
Roger meninggalkan rumah sakit dengan langkah gontai. Tujuannya kini adalah rumah mendiang Jonathan Lordess, omnya yang kini ditempati sepasang pengantin baru. Kenken dan Tini.
Mereka berdua memang kini dipercaya Roger untuk menjaga rumah itu, dan urung dijual demi mengingat kenangan manis almarhum.
Tini dan Kenken sedih melihat wajah murung sang Tuan.
Meski Roger tak banyak bicara, kedua pasutri yang baru satu setengah bulan menikah itu mengetahui banyak hal. Termasuk kesedihan Roger yang merasa tersisih karena kehadiran Herdilan.
Viona memang tidak memberikan kata keputusan. Tapi dari pemikiran Roger yang kadung melemah hatinya, ia merasa kalau Viona pada akhirnya akan kembali pada Herdilan.
Membuat Roger langsung masuk kamar tidur dan mengurung diri.
...........
"Tini... Tin! Kenken!!!"
Roger terbangun setelah pukul tujuh malam. Ia mengelilingi semua ruangan.
Sepi, seolah tak berpenghuni.
"Mereka sedang ke Thamrin City!"
Hampir Roger melompat saking kagetnya mendengar suara jawaban dari sebelah kirinya.
"Vi...Viona?!?"
"Kenapa, Mas? Aku masih hidup, belum jadi setan kali'! Hehehe..."
"Husss, bicaramu!" tegur Roger. Viona tertawa kecil.
"Mau kubuatkan mie rebus?"
"Kamu koq tahu kalau aku lapar, Yang?"
"Mas belum makan dari tadi pagi. Aku bisa dengar cacing-cacing konser nyanyi lagunya bang haji Rhoma Irama. Lapaaar..., lapaaar!"
Roger tertawa senang. Bahkan hingga meneteskan airmata, saking bahagia hatinya.
Dipel*knya tubuh kekasih hatinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang! Kukira aku tak kan lagi bertemu denganmu!" bisiknya dengan suara parau.
"Aku... mencintaimu, Mas! Dan kita telah berkomitmen, bukan?" jawab Viona. Juga dengan berbisik lirih ditelinga kanan Roger.
"I love you, more and more, Viona! (Seketika Roger menangis)... Hik hik hiks..."
Roger terisak dibahu Viona. Membuat Viona terenyuh dan mengusap lembut punggung calon suaminya itu.
"Aku salut, kamu tidak lagi emosi, Mas!"
"Karena aku menahan diriku. Aku juga memandang perasaanmu serta perasaan Dzakki! Aku hanyalah orang luar diantara kalian bertiga. Meski aku sangat menyayangi Dzakki dan mencintaimu, aku tidak dalam kapasitas bisa mengatur hidup kalian!"
Viona mengeratkan pelukannya.
Roger adalah pria terbaik yang pernah ada dalam hidupnya. Dan Viona bersyukur sekali telah menetapkan hatinya pada pria yang kini ada dihadapannya itu.
"Dzakki akan ikut Delan selama seminggu. Dan aku... merelakannya demi kebahagiaan Dzakki!"
Roger membelalakkan matanya.
Tak percaya pada ucapan Viona. Tak percaya kalau sang kekasih hati akhirnya legowo mengatakan itu dengan pilihannya sendiri.
"Justru Dzakki yang menginginkan itu, Mas! Dzakki yang meminta izinku untuk tinggal seminggu bersama Papinya. Hhh..."
Roger mengusap lembut pipi Viona. Bulir air matanya pun terhapus seketika.
"Jika itu permintaan Dzakki, aku tak bisa berkata apa-apa lagi! Hhh..."
"Mas...!"
"Hm?..."
"Apakah aku terlihat sebagai ibu yang egois? Atau ibu yang tidak bisa menempatkan diri dengan benar? Apa sekarang pilihanku memberikan Dzakki ruang bersama Delan adalah pilihan yang tepat?"
"Hhh...!
Roger hanya menggandeng bahu sang kekasih. Berjalan pelan ke arah taman halaman belakang. Lalu mengajak Viona duduk di atas bebatuan memandang bintang-bintang.
__ADS_1
"Viona! Bolehkah aku bertanya?"
"Iya, Mas!..."
"Apa arti Dzakki bagimu, Sayang?"
"Dzakki? Tentu saja sangat berarti bagiku. Bahkan teramat berarti dari apapun. Termasuk Mas, dan yang lainnya. Maaf..., tapi aku berusaha jujur!"
Viona menunduk. Memainkan jari jemarinya yang basah.
Roger menarik tangannya lembut.
"Anak adalah belahan jiwa, itu pasti. Anak juga segalanya bagi orang tuanya,... itu jelas. Semua orang tua yang baik pasti berkata seperti itu. Dan tak ingin kehilangan buah hatinya. Namun tahukah kamu, anak juga memiliki hidupnya sendiri. Rezeki sendiri dan jalannya sendiri. Meski itu harus tetaplah dibimbing selama usianya masih dibawah umur. Terlebih Dzakki yang masih sangat muda."
Viona menatap wajah Roger dengan penuh perhatian. Kata-kata sang pangeran membuat hatinya melunak.
"Selama hati kita tulus ikhlas mencintainya, mengurus dan merawat dengan benar,... anak lebih tahu, Viona! Dan aku yakin, Dzakki lebih peka' menilainya. Siapa kamu, bagaimana perasaan kamu padanya. Ingat? Waktu aku memarahimu karena dia pulang dengan menerobos hujan dua minggu lalu sewaktu pulang sekolah? Dia justru marah padaku yang telah membentakmu. Dzakki juga menyayangimu, Viona! Dzakki tahu isi hatimu, kesedihan dan kesepian yang kamu rasakan. Dzakki memahamimu lebih dari dirimu sendiri dalam memahaminya!"
Viona perlahan menangis. Lagi-lagi kesedihan merajai hatinya.
"Saat ini Dzakki ditunggui Delan dan Tasya?"
"Iya. Dzakki memintaku pulang. Dzakki tidak mau ditemani aku malam ini. Itu katanya!"
"Aku percaya putraku sepenuhnya. Dzakki memang masih balita. Tapi Dzakki sangat dewasa dan berbeda dari anak-anak lain yang seusia dengannya!"
Viona menjatuhkan kepalanya di dada Roger. Ia mengerti ucapan Roger. Dan mengangguk mengiyakan, kalau iapun akan mempercayai Dzakki sama seperti Roger menaruh kepercayaan tinggi pada putranya yang baru berusia lima tahun tersebut. Hingga...
Krucuuuuk...
Sontak keduanya tertawa. Suara perut Roger terdengar nyaring sekali.
Viona bangkit sambil terus tertawa.
"Maaf Sayang! Aku sampai lupa memasakkan mie untukmu!"
Malam itu bintang bersinar terang. Seterang hati Roger yang kembali cerah setelah melihat wajah sang kekasih hati yang tadi sempat membuat hatinya galau.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1