PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 62 Seperti Di Alam Mimpi


__ADS_3

Jonathan merawatku hingga benar-benar sehat kembali. Aku juga tak mau mereportkannya terus. Terlebih sepertinya aku sudah lebih dua puluh empat jam berada dalam rumah besarnya yang sunyi.


Jo terlihat tenang duduk di sofanya sebrang ranjang tempatku berbaring.



Ia terlihat serius membaca novel tebalnya yang berjudul 'Memoirs of a Geisha' karya Arthur Golden.


Aku bisa melihat sampulnya dari jarak dua meter itu dan terbaca judulnya.


Sesekali ia duduk bersandar ke sandaran sofa, dengan kaki ditaikkan di mejanya. Terlihat begitu santai dan tenang.


"Jo... Terimakasih atas pertolongannya. Saya sangat bersyukur karena Jo mengurus saya hingga pulih kembali!"


"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan mata membulat.


"Saya sudah merepotkan di sini! Saya mau pulang ke rumah almarhum orangtua saya."


Jonathan berdiri dari duduknya. Berjalan menghampiriku dan meraba dahiku dengan tangan lembutnya.


"Kamu masih sedikit demam! Nanti aku antarkan kalau keadaanmu sudah lebih baik. Aku masih menunggu cerita hidupmu yang miris, Viona! Yang membuatmu nekad menceburkan diri ke sungai yang sedang banjir karena hujan deras! Bahkan kalau saja kami menolongmu bersama-sama, pasti kami ikut terbawa arus dan hanyut juga."


Aku melongo. Ternyata dia memanggil namaku dan membeberkan cerita tentang penyelamatanku yang berlangsung dramatis.


"Jo..."


"Yang menolongmu masih dalam kondisi sakit saat ini. Jadi, aku belum bisa berkata kalau ia baik-baik saja."


Aku menatap bola matanya yang ternyata berwarna coklat indah.


"Mau kuantar menengoknya di paviliun sebelah?" tanyanya kini kembali lembut intonasinya.


Aku mengangguk.


Ternyata... rumah ini adalah memiliki sebuah bangunan kecil yang tadi Jonathan sebut paviliun.


Seorang pria agak lebih muda terbaring berselimut tebal tengah tertidur pulas.


"Tuan Besar!"


"Tini, bagaimana Kenken? Sudah lebih baik?" tanyanya pada perempuan paruh baya yang mengurus pria penolongku itu.

__ADS_1


"Sudah lebih baik. Sudah makan dan minum obat, Tuan!" jawab si mbak nya yang bernama Tini itu.


"Ken! Bangunlah sebentar. Ini nona yang kamu selamatkan kemarin, mau berterima kasih padamu!"


"Tuan... hehehe, tak usah nona! Saya menolong nona karena posisinya kami saat itu di situ, melihat nona yang menceburkan diri ke sungai berarus deras. Untung Tuan Besar dan beberapa orang menolong juga. Jadi kita selamat!"


Aku mengangguk berkali-kali. Tanpa sadar airmataku menetes. Betapa banyaknya orang lain yang jadi susah karena tingkah bunuh diriku yang 'gagal'.


"Sudah sadar, Viona? Betapa berharganya nyawamu itu? Bagaimana?"


Pertanyaan Jonathan membuatku menoleh kearahnya dan netra kami beradu pandang.


Ya. Aku baru sadar... berapa nyawa yang hampir 'melayang' hanya karena ingin menyelamatkan tubuhku yang nyaris tenggelam terbawa arus karena memang sengaja kulakukan.


"Jangan pernah bertindak dan bertingkah bodoh, Viona! Tuhan membenci perbuatan itu! Dan setan bergembira-ria menyambut kedatanganmu menjadi makhluk sebangsa mereka yakni jadi demit alias memedi!"


Aku tercekat. Perkataan Jonathan pelan dan santai. Tapi terdengar sangat mengena' dihati. Bahkan membuatku menunduk malu pada perbuatanku sendiri.


"Setiap umat selalu Tuhan kasih cobaan. Tapi niat Tuhan bukan untuk menghancurkan. Namun untuk membuat umat itu semakin kuat dan mampu melangkah ke tahap peningkatan selanjutnya. Bukan untuk menjerumuskan dan kesesatan itu adalah murni kesalahan umat itu sendiri."


Lagi-lagi perkataan Jonathan membuatku termenung semakin dalam.


Penampilannya tidak seperti seorang yang agamis. Tapi ucapan Jonathan mampu membuatku tenggelam dalam penyesalan dan isak tangis hingga aku kembali histeris sampai berjongkok dan terduduk di lantai kamar paviliun Kenken.


"Maaf, Viona! Aku hanya ingin membuka matamu, betapa Maha Besarnya Tuhan dan jangan karena kehidupanmu yang hancur lalu kau nekad menyalahkan-Nya lalu membunuh dirimu sendiri demi bertemu Tuhan!"


Aku menutup wajahku. Menangis tersedu kini sendirian. Tapi itu hanya sebentar. Karena Jonathan kembali merangkulku, dan ia juga ikutan menangis lagi?


...♧♧♧♧♧♧...


Mbak Tini menghidangkan makan siang di meja bundar rumah besar Jonathan. Beraneka ragam menu masakannya. Bahkan semuanya menu khas orang Indonesia.


"Makanlah dulu, Viona! Jangan lupa doa, agar Tuhan memberkahi hidup kita dan setan tidak ikut numpang makan sama kita!"


Jonathan tersenyum, membuatku ikut tertawa kecil.


Pria ini sangat lucu ternyata, meskipun terlihat sopan dan juga agamis.


Jonathan menengadahkan kedua tangannya. Membuatku ikut gayanya dan menoleh ke arahnya lagi setelah ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Ternyata dia muslim. Kukira non muslim, karena wajah tampannya lebih condong ke arah blasteran luar.

__ADS_1


Kuperhatikan caranya Jo makan, kalem tapi pasti. Bahkan tak terdengar suara decitan sama sekali. Benar-benar bangsawan sejati.


Aku memilih sayur sop dengan tetelan daging sapi yang menggugah selera.


Krucuk krucuk...



Jonathan tersenyum lebar, manis sekali wajahnya. Ia menyodorkan menu lainnya padaku. Mungkin ia kasihan pada cacing-cacing yang kelaparan di perutku karena dari kemarin tak ada satu pun makanan yang masuk.


Tiba-tiba perutku mual... dan,


"Oek..."


Aku tak kuat menahan rasa mual ini. Berdiri sambil menutup mulut karena tak sopan, mau muntah di meja makan.


"Toilet sebelah sana!" tutur Jonathan menunjuk ke arah selatan.


Aku mengangguk, lalu terbang melesat ke arah toilet.


Mual, tapi tak muntah-muntah layaknya orang sakit atau keracunan makanan.


Mbak Tini membantu mengusapkan minyak kayu putih ke tengkuk ini agar sedikit berkurang rasa mualku.


"Aduh, Mbak! Terima kasih banyak!" kataku dengan membungkuk malu.


"Jangan sungkan, Nona! Nona harus banyak makan dan minum vitamin yang Tuan Besar sarankan, karena nona sedang hamil!"


Hah??? Aku? Hamil?


"Mbak Tini bilang apa? Saya hamil? Mana bisa tahu sembarang? Saya juga tidak sedang hamil!"


"Maaf, kemarin nona pingsan seharian. Dokter Lena yang datang memeriksa keadaan nona mengatakan kalau nona sedang mengandung tiga bulan."


"Apa???"


Pucat pasi wajahku mendengar penuturan mbak Tini.


Gubrak.


Aku kembali pingsan.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2