
Viona dan Roger meluncur ke Puncak pukul enam petang setelah menjalankan ibadah sholat Maghribnya tiga raka'at.
Keduanya sengaja tidak memberi kabar pada Christian kalau mereka mempercepat kedatangan.
Tini dan Kenken juga baru saja pulang. Entah dari mana mereka. Kalau pun benar dari Bandung, rasanya tidak mungkin.
Mereka hanya ingin memberikan ruang dan waktu untuk pasangan baru yang masih malu-malu itu. Membuat Tini dan Kenken gemas hingga terpaksa kabur sebentar dari area rumah.
Alhasil hal itu pun tak disia-siakan Roger untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya pada Viona.
...........
Jalanan menuju Puncak ternyata cukup lancar karena bukan di hari libur. Suatu keberuntungan bagi pasangan baru itu.
Karena jika mereka melakukan perjalanan ke arah sana di hari sabtu-minggu serta libur nasional, terjebak macet panjang sudah jadi lalapan para pemakai jalan wilayah itu. Dan jalur tutup buka satu arah jadi pilihan alternatif pihak pemerintah dalam menyiasati kemacetan parah.
Mereka akhirnya tiba di tempat sate PSK sekitar pukul delapan kurang.
Mengisi perut sebentar setelah seharian ini saling serang di ranj*ng membuat Roger dan Viona kelaparan.
Beberapa puluh tusuk daging kambing dan daging ayam serta sop buntutnya yang menggugah selera tak lupa Roger bungkus untuk para kerabat dan putranya di villa.
"Jalan lagi yuk, Yang?"
"Mampir dulu gak, sholat sebentar?" tanya Viona ketika melihat masjid yang ada di sekitar warung sate.
"Ya udah, boleh!"
Mereka melipir sebentar untuk ibadah. Lalu kembali melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi.
Hawa pegunungan yang dingin membuat Viona merapatkan jaketnya.
Roger memeluk tubuh sang istri sebelum menyalakan mesin mobil. Mengambil handphonenya, lalu mengambil gambar untuk update status WA nya.
"Biar kak Chris dan kak Lody kepo! Hehehe..."
"Hehehe... padahal kita sudah mau sampai tempat mereka ya!?"
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Benar saja tebakan Roger. Tak lama kemudian Chris menjaprinya. Menanyakan kemana mereka pergi.
"Hehehe... khan khan!?"
Keduanya tertawa. Merasa senang karena diperhatikan saudara.
"Kak Chris sangat peduli pada Mas Roger!"
"Begitulah dia! Sok cool padahal mah kepoan orangnya. Sedari dulu begitu! Bahkan kadang ia bisa jadi orang yang super duper cerewet. Menanyakan keberadaanku jika pukul sepuluh belum pulang ke rumah! Sejujurnya kak Chris lah, Papa bagiku. Dia menjagaku dengan sangat baik meski saat itu aku sangat membencinya!"
Viona memandang wajah tampan suaminya.
__ADS_1
Dulu Roger tak pernah ingin menceritakan kisah hidupnya pada siapapun. Bahkan pada tunangannya sendiri, kala itu.
Tapi kini... bersama Viona, ia ingin menceritakan segalanya. Hingga tiada lagi rahasia diantara mereka.
Sejatinya pasangan suami istri itu seperti pakaian. Yang memberi rasa aman, nyaman dan kehangatan. Yang menutupi semua aib-aib serta keburukan dari pasangan itu sendiri.
Pastinya semua itu berawal dari keterbukaan satu sama lain. Harus berani menceritakan apapun itu, meski pahit terdengar.
"Aku dulu merasa sangat marah. Papa Mama seperti kurang memperhatikanku. Fokus mereka hanyalah anak pertama, yakni kak Chris. Ternyata pandanganku sangatlah salah. Ternyata Papa Mama bahkan menggembleng kak Chris sebagai anak tertua untuk kuat mentalnya. Karena dia-lah yang akan menjadi leader adik-adiknya setelah kedua orang tua kami tiada. Kini aku baru merasakan semua. Bahkan rasa sakit, rasa takut dan rasa ingin melindungi yang kak Chris berikan dalam menuntunku serta Fika seolah menyadarkanku. Betapa bebannya sangat berat selama ini! Bahkan masalah Papa dengan Tante Tasya pun dia membereskan semuanya dengan sangat hebatnya. Andaikan aku,... entah butuh waktu berapa lama hingga semua permasalahan ini menjadi seperti sekarang ini! Hhh..."
Viona menunduk. Kepalanya mengangguk-angguk pelan. Membenarkan semua ucapan sang suami.
"Semoga Allah memberikan umur panjang pada kak Chris, agar selalu membimbing kita semua!" tutur Viona. Diamini segera oleh Roger.
"Aku bahagia, Yang!" kata Roger.
"Aku juga, Mas!"
"Bersamamu kini, aku seperti menjadi pribadi yang lebih baik lagi!"
"Aku juga! Aku apalagi. Hidupku dulu terbiasa nyaman. Walaupun kami bukan dari kalangan yang berpunya. Dan Ayah hanyalah seorang tentara. Sehingga kami terbiasa berpindah-pindah tempat. Mengikuti kemana Ayah ditugaskan. Namun aku terbiasa disayang meski Ayah mendidikku dengan gaya militernya yang keras serta tegas."
"Ayah tidak serta merta memanjakanmu meskipun kamu anak tunggal, ya?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Justru aku dididik harus kuat. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Jangan begini, jangan begitu. Hingga aku sulit berteman! Watakku juga jadi seperti ini, hehehe...! Kadang lemah tapi sangat keras kepala. Itu karena semua sudah disediakan Ayah dan Ibu tapi harus bersedia menerima semua aturan yang mereka terapkan. Ibuku sebenarnya orang yang santui. Tapi rasa cintanya pada Ayah, membuat ibu menjadi orang yang setia dan selalu manut menuruti apa kata Ayah."
Ciiiit...
Roger dan Viona terkejut setengah mati. Nyaris saja ia menabrak seseorang yang menyebrang tiba-tiba.
Rem mendadak membuat suara decitan yang amat keras dari mobil yang Roger kemudi.
Ia berhenti sembari menarik nafas lega. Lalu membuka pintu mobilnya dan keluar memeriksa.
Seorang perempuan terduduk di atas aspal depan mobilnya.
"Mbak!? Anda tidak apa-apa? Mengapa menyebrang tiba-tiba?!" tegurnya agak ketus.
Dan ketika wanita itu mendongakkan wajahnya, terkena sorot lampu dari mobil hingga terlihat jelas wajahnya.
"Ivan...ka?!?"
Wajah wanita yang dulu selalu ada dalam mimpinya. Yang membuatnya begitu ingin bekerja keras, mengumpulkan pundi-pundi uang penghasilannya agar bisa segera menyuntingnya.
Ivanka Kamelia. Mantan tunangan Roger Ghibran Suherman.
"Siapa, Mas?"
Viona ikut turun dari mobil. Ia terkejut melihat seorang wanita terduduk di aspal depan mobil Roger dengan wajah bengap-bengap seperti bekas pukulan tangan seseorang.
"Ya Allah! Mbak baik-baik saja khan?" tanya Viona.
"Ma maaf...! Maaf!"
__ADS_1
Ivanka berdiri perlahan. Lalu berjalan pergi, tapi dicegah oleh Viona.
"Mbak baik-baik saja khan? Kenapa wajahnya babak belur begitu?"
Ivanka tidak menjawab. Roger juga tidak bergeming. Matanya berusaha dialihkan ke tempat lain. Lalu menatap wajah manis istrinya.
Roger tak dapat menahan debaran di hatinya. Sakit itu masih terasa ketika setelah bertahun-tahun berhasil ia lupakan terlebih sejak ada Viona.
"Mas...! Kasihan wanita itu! Apa... kita tidak memberinya uang konpensasi?" ujar Viona.
"Tidak perlu, Sayang! Itu salahnya, menyebrang sembarangan. Lagipula kita tidak menyenggolnya, apalagi menabraknya!"
Tiba-tiba dari seberang jalan, seorang pria berteriak-teriak dengan mengacungkan sebilah pisau pada wanita yang tadi nyaris Roger tabrak.
Spontan Roger menarik tangan Ivanka lalu memasukkannya di jok belakang mobilnya.
"Viona, lekas naik!"
Roger tancap gas dan mereka segera bergegas pergi.
Terdengar suara sesegukan Ivanka dari kursi belakang.
"Mbak! Mbak! Siapa pria yang tadi meneriaki mbak sambil bawa pisau panjang?" tanya Viona berempati.
"Suami saya! Hik hik hiks..."
"Ya Allah..."
Roger hanya diam tak bersuara. Matanya hanya fokus kedepan jalan. Tak ingin berkata apa-apa sementara sang istri begitu baik hati memberikan Ivanka tissue untuk Ivanka menyeka air matanya.
Ciiit...
Lagi-lagi Roger menghentikan kendaraannya mendadak.
"Turunlah! Ini sudah cukup jauh dari tempat tadi kau dikejar pria tadi!" tuturnya membuat Viona menoleh pada sang suami.
"Please, Mas! Jangan turunkan mbak ini dipinggir jalan. Lihat kondisinya yang seperti... ! Seperti korban tindak kekerasan!" tukas Viona.
"Itu bukan urusan kita, Sayang!" jawab Roger.
"Mas! Kumohon... Biarkan dulu mbak ini ikut kita ke villa kak Christian! Kasihan! Sepertinya mbak ini sedang shock karena penganiayaan!"
Ivanka hanya menangis. Tak berkata apa-apa. Tapi tangannya hendak membuka pintu mobil, berniat keluar.
"Mas! Mas... Mbak ini perempuan lho! Posisinya ini sudah malam dan bagaimana kalau pria jahat tadi yang mengejarnya berhasil menemukan mbak ini lagi? Bisa ada kejadian yang tak diinginkan nantinya!"
"Hhh..."
Roger hanya bisa menghela nafas. Istrinya memiliki hati bersih tulus luar biasa.
Tapi andaikan Viona tahu siapa wanita itu, akan lain cerita.
Roger kembali menjalankan kendaraannya. Dan sebentar lagi mereka sampai di Villa Christian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...