
Tanpa terasa seminggu lebih Ayah dan Ibu tiada. Acara tahlilan telah selesai kulakukan. Dan sesuai kesepakatan keluarga besar, kami hanya mengadakannya sampai tujuh harian saja. Setelah itu tidak lagi, kecuali sodakoh ke tempat-tempat ibadah setiap malam jum'at selama empat puluh hari.
Aku sendirian kini di rumah kedua orangtuaku. Untuk kembali ke rumah kami, rasanya malas sekali. Apalagi jika mengingat tingkah laku mas Delan yang membuatku mati rasa.
Tapi... sampai saat ini aku masih menahan amarah dan emosiku padanya. Masih terngiang permintaan Mama Tasya, demi penghormatan pada Ayah Ibu terpaksa kupending.
Mengingat mama Tasya entah mengapa hari ini Aku seperti ingin mengunjunginya.
Sudah hampir dua bulan aku tak pernah menyambangi rumah beliau. Sejak aku pindah ke rumah pemberian papa Bambang.
Hari ini aku seperti diingatkan, aku harus menemui Mama Tasya di rumahnya. Menceritakan kembali perjalananku menemukan bukti-bukti otentik termasuk juga foto-foto mesra keduanya di galeri foto hapeku.
Setelah mandi, aku berpakaian dan berdandan rapi.
Bergegas mengunci rumah keluargaku yang kini otomatis jatuh jadi urusanku, menuju kediaman Mama Tasya.
Pukul empat sore. Kemungkinan beliau baru pulang kantor atau belum, tak mengapa. Aku bisa mencoba membuatkan pan cake sebentar untuk camilan kami minum teh.
Dengan niat membara, menceritakan kebangsatan putra kesayangannya,... aku melenggang santai.
Lihat saja Mas! Bagaimana reaksimu nanti setelah Mamamu tahu kelakuan bejadmu dan mengobrak-abrik rumah tanggamu pada si Lady Gagak Hitam itu!
Seperti dugaanku. Mama mertuaku belum pulang. Tapi beberapa pengurus rumah tangga yang mengenaliku membukakan pintu dengan wajah terpana.
"Mbak! Mama Tasya belum pulang, ya?"
"I-iya, Nona!"
"Ya sudah, saya nunggu dikamar kami saja yang dulu ya!? Oiya... hm... ada bahan-bahan untuk buat pancake khan, Mbak? Aku mau buat itu, tolong sediakan ya? Maaf... hehehe..., ya udah aku masuk dulu kamarku dulu!"
Kamar kami terasa dingin sekali. Tidak ada pernak-pernik juga foto pengantin kami karena memang sudah kuboyong ke rumah baru.
Kurebahkan tubuh. Sekedar bernostalgia mengenang percintaan kami yang manis sampai hot di kamar ini.
Hhh... Mas Delan... Sejak kapan kamu berubah, Mas? Sejak kapan? Sedangkan aku sama sekali tak melihat perubahan itu. Karena kau selalu baik setiap hari.
Tak percaya diri ini mengetahui Mas ku, suamiku tersayang kini telah berpaling ke lain hati. Menduakan cinta kami yang memang perlahan malu-malu tapi seiring banyak mimpi yang kami inginkan. Salah satunya memiliki keturunan. Bahkan Mama pernah meminta kami melakukan bayi tabung lima bulan lalu. Dan kita berdua sekongkol mengelabui Mama sampai hari ini.
Hik hik hiks... Air mataku kembali menetes. Melamunkan nasib diri yang kini terjadi pada diriku. Entah bagaimana kehidupanku sedangkan kini Ayah dan Ibu telah tiada di dunia ini.
Hampir setengah jam lebih. Aku lupa rencana awalku ingin membuat pancake. Ditambah mbak Suti sang asisten rumah tangga pun tak kunjung menemuiku di kamar, aku bergegas turun kembali ke lantai dasar.
Lamat-lamat suara orang mengobrol. Ternyata Mama sudah pulang rupanya. Dan...
Ada suamiku juga Lady Navisha yang pucat wajahnya melihatku turun melangkah di anak tangga.
Buum.
__ADS_1
Seperti gempa dahsyat mengguncang jiwaku. Ternyata suamiku dan selingkuhannya ternyata telah lebih dulu merapat mama.
Hm... Aku lupa kalau si Lady itu adalah salah satu artis talent production house mama Tasya!
"Akhirnya... Kalian membuka semua kedok kalian dihadapanku tanpa perlu aku berkoar-koar!" ujarku dengan senyuman sinis.
Mama Tasya merangkulku. Mencoba memeluk tubuh mungilku yang makin mungil karena keadaan beberapa hari belakangan ini.
"Viona! Sabar dulu, Sayang! Jelita sedang mengandung anaknya Delan!"
Deg.
Hatiku sakit mendengar perkataan Mama Tasya. Benar-benar sakit rasanya. Bahkan dada ini sesak. Mertuaku seperti menjagaku agar tak melukai selingkuhan suamiku. Hiks.
Kucoba menatap wajah Mama Tasya. Beliau menundukkan kepala, tapi tangannya masih erat memegangi tubuhku yang sebenarnya rapuh.
"Mama?!"
Aku menarik jemarinya agak keras, hingga tubuh ini terlepas dan melesat menuju Lady Navisha.
Plak. Plak. Plak!
Tiga tamparanku cukup membuatku puas.
Lalu...
Plak. Plak.
Puas rasanya meski telapak tangan ini sakit dan panas.
"Sayang!"
Mama Tasya kembali merengkuhku.
"Sudah sayang, tenangkan dirimu! Kita coba bicarakan dengan kepala dingin. Viona duduk baik-baik, ya?"
"Bagaimana aku bisa duduk baik-baik, Mama?"
"Duduklah dulu!"
Mas Delan menarik satu kursi makan dan mempersilahkan duduk padaku.
"Mas! Aku juga istrimu! Kenapa hanya dia yang kamu suruh duduk?!"
What the hell? Apa maksud perempuan bangs*t ini? Berani-beraninya cungurnya berkata begitu pada suamiku di depan Mama Tasya.
"Lady! Jaga sikapmu!!"
__ADS_1
Suara keras mas Delan tidak mampu meluluhkan hati ini.
Kurangsek lagi tubuh perempuan laknat itu hingga tubuhnya terhempas jatuh ke lantai.
"Viona! Jangan!!!"
Aku mendelik kaget. Mama Tasya berlari menghampiri Lady. Membantunya berdiri dan membiarkan perempuan sundal itu merebahkan kepalanya sambil menangis.
Akting itu! Sialan! Pintar juga itu sandiwara setan dajjal!
"Mama!! Mama... Hik hik hiks!"
Aku mundur beberapa langkah. Menunjuk kearah keduanya dengan berurai air mata.
"Mama... Teganya mama membela dia! Vio pikir... Mama akan membencinya dan menyuruh mereka pisah! Tapi... hik hik hiks!"
"Viona, maafkan aku!" sela mas Delan berusaha meraih jemariku, tapi segera ku hardik dan mundur lagi ke belakang.
"Vio sayang! Maaf... bukan Mama bermaksud membuatmu marah dan terluka sayang! Maaf...! Tapi saat ini Jelita Lara sedang mengandung, sayang! Ini hanyalah sebuah 'kecelakaan'!"
"Apa??? Sebuah 'kecelakaan'? Hanya sebuah 'kecelakaan'??? Apa maksudnya Ma?"
Aku ternganga mendengar ucapan penghiburan Mama Tasya. Gila!!! Gila!!!
Ketiga orang-orang laknat itu memerah wajahnya.
"Dan kau, Mas! Mau berkata apa padaku, Mas? Mau bilang, ini hanyalah kesalahan kecil? Hah? Seperti anak kecil yang tak punya rasa penyesalan karena telah merebut mainan temannya, begitu? Begitu, Mas??"
"Bukan, Vi... Bukan begitu," jawab mas Delan pelan.
"Dan kau Lady Gagak!!! Jadi ini tujuan hidupmu? Yang pernah kau ucapkan padaku dulu...soal cita-citamu di masa kita kuliah dulu? Hah? Bukankah kau ingin jadi istri orang kaya? Dan kini tercapai sudah, meskipun suamimu yang kaya raya ini sudah memiliki istri dan istrinya adalah temanmu sendiri? Kau tetap tak memiliki rasa bersalah, Lady?"
Aku menangis meraung sendirian. Merasa seperti manusia tak punya harga diri. Dan ditelanj*ngi perasaanku oleh mereka bertiga.
"Mama...! Sungguh Viona tak menyangka, Mama ternyata telah mengetahui semuanya lebih dulu dibanding Vio! Vio sangat kecewa dengan semuanya ini! Vio benci kalian semua! Apa salahku padamu, Mas? Apa salahku padamu, hai perempuan penghamba uang?"
"Lantas bagaimana maumu, Viona! Nasi telah jadi bubur! Siapa juga ada orang yang mau jadi istri kedua!" tukas Mama Tasya semakin membuatku muak padanya.
"Hohoho! Mama membela dia karena posisinya? Karena perempuan kemaruk uang ini statusnya kini 'istri kedua'? Sama seperti status mama yang juga sebagai istri kedua papa Bambang?! Iya?"
Plak.
Apa??? Mas Delan berani menamparku??? Ya Tuhan... Apa yang harus kulakukan sekarang? Di saat aku sedang di titik terendah di'madu' tanpa sepengetahuanku. Ternyata sang mama mertua malah lebih membela anak dan juga istri keduanya. Dan kini... aku semakin terpuruk karena suamiku pun menyudutkanku dengan satu tamparan kejamnya ke pipiku.
"Mas??? Mas menamparku? Ini sungguh dari hatimu yang paling dalam kah? Hik hik hiks... Ingat mas! Ingat! Semua perbuatanmu ini tak kan pernah kumaafkan! TIDAK AKAN PERNAH! MESKIPUN AKU MATI!!!"
Aku berlari keluar rumah besar yang bagaikan neraka jahanam. Tak kupedulikan tas yang berisi kartu identitas serta telepon selulerku.
__ADS_1
Berlari sejauh mungkin dari tempat itu, histeris dengan tetesan air mata di pipi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...