PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 86 Press Conference


__ADS_3

Kami tiba di Ibukota pukul sebelas malam. Kak Jo membawaku menginap di rumahnya. Ia khawatir aku akan tidur sendirian tanpa Herdilan di saat sedang butuh perawatan sebagai wanita hamil muda.


"Tidurlah lagi, Viona! Besok pagi kita ke klinik Lena!"


Aku tak mampu berkata apa-apa. Mata ini benar-benar lelah. Hanya mengangguk pelan terkantuk-kantuk ketika kak Jo menggendongku masuk ke dalam kamar yang kini nampak familiar.


Bahkan kini aku tak peduli pada apa yang kak Jo lakukan pada tubuh ini. Hanya merasa tapi tak melihat. Karena mata yang benar-benar sepat hingga terkatup rapat.


Kurasakan jari jemari kak Jo membuka sepatu ketsku. Mengeluarkan lima jari kakiku juga dari kaos kaki tipis dan melapnya perlahan dengan air hangat yang menyegarkan.


Ia juga melap kedua kaki hingga lututku. Memberiku pijatan pelannya dengan sapuan hand and body lotion. Wanginya menyejukkan penciumanku.


Kak Jo bahkan perlahan melap jemari tanganku. Melakukan hal yang sama seperti jemari kakiku.


Lalu tanpa ragu, melap wajahku dengan tissue basah. Terakhir memijat lembut pucuk hidungku hingga dahi dan sekitarnya. Ada wewangian spash cologne. Harumnya menenangkan. Terasa sekali selimut bahan lembut menyapu tubuhku hingga atas dada.


Hmm... Kak Jo! Terima kasih untuk perhatianmu, Kak! Aku bahagia, seperti memiliki lagi keluarga yang begitu menyayangi dan memperhatikanku.


.............


Bangun tidur kak Jo sudah tidak ada. Kata mbak Tini, Kak Jo sudah berangkat kerja satu jam lalu. Katanya akan pergi tinggalkan kota untuk beberapa hari.


Kak Jo juga meninggalkan catatan memo untukku.


Viona! Maaf... Aku ingkar janji untuk membawamu ke klinik dokter Lena. Tapi tunggulah di rumahku sampai pukul 1 siang. Dokter Lena akan datang memeriksa kandunganmu.

__ADS_1


Treeet... treeet... treeet


Pengacaraku menelpon.


...["Hallo, mbak Viona! Hari ini sudah ada kesepakatan press conference, soal perceraian mbak dan mas Herdilan! Saya sudah booking cafe di pusat kota dan mengumpulkan beberapa jurnalis dari beberapa media ibukota! Saya shareloc ya? Pukul sepuluh kita ketemuan di sana!"]...


..."Iya, Pak Tiur! Saya akan bersiap-siap untuk ke sana!"...


Tring.


Alamat kafe yang pak Tiur kirimkan. Aku mencoba menarik nafas pendek. Bersiap-siap dalam arti sebenarnya.


Aku adalah Viona Yuliana. Perempuan biasa berumur dua puluh empat kini. Tapi menikah dengan orang yang 'luar biasa'.


...........


Berada dalam satu meja besar dipenuhi alat-alat microfon membuatku sangat gugup.


Untung saja pak Tiur Sibutar Butar S.H beserta dua lawyer asisten beliau merapatku dengan sangat baik.


Bahkan ketika emosi dan kata-kata yang sulit keluar dari bibir ini, mereka semua menghandleku segera.


"Saya, Viona Yuliana S.Mb mulai hari ini mengumumkan perceraian saya dengan mas Herdilan Firlando S.Mb. Suami saya, lebih tepatnya mantan suami saya... telah menodai perjanjian pernikahan kami. Beliau telah menikah lagi dengan artis talent Production House Pesona Tasya yang bernama Jelita Lara empat bulan yang lalu. Saya tidak bisa melanjutkan rumah tangga lagi, karena masalah tersebut. Saya juga sudah mendapatkan akta cerai resmi dari pengadilan agama tigaraksa. Jadi mulai saat ini, saya dan mas Herdilan tidak lagi terikat pernikahan!"


Jepret!

__ADS_1


Jepret!!


Para wartawan membidikku dengan kamera digitalnya. Wajahku kini akan tampil di koran cetak maupun online dalam beberapa menit lagi. Hhh...


"Pak Tiur... Tolong, saya tak mampu bicara lagi!" bisikku pada pengacara sohor yang kak Jo rekomendasikan.


"Baiklah... kawan-kawan! Intinya kini mbak Viona Yuliana, klien kami ini kini sudah tidak ada sangkut paut apapun lagi dengan pihak mantan suami yaitu mas Herdilan Firlando. Palu hakim telah di ketuk! Dan... tolong jangan lagi sangkut-pautkan nama klien saya ini dalam urusan mas Herdilan Firlando. Begitu, teman-teman!"


Aku dipapah oleh lawyer asisten pak Tiur, mbak Kinasih S.H.


"Terima kasih untuk kawan-kawan jurnalis semuanya! Terima kasih banyak sudah berkenan hadir menghadiri konferensi pers klien kami, mbak Viona Yuliana!"


"Pak... Boleh tanya jawab sebentar dengan mbak Viona? Soal pernikahan JeLa dengan Pak Herdilan apa itu bukanrumor saja?"


"Mohon maaf, klien kami saat ini keadaannya sedang kurang baik. Jadi mohon maaf tidak ada sesi tanya jawab. Untuk pertanyaan-pertanyaan bisa diberikan kepada pihak yang bersangkutan!"


Para wartawan itu mendekat. Mencoba menanyaiku yang bungkam seribu bahasa. Pertanyaan-pertanyaan yang hanya kuanggap angin lalu. Seperti nasehat kak Jo padaku kemarin, dan aku kembali mengikuti sarannya.


Ada sepasang mata seorang wartawan tampan yang sedari tadi hanya diam memperhatikan saja.


Ya. Kak Firman. Kakak tingkatku yang juga kawan lama yang membantuku dalam mengungkapkan pernikahan Herdilan dengan Lady.


Hhh...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2