
Viona dan Roger menikah pada akhirnya. Tentu saja mereka berdua sangat bahagia. Juga Dzakki, putra tunggal Viona. Akhirnya melihat sang Mami dan Ayah Kesayangannya bersanding di pelaminan.
Namun ternyata ada juga yang kecewa. Dan patah hatinya. Selain Herdilan Firlando tentunya.
Dia adalah dokter Diandra Alexander. Orang yang sempat ingin dijodohkan Christian dengan Viona.
Namun ternyata keputusan Tuhan-lah Yang Tertinggi. Viona justru berjodoh dengan Roger. Adik kandung Christian sendiri.
Apa mau dikata. Semua sudah Ketentuan Illahi. Christian juga telah meluruskan dan meminta maaf pada Diandra. Kalau ternyata Viona lebih memilih Roger menjadi suaminya.
Jodoh di Tangan Tuhan. Semua adalah Ketentuan-Nya.
Meskipun Diandra berjuang mati-matian, tapi kalau pada akhirnya Roger pula yang bersanding dengan Viona. Mau dikata apa.
"Pappa pappa... adek Dzakki, ayo! Humah adek Dzakkiii..."
Diandra kesal mendengar anaknya, Dirga terus-terusan meminta sang Papa untuk mempertemukannya dengan Dzakki.
"Tidak bisa, Abang! Dzakki sekolah, juga pasti sedang liburan setelah Maminya menikah! Ayo kita pergi ke mall!"
Dirga cemberut kesal. Tapi menurut ketika Diandra menyalini pakaiannya meniadi lebih rapi dan tampan.
"Hana, Pa?"
"Kita ke mall, ya? Makan es krim? Okey?"
"Humah adek Dzakki! Abang hau humah adek Dzakki!!!"
"Iya, Sayang! Kita ke Mall dulu, siapa tahu ketemu adek Dzakki. Iya?"
Diandra mengangguk.
Akhirnya Bapak dan anak itupun pergi keluar rumah. Setelah Dirga sempat ngambek dan kekeuh ingin ketemu Dzakki.
Hhh... Ya Tuhan! Kenapa aku jadi sangat lelah dan beban dalam mengurus Diandra sejak Viona menikah dengan Roger? Hhh... Andai saja Viona menikah denganku, hhh... andaikan tidak ada Roger di antara kami. Aku dan Viona pasti sudah menikah!
Helaan nafas Diandra serasa kian berat. Diandra kini sudah mau sebelas tahun. Tapi dirinya belum juga memiliki istri. Yang mau mengurusnya serta Dirga.
Hhh...
Betapa berat ujian hidup ia rasa. Meski dirinya memiliki gelar sarjana psikoterapi, yang mengetahui seluk beluk caranya membahagiakan hidup. Tetap saja ia manusia biasa.
Diandra juga seringkali penat menerima kenyataan. Pekerjaannya adalah berurusan dengan orang yang memiliki penyakit syaraf. Penyakit gila, biasanya orang bilang. Tapi dia juga kadang jungkir balik pusing memikirkan dirinya dan putra semata wayangnya yang memiliki kelebihan.
Dirga merengek terus meski mereka sedang keliling mall menuju resto siap saji kesukaan Dirga.
Keinginannya adalah bertemu Dzakki, bukan mau makan es krim. Dan Dirga semakin membuat Dirga kewalahan.
"Hai,... Abang Dirga?"
Diandra menoleh ke arah suara perempuan yang memanggil nama putranya.
"Ateh...!" Dirga terlihat bersorak senang. Rupanya dia sudah cukup kenal pada orang yang memanggilnya.
__ADS_1
"Fika! Sedang apa di mall?"
"Biasalah! Sebelum cuss ke Singapura, healing dulu shopping! Hehehe..."
"Ateh, adek Dzakki?" tanya Dirga sembari menarik-narik tangan Fika.
"Oh Dzakki ya? Dzakki ikut Verrel Velli deh ke Puncak! Besok Si kembar ulang tahun. Tante juga sedang cari kado buat mereka!"
"Ulang hahun?"
"Iya. Dirga mau Tante belikan sesuatu?"
Dirga mengangguk cepat. Menarik tangan Fika dan keduanya terlihat sangat akrab memilih mainan yang diinginkan Dirga.
Diandra hanya bengong melihat keduanya yang seolah lupa kalau ada dia disekitar mereka.
Hanya helaan nafasnya saja, yang bisa Diandra hempaskan beban dalam dadanya.
Asya... kuharap berilah aku selalu kekuatan. Untuk selalu mengurus putra kita. Hhh... Karena Dirga Akmal memiliki kelebihan dibanding anak-anak lainnya. Dan aku kadang seringkali merasa berat dalam mengurusnya. Bahkan hingga detik ini pun. Aku belum mampu mendapatkan penggantimu, Asyarani! Aku takut sekali. Takut kalau-kalau aku mati, lalu bagaimana dengan Dirga putra kita. Hhh...
"Pappa...pappa, ayo...!"
Dirga nampak senang. Wajahnya kembali ceria dan seketika lupa keinginannya bertemu Dzakki.
Ditangan kirinya ada dus plastik berisi mainan mobilan.
"Ini dari mana, Dirga?"
"Ateh heli wat abang! Wat adek jugga!"
"Sudah ucapkan terima kasih pada Ateh Fika?"
"Uddah!"
"Anak pintar!"
Fika keluar dari pintu toserba dengan menjinjing satu totebag berwarna hijau.
"Yang Dirga pegang,..."
"Itu hadiah dariku untuk abang Dirga!"
"Terimakasih Fika!"
"Sama-sama. Udah ya, aku pamit permisi dok!"
"Ateh!... Hana?"
"Ateh mau kemana?"
"Iyya!"
"Ooh... Ateh harus pulang, Sayang! Mau pergi ke Puncak menyusul Verrel, Velli juga Dzakki. Nanti Ateh salamkan pada Dzakki deh!"
__ADS_1
"Ikkut!"
"Aih? Ikut?... Hm... Tapi Ateh pulangnya besok. Tidak apa-apa?"
"Iyya!"
Fika menatap mata dokter Diandra. Mencari jawaban izin atas permintaan Diandra yang ingin ikut dengannya itu.
"Tapi, besok Papa shift pagi, Nak!"
"Ya sudah. Kalau dokter percaya sama aku, aku bawa Dirga. Besok kami pulang, koq! Kemungkinan siang. Karena lusa anak-anak sudah masuk sekolah!"
Diandra tampak bingung.
"Dirga ga bawa baju ganti, Fik! Gimana ya?" jawabnya jujur.
"Masalah baju gampang itu. Tubuh Dirga sepantaran Verrel. Bisa pinjam baju Verrel. Lagipula Kak Christian khan juga di sana. Daripada nanti Dirga menangis terus sampai rumah, mending ikut aku!"
"Dirga mau ikut Ateh Fika?"
Dirga mengangguk dengan semangat.
"Ya sudah. Dirga ikut Ateh tanpa Papa tapinya. Bagaimana? Mau?"
"Dirga apa tak jadi beban bagimu, Fik?"
"Jadi selama ini Dirga adalah beban buat dokter ya? Ck ck ck ... Dokter ini, pemikirannya ya!? Main dokter kurang jauh! Bagaimana mungkin orang bisa berfikir Dirga hebat, sedang Papanya sendiri tidak percaya pada anaknya. Bahkan Papanya sendiri yang secara tidak sadar merendahkan putranya."
Memerah seketika dokter Diandra wajahnya. Kata-kata Fika menohok langsung kena mental dan menghujam jantungnya tepat sasaran.
Fika dengan enteng menuntun Dirga yang enjoy mengekornya.
Ya ampun... ini bocil kata-katanya bikin sakit hati. Parah, usia dua puluh enam tapi ucapannya mirip bocah usia lima belas tahun. Tak ditata dulu, langsung jeplak! Gerutunya dalam hati.
Tapi melihat Dirga yang terlihat nyaman bersama Fika, Diandra hanya bisa menarik nafas.
Kemudian dia mengambil handphonenya. Mencari nama Christian di kontak dan menelpon teman lamanya itu.
Mereka berbincang sebentar setelah Diandra menitipkan Dirga pada Chris yang baru akan meluncur ke Puncak tempat mereka liburan merayakan hari ulang tahun anak kembarnya.
Diandra lega. Ia akhirnya bisa bernafas lega. Hari ini bisa sedikit santai tanpa Dirga.
Namun tiba-tiba ucapan pedas Fika kembali berkelebat dibenaknya.
Cih! Nona! Seenaknya kau bilang aku tidak menghargai putra semata wayangku. Aku dibilang menjadikan Dirga beban, padahal itu karena aku takut anakku dihina orang. Dirga tidak sama seperti anak lain yang normal. Itu sebabnya aku justru takut putraku direndahkan orang lain. Bukan aku merendahkannya! Hhh...
Sesak dada Diandra. Putra tunggalnya adalah harta berharga satu-satunya. Itu sebabnya ia sangat takut untuk menjalani ta'aruf. Satu langkah yang orangtuanya sarankan agar cepat mendapatkan ibu sambung untuk Dirga.
Karena ia sangat khawatir jika calon istrinya nanti tidak bisa beradaptasi dengan Dirga. Dan ia takut tidak bisa menjadi suami serta Ayah yang baik karena berada di posisi yang sulit. Jika nanti suatu saat mereka memintanya untuk memilih.
Hhh...
Ternyata segitu panjang pemikiran dokter Diandra dalam mencari istri.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...