PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 65 Tekad Bulatku Tuk Balas Dendam Dan POV Delan


__ADS_3

"Berarti... kita ada di kubu yang sama, Kak!" ucapku membuat kak Jo mengangguk cepat.


"Aku ingin membalaskan sakit hatiku pada mereka!"


"Aku juga! Aku juga!"


"Kamu siap, Viona? Kamu siap hancur sekali lagi? Karena mereka bukan orang sembarangan yang bisa kita balas semudah lidah berucap, Viona! Bisa-bisa, kita yang mereka hancurkan lagi!"


Aku menatap lekat wajah kak Jonathan, om Loedess omnya Herdilan Firlando. Kemudian mengangguk.


"Tolong bantu aku, Kak! Kakak yang lebih faham bagaimana caranya menghancurkan mereka!" tuturku dengan yakin.


"Hahaha... kau tidak tahu, betapa kejamnya Tasya Jessica. Bahkan... aku beginipun karena di atur hidupku olehnya!"


Aku tersekat. Kak Jo tertawa getir. Tangannya mengelus poniku pelan.


"Si Herdilan harus merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari kamu, Viona! Begitu juga si Tasya, yang sudah seenaknya merebut kebahagiaan kakakku selama ini! Mari, kita buat mereka 'sadar' sesadar-sadarnya!"


Aku menangis, terharu oleh kata-kata penyemangat yang kak Jonathan ucapkan.


"Lalu... bayi ini?" tanyaku agak gamang.


"Maumu bagaimana? Tapi saranku, anak tiada salah, Viona! Seperti juga Delan... aku dulu tak terlalu membencinya. Tapi melihat tingkah dewasanya kini, ternyata darah lebih kental dari air. Aku berfikir, buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar. Didikan si Tasya dan darah si tukang selingkuh Bambang membuatnya jadi titisan yang paling nyata. Hm!"


Kak Jonathan benar. Semua ucapannya benar adanya.


Dan aku, tidak boleh menyalahkan calon bayi tak berdosa di dalam perutku ini. Bahkan... bisa jadi, anak ini yang akan melanjutkan balas dendamku pada si Lady nantinya.


Apakah dendam boleh diteruskan juga untuk anaknya yang nanti akan lahir kemungkinan bersamaan dengan anakku?


...๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ๐Ÿ•ธ...


...POV Herdilan Firlando...


Hari yang tak terduga itu datang tiba-tiba. Padahal aku sudah memprediksi hal ini akan terjadi.

__ADS_1


Tapi... melihat istriku, Viona terluka...hatiku ikut sakit juga.


Aku, Herdilan Firlando. Dulu pernah mengucap janji, membenci bahkan mengutuk perbuatan papa kandungku sendiri. Karena telah dengan sadar menyakiti tiga hati wanita. Salah satunya adalah mamaku dan entah kedua wanita lainnya. Mama hanya memberitahuku soal istri ketiganya Papa, yakni seorang guru Sekolah Dasar. Janda tiga orang anak, yang katanya pacar pertama Papa di masa muda.


Hhh...


Kini, aku seperti menjadi Papaku di masa lalu. Melakukan poligami karena kesalahanku yang tak bisa menahan n*fsu.


Sungguh aku heran. Kenapa sampai bisa melupakan apa yang pernah kubenci dan janji yang pernah kuucapkan sedari kecil hingga dewasa.


Tapi, ketamakan akan harta dan tahta benar-benar membuatku lupa diri.


Juga Lady Navisha. Wanita yang tak pernah membuatku tergoda di masa kuliah, kenapa harus bisa membius diriku dengan angan-angan gilanya yang membuatku melayang di awan.


Ya Tuhan!...


Hari itu baru kulihat wajah asli istri keduaku. Betapa ia adalah wanita yang kejam tak berperasaan membuat Viona, istri pertamaku seolah tiada harga di mata aku dan Mama.


Shiit!


Padahal ART kami sudah memberitahukan kalau Viona ada di lantai atas, kamar kami yang dahulu. Maksudnya, agar kami bisa menutupi hubungan diriku dan Lady.


Aku dan Mama awalnya meminta Lady untuk sembunyi di ruang istirahat pantry. Sampai Viona kembali pulang dan hubungan kita tak akan terendus.


Tetapi Lady tetap bersikeras tak mau menutupi diri lagi. Entah maunya apa kini.


Yang pasti, semuanya terbuka tepat dihadapan Viona.


Mama yang berusaha menjadi penengah justru terpancing pada kemarahan Viona yang ingin menyerang Lady.


Aku tahu, Viona marah besar karena Lady telah berani mengambilku dari tangannya. Dan hal yang wajar, ketika amarah menguasai jiwa... maka tindakan kekerasan adalah jalan yang dipilih.


Viona menyerang Lady dan Mama berusaha menahan karena berfikir Lady sedang mengandung anakku.


Namun Viona juga salah faham lagi. Mengira Mama dan aku benar-benar membela dan memilih Lady daripada dirinya.

__ADS_1


Kamu salah, Viona! Aku dan Mama sudah sepakat. Setelah Lady melahirkan, kami akan memberinya konpensasi berupa uang dan sesuatu yang bisa memuaskan perempuan itu. Sedangkan anak akan kuurus dan juga meminta bantuanmu, Viona!


Viona berlari meninggalkan rumah. Kukejar pun dia tak peduli. Hingga hujan turun deras sekali. Dan aku kehilangan jejak mencari Viona kesana kemari.


"Vionaaaa!!! Vionaaaa!"


Suaraku serak habis tertelan gemuruhnya hujan yang ikut sedih karena Viona.


Maafkan aku Viona! Aku khilaf. Benar-benar khilaf. Kini Tuhan telah membukakan mata dan hatiku, siapa Lady Navisha sebenarnya. Hanyalah perempuan penghamba uang yang inginkan kenikmatan duniawi semata.


"Vionaaaa!!!"


Aku berlari ke arah pangkalan ojek tak jauh dari tempatku berada kini. Meminta seseorang mengantarku ke rumah ayah ibunya Viona.


"Hujan, Bang!" tolak tukang ojek itu beralasan.


"Kubayar lima ratus ribu!"


"Kemana?"


"Daerah Selatan dikit! Kutambah ini seratus ribu lagi!"


"Ya udah, pakai jas hujan sama helmnya Bang!"


Aku yang kadung kuyup, mengikuti arahan tukang ojek. Memakai helm dan jas hujan sebelum kami berangkat.


Semoga Viona sudah sampai kerumah ayah ibunya. Karena ketika kutelepon hapenya justru mama Tasya yang mengangkat. Itu berarti Viona tak membawa hape serta tasnya masih tertinggal di kamar atas.


Rumah Ayah Ibunya sepi. Bahkan terkunci. Pertanda Viona belum pulang.


Treeet... treeet... treeet


"Iya, Ma? Ya ampun... berarti kunci rumah ayahnya Vio masih ada di tas? Viona juga tak bawa apapun? Iya, Ma! Iya!"


Mama mengirim pak Bono menjemputku yang menggigil kedinginan di teras rumah keluarga Viona yang sepi dan basah kena saweran hujan.

__ADS_1


...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...


__ADS_2