
"Lody!"
"Mas? Sudah pulang? Sudah makan siang belum? Ini sudah pukul satu lewat! Bagaimana situasi terkini?"
"Hhh..."
Mutia Permata Melody mulai faham.
Jika sang suami mendes*h dengan suara yang berat, pertanda harinya lumayan melelahkan.
Mutia merengkuh bahu sang suami yang duduk di sofa ruang tamunya. Keduanya saling berpelukan erat.
Walaupun tanpa suara, Mutia tahu kalau Christian sedang banyak masalah.
"Maafkan aku, Sayang! Aku sepertinya akan menarikmu serta dalam kesulitan ini!" gumam Christian membuat dada Mutia berdebar.
"Kali ini masalahnya cukup rumit ya, Mas?" tanyanya lembut. Mutia mengusap punggung Christian dengan perlahan. Ada kehangatan yang tersalurkan lewat telapak tangannya yang mungil.
"Tolong doakan aku selalu, Yang!" jawab Christian membuat Mutia sedikit ambigu.
Chris memang jarang menceritakan masalah perusahaan padanya. Selain tak mengerti, Mutia juga kurang mampu memberi masukan jika itu urusan pekerjaan.
Tapi untuk urusan doa, Mutia selalu melakukannya. Untuk semua kebaikan keluarganya, suami serta anak-anaknya pastinya.
"Aku percaya padamu, Mas! Kamu pasti selalu melakukan yang terbaik. Kamu adalah pria yang paling bisa mengatasi semua masalah! Dan aku selalu mendoakan kebaikan untukmu!"
Mutia merasa sentuhan jemari sang suami sedikit lemah getarannya. Ada ketidakpercayaan diri Christian kali ini yang terlihat di mata batinnya.
"Aku..., bisa jadi membuat keluargaku dalam masalah!" kata Chris dengan agak terbata-bata.
"Maksud, Mas?"
"Bersiaplah. Kita harus meninggalkan rumah ini, Yang!"
Mutia termangu. Diam seribu bahasa.
"Aku... mengalami kerugian cukup besar, Yang! Aku tidak bisa membiarkan perusahaan yang kubangun dari nol, ambruk bangkrut pailit dan hancur seketika. Kumohon kerelaanmu, kita harus menjual semua aset kita dahulu untuk membayar ganti rugi, Yang!"
"Berapa kerugian perusahaan, Mas?"
"Sekitar setengah triliun!"
Mutia dan Chris sama-sama diam. Hanya lelehan airmata Mutia yang tak puguh karuan perasaan. Campur aduk, bahkan sampai lemas lututnya seketika.
Setengah triliun. Bukan lembaran daun. Yang bisa ia dapatkan dengan mudah dan cepat.
Bahkan kalaupun aset rumah, usaha-usaha kecil miliknya, serta beberapa villa masih belum bisa menutupi kerugian perusahaan yang kini ditanggungnya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Kedua anak kembar mereka pulang dari perjalanan rohaninya dengan wajah sumringah.
Verrel dan Velli meloncat langsung kearah kedua orang tua mereka.
"Papaaa... Mamaaa!!!"
Velli langsung memeluk Chris dan Mutia erat. Begitu pula dengan Verrel yang lebih cool karena ia anak laki-laki. Keduanya mencium tangan Papa dan Mamanya dengan kasih sayang serta rasa kangen yang membludak.
__ADS_1
"Bagaimana pelajaran agamanya?" tanya Chris berusaha seceria biasanya.
"Alhamdulillah, Velli sudah nambah hafalan ayatnya, Pa!"
"Alhamdulillah!"
"Apaan, Velli kerjanya main terus, Pa sama santriwati di sana. Malah pake acara manjat-manjat pohon jambu air pak ustad segala tuh, dia!" lapor Verrel membuat Papanya ikut tertawa.
"Idih, Kak Verrel tuh, diam-diam keluar pesantren karena penasaran mau nonton layar tancep di kampung sebelah sama kang Mustofa! Hayoo, ngaku kamu!"
"Aku khan diajak kang Mus cari anaknya ustad Adi, bukan sengaja mau nonton layar tancep! Yey... dasar!"
"Sudah, sudah! Ayo kita makan dulu! Mama masak spesial hari ini!"
"Asiiik!!!"
"Alhamdulillah!"
Sementara adik sulung Mutia yang mengantar Verrel dan Velli hanya tersenyum simpul melihat keceriaaan para keponakan.
"Apa kabar, Wil?"
"Baik, Mas... Alhamdulillah!"
"Ayo, kita makan semuanya!" ajak Mutia berusaha ceria juga. Sama seperti sang suami. Yang agak lemas terpancar dari sorot matanya.
"Maaf, tadinya kami mau sowan ke pesantren. Mau jemput sekalian silaturahim menengok Abah. Ternyata, ada kejadian yang membuat kami batal ke Suryalaya!"
"Ga apa, Mas! Abah juga memaklumi keadaan mas Chris dan Mbak Muti! Ini ada kiriman oleh-oleh juga dari Abah dan Nyai!"
"Ya Allah, makasih banyak ya Wil!"
Wildan lebih tertarik memperdalam ilmu agama ketimbang menikah muda. Ia ingin lebih banyak menimba ilmu dahulu, baru maju mencari pasangan hidup setelahnya. Begitu keinginan terdalamnya. Mutia maupun Chris tak bisa mengontrol langkah hidup adik-adik mereka. Karena semua berhak merengkuh bahagia dengan jalannya masing-masing.
Annisa, adik perempuan Mutia telah menikah dan tinggal di kota Magelang. Mengikuti sang suami yang juga seorang Guru Agama di tempatnya tinggal.
Chris maupun Mutia berusaha sewajar mungkin dihadapan adik serta putra-putrinya.
Padahal siang menjelang sore itu fikiran keduanya galau.
"Yang!"
"Iya, Mas?"
"Aku harus kembali ke kantor, Herdilan juga sedang bekerja di ruanganku. Ia sedang merekapitulasi pembukuan perusahaan. Juga masih ada pekerjaan lain yang belum kuselesaikan!"
"Iya, Mas! Hati-hati di jalan ya? Fokus ya bawa kendaraannya!"
"Iya."
Cup.
Christian tak pernah lupa mencium kening istrinya setiap kali berangkat kerja.
Mutia mencium punggung lengan suaminya. Mengantarnya sampai garasi dan mobil meluncur perlahan keluar gerbang.
"Hati-hati di jalan! Selamat bekerja, Yang!"
"Aku jalan dulu, assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam! Bye-bye!"
....
"Mas! Tadi Nona Khaila datang. Dan dia mengatakan sesuatu yang tak kumengerti! Boleh aku tahu maksudnya itu apa?"
Herdilan langsung menodong sang kakak dengan pertanyaan. Kepala dan hatinya sedari tadi bergaduh, menerka-nerka masalah yang sedang dihadapi Christian sampai ia harus mengurus surat perceraian segala.
"Jangan dihiraukan, Lan! Itu hanyalah cobaan kehidupan."
Cobaan kehidupan? Maksudnya apa? batin Herdilan bingung.
"Perusahaan nyaris bangkrut. Aku harus cari uang setengah triliun untuk mengganti uang kerugian!"
Herdilan menelan salivanya. Ternyata permasalahan perusahaan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia tak boleh menganggap masalah ini masalah enteng.
"Nona itu bilang, Mas harus segera mengurus surat perceraian. Aku sama sekali tak mengerti ucapannya!"
"Pak Yosef memberiku option, masalah tender bisa diselesaikan asal aku mau menceraikan Mutia dan menikahi Khaila!"
"What??? Nona cantik yang tadi?"
"Iya."
"Ck ck ck... Hebatnya kau, Mas!"
"Ndas mu hebat! Mumet otakku, mumet Lan!"
"Tapi... kenapa boss besar itu sebegitunya menginginkanmu, Mas?"
"Itulah yang aku gak ngerti! Jangan-jangan aku ini mau dijadikan boneka peliharaannya nanti setelah jadi menantu!"
"Hahaha, gokil! Konglomerat nomor satu di diwilayah Selatan sampai segitunya sama Mas ku ini! Mantul, Mas!"
"Mantul palamu! Dahlah, carikan aku solusi. Bukan dengan ngeledek aku seenak dengkulmu! Kau sama saja seperti si Roger. Anak itu juga pasti bakalan meledekku habis-habisan kalau tahu masalah ini!"
"Hhh... Mas! Jual rumah Mamaku juga, yang mas kasih tempo hari. Rumah itu terlalu besar buatku tinggal seorang diri!"
"Lalu,... kau mau tinggal dimana?"
"Jangan fikirkan aku! Aku bisa tidur dimana saja. Gampanglah itu! Aku bisa tidur di sofa ruangan kantormu ini bila perlu!"
"Hehehe... Thanks, Lan! Rumah kami kemungkinan besar juga akan kami lepas untum menutupi hutang!"
"Mbak Muti sudah tahu?"
"Sudah. Baru tadi aku pulang dan makan siang. Eh, kau sudah makan siang belum?"
"Tadi nitip ketoprak sama Diana, Mas!"
"Hm, oke!"
"Balik lagi pertanyaan tadi, Mas!... Ada ga dibenakmu untuk mengambil langkah seperti yang pak Yosef inginkan, Mas?"
"Woy, aku bukan kamu ya... yang punya pemikiran pendek ambil keputusan. Aku memang memikirkan nasib ribuan karyawanku. Tapi keluargaku adalah harga paling berhargaku, Delan!"
Bangga hati kecil Herdilan. Kakaknya itu benar-benar manusia super yang memiliki integritas dan juga kekuatan luar biasa.
Harta tak membuatnya silau. Keluarga baginya yang utama. Dan Herdilanrespek sekali pada Christian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...