PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 GODAAN YANG AGAK MENYESATKAN


__ADS_3

Jantung Herdilan berdegub sangat kencang.


Hampir enam tahun lamanya ia menduda dan benar-benar tak pernah berhubungan dengan lawan jenis setelah banyak peristiwa menghampiri hidupnya.


Kini, seorang wanita cantik beraroma Victoria's Secret merangkul lehernya dengan sangat intim.


Bahkan hembusan nafasnya yang terasa lembut mengenai ceruk leher Herdilan. Agak-agak geli rasa hatinya.


"Abang! Tak ada niat untuk membuka hatikah?" tanya Rihana, terdengar jelas di telinga kiri Delan.


Lagi-lagi Delan hanya tersenyum.


"Abang tahu? Tipikal cowok seperti abang inilah, pria idamanku. Dingin dan misterius. Bahkan terkesan tak berhasrat pada perempuan!"


Deg.


Herdilan menelan saliva.


Siapa bilang, Rihana. Aku juga penyuka perempuan. Masih tetap dan tidak 'belok'. Tapi usiaku sudah bukan lagi masanya bermain-main dengan perempuan. Sudah lewat! gumam hati kecil Herdilan Firlando.


"Abang!"


"Hm?"


"Maukah Abang ONS denganku?"


Dug dug dug dug dug dug


Dug dug dug dug dug dug


Debaran jantung Herdilan makin meracau.


Hhh... Ini perempuan! Ternyata begitu mur*han! Bahkan dengan sangat gamblangnya mengajakku ONS! Apakah ia tak takut dosa? Jangan-jangan dia memiliki penyakit yang sengaja ingin ditularkan padaku! rutuk hati Herdilan geram.


"Abang tahu? Bang Ciko pun pernah ONS denganku! Apa Abang kini tertarik setelah mendengar pengakuanku?"


Gila!!! Ciko ternyata... Ck ck ck


Herdilan mendorong tubuh Rihana. Melepaskan rangkulan perempuan cantik yang masih hanyut dalam buaian alunan musik mendayu-dayu.


"Maaf, Rihana!" tolaknya halus, namun tegas.


"Abang! Satu lagu pun belum usai!" protes Rihana, merajuk.


Herdilan meninggalkan Rihana sendirian di arena dansa.


Wajah perempuan itu nampak pucat pias karena malu. Dan...


Rihana jatuh pingsan terkapar, tak sadarkan diri.


Ramai beberapa pengunjung. Bahkan ada seorang waiter memegang bahuku.


"Sorry, Sir! Your woman fainted!"


Mau tak mau Herdilan kembali ke tempat Rihana pingsan. Ia mengangkat tubuh mungil itu. Menggendong dengan wajah kesal.


"Ciko!"


"Kenapa Rihana?"


"Entah! Tiba-tiba pingsan!"


Ciko dan teman-teman Rihana menghampiri Delan.

__ADS_1


"Bawa ke lantai atas. Ada kamar yang bisa di sewa!" kata teman lelakinya yang seorang.


"Gue ada urusan dulu!" tukas Ciko membuat Herdilan belingsatan.


"Woy, Cik! Hei,... ini anak orang gimana ini? Woy! Anjr*t lo, Cik!"


Herdilan menggerutu kesal.


Ciko, Kenanga dan Endah tertawa-tawa pergi. Sementara Delan masih membopong tubuh Rihana.


Untung teman pria dan satu lagi teman wanitanya Rihana masih stay mengikuti langkah Herdilan.


Setelah bernegosiasi dengan waiter lantai dua kafe, mereka masuk ke dalam kamar sewaan.


Herdilan menidurkan Rihana yang masih tak sadarkan diri.


"Namamu Viona khan? Tolong urus temanmu! Aku tidak bisa ikut bersama kalian!" ujar Delan. Namun...


Grep.


"Jangan lepas tanggung jawab! Setelah Rihana pingsan, lalu Abang dengan seenaknya mau pergi begitu saja?"


Deg.


Herdilan terpaku.


Tangan mungil milik Viona mencengkeram kerah kemejanya dengan kekuatan maksimal.


"Ruben! Kau jaga di luar! Kunci dari luar, kalau perlu!" titahnya pada teman lelakinya.


Ternyata orang yang bernama Viona rata-rata angkuh dan songong, ya!?! gerutu hati kecil Herdilan.


Kini ia dikurung dalam sebuah kamar berukuran 5x6 meter bersama dua orang wanita.


Kemudian jari jemarinya juga melepas kancing kemeja bagian atas milik perempuan yang sedang pingsan itu. Tak ayal Herdilan melengos, mengalihkan pandangan yang membuatnya jadi tergagap.


"Ri, Rihana! Bangun, Ri!"


Ia menepuk-nepuk pipi temannya berkali-kali.


Hhh... Terdengar helaan nafasnya, mulai agak kesal.


"Kalian tinggal bersama?"


"Ga! Kami beda asrama!"


"Satu kampus?"


"Aku dan Kenanga, ya! Rihana sudah drop out sejak tiga bulan lalu. Makanya anak ini sedang oleng fikirannya!"


"Pantas! Ocehannya ngelantur!" sambung Delan membuat Viona menatap wajah dingin Herdilan.


"Apa yang Rihana ceritakan pada Abang?"


"Ga penting! Yang pasti ocehan orang mabok!" tukas Delan.


Viona menunduk.


"Rihana bingung. Dia sedang ada masalah keluarga! Ternyata perusahaan Ayahnya bangkrut. Dan nyaris keluarganya tak lagi mengiriminya uang. Mau tak mau jadwal kuliahnya pun sering alpa. Hhh... Empat bulan lalu namanya dicatut teman sekampusnya dalam jual beli soal ujian. Rihana kena skorsing pihak kampus. Tentu saja ia mengajukan protes keras. Tapi ternyata, pihak kampus langsung men-DO-nya tanpa ada pertemuan lebih dulu. Rihana prustasi!"


Hhh...


Herdilan dan Viona terpekur. Turut prihatin dengan kisah hidup yang dialami Rihana saat ini.

__ADS_1


Namun yang Herdilan tak habis fikir. Rihana sempat mengatakan kalau Ciko pun pernah ONS dengannya.


Ciko? Benarkah? Apa itu cuma akal-akalan Rihana dalam menarik perhatianku? Memancingku untuk ikutan melakukan ajakannya. Dan... untuk apa Rihana menawarinya hubungan cinta satu malam? Untuk sebuah kesepakatan pastinya khan? Apa imbalannya? Uang?


Hhh...


Hanya helaan nafas yang panjang saja yang bisa Herdilan lakukan.


Suara musik hingar bingar masih terdengar meski tak seberisik di lantai bawah. Lantai dua agak lebih tenang karena hanyalah kamar-kamar yang memang khusus disewakan pada para pasangan bermes*m ria.


Rihana akhirnya terbangun juga.


Bola matanya nampak terlihat redup.


"Kamu pasti belum makan apa-apa, ya? Maag-mu pasti kumat?!"


Herdilan melirik Viona yang cukup galak menegur Rihana. Sementara yang ditegur hanyalah diam dengan wajah tertunduk. Perutnya mual dan sakit melilit. Rihana memang belum makan nasi sejak kemarin sore. Uangnya benar-benar telah habis tak bersisa. Tak ada lagi se sen pun.


"Vi! Boleh minta tolong keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Bang Herdi!" kata Rihana membuat Herdilan mendongak.


"Apalagi yang ingin kau bicarakan padaku?"


Viona bangkit dari duduknya ditepi ranjang. Berjalan menuju pintu. Lalu mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil nama Ruben, minta dibukakan.


Tak lama kemudian pintu terbuka. Dan Viona bergegas pergi sembari kembali menutup pintu.


"Abang! Bisakah aku minta tolong?" tanya Rihana dengan tubuh turun dari ranjang. Bersimpuh dihadapan Herdilan yang bengong melompong.


"Nikahi aku, Bang! Please..., kumohon!"


"Kau sudah gila ya?"


"Bang! Aku minta tolong dengan sangat! Aku bersedia jadi kac*ungmu, asalkan aku ikut tinggal dan hidup di asrama apartemenmu, Bang! Aku ga punya uang sama sekali. Tabunganku nol. Sumpah demi Tuhan!"


"Perempuan sinting! Tadi kau mengajakku ONS, sekarang memaksaku menikahimu! Kau mabuk berlebihan sepertinya!"


"Hik hik hiks..., please Bang! Tolong aku!"


Rihana memegangi kedua kaki Delan. Bersimpuh dengan deraian air mata.


"Maaf! Aku tidak bisa membantumu!"


Delan mencoba menghalau tangan Rihana.


"Bang! Harapanku cuma Abang. Bang Ciko sudah beristri, mana mungkin aku memohon dia untuk menikahiku!"


"Kau hamil diluar nikah? Hm? Butuh bapak buat anakmu?"


"Ga, Bang! Aku hanya butuh tempat tinggal dan pria yang mau memberiku tumpangan. Itu saja!"


"Huh! Kau bisa cari kerja. Banyak lowongan jadi babu. Dan kau bisa tinggal di tempat juraganmu!"


"Kasarnya kata-kata Abang! Aku tidak bisa melakukan pekerjaan illegal. Visaku bukan visa ketenagakerjaan. Tapi visa pelajar. Please, Bang!"


"Aku ini pria kere'. Miskin dan tak punya apa-apa. Gajiku juga tak seberapa. Bahkan aku hanya mampu mengontrak apartemen kecil di distrik kelas menengah ke bawah. Kau salah sasaran, Rihana!"


"Abang! Aku percaya pada Abang Herdi dan juga Abang Ciko! Tapi tidak dengan pria lain di luar sana!"


"Kenapa kau tidak minta Ciko jadi suami sirimu? Kalian sudah pernah ONS khan?"


"Aku bohong, Bang! Aku tadi membual! Maaf... hik hik hiks..."


"Ck ck ck..."

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2