadis manis juga mendaftar seorang diri sama sepertinya.
Ketika Delan ingin mendekatinya, ternyata Viona didatangi seseorang berseragam tentara. Yang ternyata adalah ayahnya.
Anak tentara rupanya, begitu isi hati Delan menebak Viona.
Sayangnya, gadis itu dingin dan tak tertarik berteman dengannya hingga diawal jumpa sampai saat ini pun.
Seperti ada sesuatu 'pagar' yang selalu menghalanginya untuk dekat-dekat Vio.
Katanya Ira, memang Viona itu tidak terlalu nyaman berteman dengan cowok sejak SMU juga. Karena pergaulan dan circle pertemanannya yang memang sangat dibatasi kedua orang tuanya.
Jujur, Delan sebenarnya menyukai kecantikan alami Viona sedari awal. Tapi,... berhubung Vio seperti sama sekali tak tertarik bahkan terkesan jutek membuat ia perlahan agak membatasi diri mendekati Viona.
Kini Delan memangku tubuh gadis itu menuju mobilnya.
Agak bingung hendak dibawa kemana karena ia memang tak tahu dimana rumah Viona.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat dua menit.
Treeet treeet treeet...
Delan mendengar handphone milik Viona berbunyi.
__ADS_1
Ia mencoba mencari dalam tas ransel kecil milik gadisku. Dan...
"Hallo, ini Herdilan temennya Viona! Maaf, Vionanya pingsan!" tuturnya setelah menekan tombol jawab di hape Viona.
...[Dimana putri saya sekarang?]...
"Oh iya om, kami ada di parkiran! Di area D2. Saya bawa mobil pajero warna putih om!"
...[Ya udah, tolong tunggu ya! Saya jemput kesitu!]...
"Baik Om!"
Ternyata papanya jemput! Orangtua yang sangat peduli anak! gumam Delan dalam hati.
Tidak seperti dia, anak tunggal... bukan anak sembarangan pula.Tapi sangat kekurangan kasih sayang. Bahkan statusnya yang penuh misteri hanya bisa ia sembunyikan hingga hari ini.
Herdilan Firlando. Anak simpanan seorang pejabat penting di negara ini. Papanya seorang pengusaha ternama. Cukup disegani bahkan nama beliau masuk dalam jajaran pengusaha hebat di salah satu majalah bisnis.
Sayangnya, sang papi menikahi siri mamanya 20 tahun lalu. Dan sampai kini status mereka masih disembunyikan dari keluarga besar pengusaha Bambang Suherman, nama sang papa.
Treeet treeet treeet...
Hape Viona berdering lagi.
Kali ini Delan keluar dari mobil. Terlebih setelah melihat sebuah mobil Avanza warna hitam masuk parkiran, mengklakson dan memberi kode kalau itu adalah kendaraan ayahnya Viona.
"Viona di sini, Om!" kata Delan dengan agak keras.
Pria paruh baya yang kini berpakaian biasa itu keluar dari mobilnya.
Bergegas berjalan menuju mobil Delan.
"Kenapa dengan anak saya?" tanyanya tegas.
"Saya juga tidak tahu, Om!" jawab Delan.
"Saya minta nomor hapemu, anak muda! Siapa namamu? Dan apa hubunganmu sama anak saya?"
"Saya Herdilan Firlando, Om! Teman sekelas Viona meski kami bukan teman akrab juga. Tadi kami papasan di koridor basement. Tiba-tiba Vio pingsan, saya bingung... mau di antar kemana! Tak lama bapak telepon ke hape Vio. Jadi saya angkat!"
"Saya Chandra Triono! Terima kasih banyak atas bantuannya, Herdilan!"
"Sama-sama, Pak! Cukup panggil Delan saja! Hehehe..."
Delan membantu pak Chandra membukakan pintu mobilnya karena beliau menggendong tubuh Viona sampai mobilnya.
"Sekali lagi, terima kasih Delan! Kapan-kapan kita bisa hangout ngopi bareng. Dan jangan kaget kalau sesekali saya menjapri nomormu!"
"Hehehe... siap pak! Dengan senang hati saya terima!"
Pak Chandra mengangguk. Cukup puas ia melihat kesopanan serta ketegasan Delan dalam berbicara. Pertanda kalau pemuda yang telah membantu putrinya itu adalah pemuda yang baik dan punya tanggungjawab yang cukup tinggi.
Mobil yang dikendarai pak Chandra meluncur keluar area parkiran. Kini tinggal Delan termangu sendirian.
Moga Viona baik-baik saja keadaannya. Kata hati kecil Delan.
Kini ia kembali mengunci pintu mobilnya. Lalu bergegas melanjutkan tugasnya yang belum selesai sebagai salah satu anggota panitia acara pagelaran musik kampus. Konon acara baru akan selesai pukul sebelas malam.
...πππBERSAMBUNGπππ...
__ADS_1