
Dzakki ku makin tumbuh besar, sehat dan lincah.
Bahkan tanpa terasa kini usianya sudah mau empat tahun. Aku pun satu semester lagi, kemungkinan lulus kuliah dan wisuda.
Seperti mimpi ketika ada email masuk ke webside pribadiku. Yang isinya penawaran kontrak kerja di RSJ tempat aku dan kawan-kawan melakukan riset tempo hari dulu. Dan ketika kutelusuri, siapa yang merekomendasikan namaku untuk kerja di sana sebagai konselor psikolog, ternyata...dokter Diandra SpKJ.
Dan seminggu lagi, aku mendapatkan undangan interviewnya.
Banyak sarjana berlomba-lomba mengirimkan berkas lamaran kerjanya di suatu kantor atau perusahaan. Tapi aku, sangat beruntung sekali. Karena sudah mendapatkan tawaran pekerjaan bahkan sebelum tamat dan mendapat gelar sarjana psikologi.
Tentu saja aku tidak akan melewatkan kesempatan langka ini, yang pastinya tak akan datang dua kali.
Walaupun secara logika ada koneksi orang dalam sekelas dokter Diandra, tapi kurasa tak ada salahnya bagiku mengembangkan kemampuanku sebagai seorang pembimbing bagi para pasien ODMK dan ODGJ.
Sambil menunggu skripsiku di ACC dosen pembimbing, aku memberanikan diri menyambi kerja di RSJ.
Selain jam kerjanya yang tidak terlalu ketat, aku masih bisa membagi waktu antara kuliah dan mengurus anak. Alhamdulillah!
Setelah mengikuti prosedur wawancara, namaku lolos menjadi salah satu konselor juga psikoterapis.
Dan aku resmi diterima bekerja walaupun belum menjadi karyawan tetap. Masih sebagai tenaga honorer dan kontrak untuk beberapa trisemester.
"Mami, Mami kenapa sih sekarang sibuk sekali seperti Ayah? Kenapa Dzakki sekolah tak lagi Mami antar?"
Aku tersentuh sekali mendengar komenan dan pertanyaan kritis putraku suatu ketika.
Baru aku sadari... Waktu kebersamaan kami kini kian berkurang dari hari ke hari.
Apalagi kini aku juga tengah sibuk ujian akhir. Menyusun skripsi hingga harus rutin menemui dosen pembimbing.
"Maaf, Dzakki sayang... Mami sedang ujian kelulusan! Sebentar lagi mau sidang skripsi juga. Jadi Dzakki sekolahnya sama Wawa Kenken dan Wawa Tini ya?" ucapku selembut mungkin membujuk Dzakki.
Dia sudah sekolah di Taman Kanak-Kanak kelas playgroup Rinjani. Agak jauh juga dari lokasi rumah, sekitar 20 menit dengan kendaraan.
__ADS_1
Biasanya aku yang mengantar Dzakki. Bi Tini yang menunggui dan Kenken yang menjemput mereka. Kadang juga Roger, sehari dua hari jika pulang dari Surabaya.
Tapi beberapa hari ini, tepatnya setelah aku diterima bekerja di RSJ, aku tidak lagi bisa mengantar putraku sekolah di pagi hari.
Kebetulan jadwal kerjaku di pagi hari, pukul tujuh. Lalu masuk kuliah pukul dua siang.
Dzakki Boy Julian sekolah pukul delapan pagi. Otomatis, aku harus sudah berangkat pukul enam lebih, mengejar waktu agar tak terlambat ngantor.
Kak Mutia sempat memintaku memasukkan Dzakki ke sekolah yang sama dengan twins-nya di TK Perumahan Harmony. Tapi aku berdalih, terlalu jauh dan cukup melelahkan untuk Dzakki. Jadi aku memilih menyekolahkannya di TK terdekat saja.
Dzakki sendiri sempat ngambek di awal sekolahnya. Dia yang berharap bertemu dengan kedua saudara kembar di sekolah, ternyata tidak satu sekolah.
"Mami, Mami!"
"Ya, sayang!"
"Mana kak Velli sama kak Verrel? Mana mereka?'
"Kenapa?"
"Karena rumah dan sekolah mereka terlalu jauh, nanti Dzakki lelah kalau sekolahnya kejauhan!"
"Tapi aku mau sekolah bareng kakak twins! Huaaa hik hik hiks!"
"No no no, don't cry, please...! Anak cowok tidak boleh cengeng! Ingat pesan Ayah Roger!"
"Haaaa...huaaa... Ayaaah!"
Aku kewalahan di hari pertama sekolah. Dzakki mengamuk sehingga bi Tini berinisiatif untuk melakukan sambungan video call dengan Roger.
...[Hallo, jagoannya Ayah! Hei, hei...! Silent, please...! Kenapa Dzakki? Hei, come on Boy, tell me why are you crying?]...
"Ayaaah...! Aku mau sekolah bareng kakak Verrel dan kak Velli!!!" teriak Dzakki keras. Tapi langsung terdiam mendengarkan Roger bicara.
__ADS_1
...[Sayang! Nanti di SD, kalian bisa satu sekolah. Okay? Sekarang Dzakki jadi anak baik. Anak pintar, penurut dan sayang kata Mami. Dzakki putra kesayangan Ayah, bukan?]...
"Iya."
...[So', sekolah yang baik ya my Boy! Okay? Nanti akhir bulan Ayah pulang, kita bisa pergi kemanapun yang Dzakki inginkan]...
"Jungle Land! Aku mau ke Jungle Land!"
...[Oke, oke! Of course... Kita akan ke Jungle Land]...
"Janji? Ayah tak bohong?"
...[Janji. Asalkan Dzakki mau sekolah walaupun tidak satu sekolah dengan kakak-kakak. Dzakki bisa berkenalan dengan teman-teman yang lain, khan? Oke?]...
"Oke! Promise?!? Jungle Land?"
...[Promise, sure! Hehehe... Oke! Selamat belajar, anakku! Bye bye, Assalamualaikum]...
"Waalaikumsalam..."
Aku tersenyum lega. Dzakki-ku tidak sampai tantrum mengamuk minta pulang tak mau sekolah di hari pertama.
Bahkan ia tak ragu lagi bergabung dengan teman-temannya yang baru.
Dan sore hari ketika kupulang dari kampus, Dzakki punya pertanyaan baru yang membuat mumet kepala.
"Mami, Mami!"
"Iya sayang!"
"Kenapa Dzakki panggil Mami dan Ayah? Kenapa bukan Mama Papa, Mami Papi atau Ayah Bunda? Kenapa, Mami?"
Haish!!! Dzakkiii... Mami baru pulang ketemu dosen pembimbing. Laporan skripsi Mami kena revisi. Dan kini Mami masih harus berfikir keras untuk jawab pertanyaanmu, Nak? Oh Tuhan...! Please, help me!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1