
Viona naik taksi online yang ia pesan. Namun ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya.
Pemilik mata itu langsung keluar mobilnya. Berlari ke arah Viona yang lebih dulu masuk dan kendaraan yang ditumpanginya berjalan perlahan.
"Vionaa! Viona, tunggu! Vionaaa!!!"
Ya. Dia adalah Herdilan Firlando. Mantan suami Viona Yuliana.
Herdilan kembali bergegas ke mobilnya. Menyalakan mesin lalu ikut tancap gas mengejar taksi online yang membawa Viona pergi.
"Haish! Macet pula! Aaaarrrghh... Aku kehilangan jejak Viona!" umpatnya kesal.
Herdilan yang masih berkutat di jalanan macet ibukota di pukul enam menjelang Maghrib akhirnya harus menerima nasib kehilangan jejak istri pertamanya itu.
Tuhan... Mengapa aku jadi seperti ini! Hhh... Padahal ketika aku menikah dengan Viona, semua terasa indah. Semua terasa mudah. Bahkan dengan kekayaan yang dimiliki Mama, aku ikut maju menjadi seorang CEO di perusahaan media Mama. Tapi kini... setelah Viona pergi, bertubi-tubi masalah datang silih berganti. Semua keberuntungan berganti menjadi kesialan bagiku kini! Hhh...
Delan bergelut dengan fikirannya sendiri. Mengusap raut wajahnya yang kusam. Dan mengetuk-ngetuk kepalan tangannya ke atas bibirnya berkali-kali.
Mesin mobilnya nyaris terhenti, ditengah macet parah yang menjebaknya.
...πππππ...
Sementara Viona telah sampai di rumah rahasia Jo. Rahasia dari sang sepupu, Tasya Jessica.
Bi Tini menyambut Viona dengan suka cita. Wanita yang usianya sekitar tiga puluhan itu segera menyiapkan kamar lalu memasak banyak makanan.
Jonathan telah menitip pesan, jika Viona datang Tini harus membuat perempuan hamil itu merasa nyaman di rumahnya.
"Nona... makan dulu!" kata Tini memanggil sang calon Nyonya di kamar yang telah ia siapkan.
__ADS_1
"Iya, Bi!"
Seperti biasa. Semeja makan penuh dengan berbagai menu masakan bi Tini.
"Bibi masak sebanyak ini, apa tidak mubazir?" tanya Viona merasa tak enak hati. Ia baru menyadari kalau penghuni rumah ini hanyalah beberapa orang saja. Namun setiap kali ia makan, bi Tini memasak tanpa banyak fikiran. Semua di masak hingga penuh meja bundar yang sebesar ini pun.
"Jangan khawatir, Non! Saya sudah biasa memasak sebanyak ini. Dan Kenken akan membawa semua makanan ini ke sebuah rumah singgah di tengah kota. Semua atas perintah Tuan Jo, Nona!"
Viona terpana, ternyata semua yang diurus Jonathan selalu terarah dan teratur rapi.
Tiba-tiba Viona ingin video call-an dengan Jonathan. Ingin melihat sedang apa pria yang jadi paman kaki panjangnya itu di sana. Apa sudah makan atau belum.
Tapi sebelumnya Viona menchat Jo, menunggu pria dewasa itu membalasnya dulu baru ia akan mengutarakan keinginannya yang sangat aneh itu.
...Kakak, sudah makan belum?...
Viona melanjutkan makannya sambil melirik sesekali ke arah ponsel yang tergeletak anteng tanpa balasan chat dari Jo.
Kenapa belum dibalas? gumam hati kecil Viona penasaran.
Mungkin sedang sibuk! Secara ini baru pukul enam tiga puluh lima menit. Tapi... Singapura bukannya lebih cepat satu jam dibanding Jakarta ya?
Viona berhenti sesaat mengunyah sayuran yang ada di mulutnya. Fikirannya menerawang. Berarti di sana sekarang pukul tujuh tiga puluh lima menit.
Dan ini malam minggu!
Jantung Viona berdebar kencang. Mengingat kalau ini adalah malam panjang bagi seseorang yang single.
Kak Jo single! Sekarang ada di 'kota Singa'. Kota yang diidentikkan dengan kota yang tak pernah tidur. Banyak cewek cantik juga single di sana. Apalagi... seluruh keluarganya berkumpul di sana! Pasti semuanya ingin kak Jo segera melepas masa lajang dan memiliki kehidupan rumah tangga sebagai seorang suami. Lalu, aku... bagaimana? Jika kak Jo kepincut gadis Singapura?
__ADS_1
Viona mengambil hapenya.
Memeriksa chatnya lagi yang ditujukan pada Jonathan.
Ceklis dua tapi belum centang biru. Membuat dada Viona berdesir halus. Rasa yang sangat menyiksa. Dan ia ingin segera menelpon Jonathan tapi malu untuk mengambil langkah duluan
"Please, Kak Jo! Baca dong, chatku! Please...jawab! Kamu ada dimana sih?!?" gumamnya bertanya sendiri.
Bibi Tini yang kembali dari dapur memperhatikan tingkah Viona yang sedikit aneh.
"Nona, sudah makannya?" tanyanya memastikan sang Nona yang sedang hamil itu.
"Iya, Bi!"
"Nona Viona mau sesuatu?" tanya bi Tini lagi. Karena sedari tadi ia perhatikan, Viona seperti gelisah dan menunggu sesuatu.
"Tidak, Bi!"
Viona masuk ke kamarnya lagi. Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Kini Viona merasakan arti dari kalimat itu.
Tak ada jawaban dari Jonathan, membuat Viona jadi merana. Seperti seekor ikan yang menggelepar, butuh semprotan air untuknya melanjutkan kehidupan.
Jo adalah paman berkaki panjangnya. Yang selalu ia andalkan dalam setiap situasi seperti ini.
Ia bingung, khawatir juga cemas. Karena kasus papa Bambang mantan mertuanya bukanlah kasus kecil. Ditambah lagi sepertinya almarhum Ayahnya pun terlibat juga. Entahlah... Viona sangat gugup.
Lama menunggu membuat jenuh. Air mata Viona kembali jatuh. Ragu dan bimbang, haruskah ia yang menelpon Jonathan lebih dulu. Tapi khawatir malah merepotkan om dari mantan suaminya itu.
Detik demi detik jam di dinding terasa lambat bergerak. Semenit dua menit, Viona dari duduk sampai rebah menunggu balasan dari Jonathan Lordess.
__ADS_1
Hingga mata Viona yang basah perlahan terpejam dan terbang ke alam mimpi.
...β€β€β€BERSAMBUNGβ€β€β€...