
Kartika malu juga, menyadari kalau temperamennya agak menyebalkan dihadapan Herdilan.
Ketika belum menikah, ia terbiasa mengkritik Mamanya. Sering marah-marah, juga kadang berdebat sampai menangis bombay dua-duanya.
Itu sudah jadi kebiasaan buruk baginya juga Mama. Papanya sudah begitu mengenal watak putri dan istrinya.
Tetapi dihadapan Herdilan, ini adalah yang pertama kali. Sehingga membuat suaminya itu agak shock dengan keributan diantara mereka.
Rebahan terus di atas ranjang dalam kamar berukuran 4x4 meter rasanya seperti bersemedi di dalam oven.
Keringat mengucur di dahi kedua pasangan itu. Bahkan meskipun kipas angin besar terus berputar tak henti, justru malah bikin kembung perut Herdilan dan Kartika.
Sebenarnya Herdilan ingin mengajak Kartika bulan madu. Apalagi setelah Viona serta Roger memberinya saran untuk pergi ke Seminyak. Vila milik Dzakki dari hibahan almarhum Omnya telah selesai di renovasi dan tempatnya kini sangatlah cozy.
Tapi, urung Herdilan lakukan mengingat waktu liburnya hanya tinggal lima hari lagi.
Minggu depan ia sudah harus kembali ke Singapura. Jadwal muralnya sangat padat. Dan pekerjaan mengantri menunggu sentuhan tangannya pula.
Ada beberapa klien yang menolak asisten Herdilan yang mengerjakan karena feel dan rasanya akan berbeda. Mereka ingin Herdilan sendiri yang turun tangan, membuat pengantin baru itu agak susah juga.
Sedangkan untuk membawa Kartika ke Singapura, ia tak punya kekuatan lebih untuk menentang dan membuat istrinya menjadi anak durhaka.
Herdilan hanya menunggu waktu, agar ia bisa mwmboyong istrinya pula bersamanya ke negri Singa.
...........
Kreeek...
Herdilan menahan nafasnya. Beban tubuhnya serta Kartika yang tertidur pula membuat ranjang kayunya berdecit keras.
Ia khawatir kalau Mama dan Papa Kartika mendengar suara-suara ambigu yang menyesatkan telinga.
Tapi apa daya, rumah kecil minimalis keluarga Kartika adalah istana bagi siempunya.
Seperti Kartika, yang terbiasa tinggal dalam kamar berukuran pas itu. Dan nampak nyaman-nyaman saja, sangat menyenangkan bagi Herdilan melihatnya.
"Yang! Sebentar lagi Ashar, Yang!" ujarnya pelan.
Kartika menggeliat. Membalikkan tubuhnya ke arah Herdilan dengan kerudung tersingkap hingga gundukan d*danya membuat Herdilan menahan nafas.
Ya Tuhan... wanita ini telah jadi istriku. Tapi... aku belum pernah menyentuh bagian sensitifnya! Kecuali mencium pipi dan keningnya. Bahkan sampai detik ini..., hanya jemarinya saja yang baru kugenggam erat-erat. Yang lain, belum sama sekali!
Glek.
Herdilan menelan ludahnya. Jakunnya turun naik. Jantungnya berdebar-debar dan keringat mengucur dari dalam tubuhnya.
Jujur ia ingin sekali mengecup bibir Kartika dengan lembut. Menyentuhnya perlahan, lalu turun kebagian bawah menyusuri lembah-lembah.
Kartika terlihat sangat lelap. Mungkin tubuhnya masih capek setelah kemarin mereka menjadi raja dan ratu.
Herdilan memegang tangan Kartika.
Hap. Aku akan mulai mencobanya dari sini. Tapi..., kenapa kesannya seperti pencuri? Yang hendak mengutil diam-diam tanpa sepengetahuan sang pemilik jari ini?
Dihelanya nafas panjang, agar lega saluran trakeanya teraliri udara. Masuk melewati bronkus dan alveoli menuju paru-paru.
Hhh... Susah juga ya memulai berc*nta dalam keadaan seperti ini! Gumamnya dalam hati.
Herdilan ribut sendiri. Berkata-kata banyak hanya dihati dan fikirannya saja.
Cup.
__ADS_1
Dikecupnya b*bir Kartika dengan mengerahkan kekuatan yang luar biasa.
Dan pemiliknya, langsung terbangun dengan netra membulat penuh.
"Bibirmu menggodaku, Sayang!" bisik Herdilan dengan suara pelan.
"Sayang!... Bagaimana memulai itu?" tanya Kartika, juga dengan suara yang sangat pelan.
Terdengar sedikit gemetar karena wanita yang kini berstatus istri itu nampak gugup.
Herdilan hanya bisa tersenyum. Sejujurnya ia pun tak berani memulai, takut Kartika belum siap dan...
"Dibawah aja, yuk?"
"Di-dibawah?"
"Iya, Bang! Kalau di ranjang takutnya kedengaran Papa Mama!" bisik Kartika.
Sontak Herdilan menahan tawa. Ia menuruti sang istri, yang sibuk menggelar selimut badcovernya yang dibentangkan.
Keduanya tersenyum, lalu duduk berlama di lantai samping ranjang.
"Terus..., kita mau ngapain?" tanya Herdilan menggoda Kartika.
"Ya mau ngapain, Abang? Masa' iya kita mau main tak umpet di kolong ranjang?"
"Hehehe..."
"Huss jangan berisik, nanti Papa Mama dengar!"
"Kayaknya... ga se-ekstrim itu juga, Nona!"
"Takut aja, kalo sampe kedengaran mereka, Bang!"
"Memangnya selama ini mereka berbuat itu sering kedengaran kamu, ya?"
"Ish, Abang! Masa' iya Tika nguping mendengarkan Papa Mama begituan? Ish..."
"Hahaha upss... Maaf!"
Kartika mencubit pangkal p*ha Herdilan.
"Aduh!"
"I, jangan aduh-aduhan, Abaaang! Nanti kedengaran keluar!"
Cup.
Wajah Kartika memerah.
Cup.
Semakin matang dan menggoda Herdilan.
Cup. Cup. Cup...
Kini bibir Herdilan semakin berani ******* bibir Kartika.
Pelan dan lembut sekali. Herdilan memainkan bagian tonguenya. Titik-titik syaraf papilanya membuat otot-otot syarafnya yang lain menegang.
Ia ingin main sehalus mungkin demi membuat Kartika nyaman.
__ADS_1
Perlahan sekali, satu persatu kancing baju bagian d*da Kartika dibukanya dan... jemarinya menyusuri kulit tubuh Kartika.
Sesekali Kartika mengejat.
Ia tampak menikmati sekali sent*han dan rangs*ngan sang suami. Sehingga... mereka melakukan hubungan intim pertama kali di siang menjelang sore, dan selesai tepat ketika azan Ashar berkumandang.
"Maaf, Yang! Maaf, ya... Abang khilaf! Abang lupa minta izin kamu buat ketuk pintu minta masuk!"
Kartika mencubit perut Herdilan yang langsung meringis senang.
"Abang..."
"Ya, Sayang?"
"Abang...! Abang, jangan tinggalkan Tika ya, Bang?"
Herdilan mengusap lembut rambut istrinya yang terurai panjang. Hitam dan bergelombang indah. Sungguh sangat beruntung dirinya bisa mempersunting wanita cantik luar dalam ini.
"Abang sayang Nona Kartika. Abang cinta Nona Kartika. Dan Abang ingin selalu bersama Nona Kartika selamanya!"
Herdilan kembali memag*t bibir istrinya, setelah azan selesai dan kini tangannya lebih agresif mengelus inci demi inci tubuh sang istri.
Halus dan lembut.
Dan yang paling Herdilan syukuri adalah, bercak berwarna merah yang tertera di atas tempat mereka bercinta.
Kartika, telah ia peraw*ni dan robek sel selap*t dar*nya.
"I love you, my beauty wife!" bisiknya lembut dan lirih di telinga Kartika.
"I love you too, my handsome hubby!"
Mereka berdua kembali menelusuri jejak-jejak penuh cinta. Pelan sekali, tetapi demikian intim. Saling memberi dan saling menerima.
Dengan penuh kehati-hatian karena Kartika beberapa kali terlihat meringis pelan tapi berubah kembali beberapa detik kemudian.
Dua kali permainan, cukup membuat keduanya banjir keringat serta lutut lemas.
Herdilan juga tak lupa meninggalkan cup*ngannya dibeberapa bagian tubuh istrinya yang kini lebih berani menyingkapkan pakaian yang dikenakannya.
Payud*r* Kartika pun tak luput dari serangan Herdilan yang seperti baru buka puasa setelah bertahun-tahun lamanya.
"Abang...! Sudah jam empat lewat, jangan sampai kita lupa ibadah!" tukas Kartika membuat Herdilan tersenyum malu dan menghentikan permainannya.
Ia merapikan gamis sang istri. Memakaikan kerudung pada Kartika, lalu mengecup bibirnya dengan penuh kasih sayang.
"Nona mandi duluan. Biar Abang yang rapikan ini semua!" katanya dengan suara lirih.
Kartika tersipu malu-malu.
Ia meringis merasakan sakit di area sensitifnya.
"Perih!" gumam Kartika membuat Herdilan membantu sang istri berdiri. Iba juga hatinya.
Padahal tadi itu sudah sangat smoothy, tapi ternyata... Kartika menderita juga. Apa... karena efek tanpa pemanasan yang lama ya? Atau... rambutku mungkin yang agak gondrong? Ish... berasa cupu aku jadinya!
Herdilan menghela nafas. Ia membisikkan kalimat pada Kartika agar berjalan pelan-pelan saja.
Dan matanya kembali tertuju pada sedikit bercah darah di atas selimut tebal yang tadi mereka gunakan sebagai alas.
Pertempuran pertamanya cukup berhasil juga, ditengah-tengah keterbatasan ruang dan waktu.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...