
"Mami, Mami!"
"Ya Sayang!"
"Dzakki mau naik itu!" pinta Dzakki pada Viona seraya menunjuk ke arah waterboom khusus dewasa.
"No, No! Dzakki belum boleh naik itu. Nanti kalau sudah besar, baru Dzakki bisa naik!"
"Berarti sekarang Dzakki masih kecil ya, Mami?"
Viona tertawa mendengar pertanyaan putranya itu. Dengan gemas dijawilnya dagu Dzakki.
"Nanti kalau Dzakki besar, apapun yang baik-baik... boleh Dzakki kerjakan."
...........
Sementara Roger yang hanya pura-pura ramah akrab pada Gigi demi memancing kecemburuan Viona segera minta izin pada sahabat masa abegenya itu untuk pamit.
Ia bingung mencari Viona dan Dzakki kesana kemari.
Handphone Viona juga tak kunjung diangkat meskipun dia sudah melakukan panggilan berkali-kali.
Itu karena memang disilent suaranya dan hape Viona sudah dititipkan di loker kolam renang demi keamanan.
Untungnya Roger sempat mendengar keinginan Dzakki yang ingin berenang, sehingga ia pun memutuskan mencari di kolam renang Atlantis.
Sempat menyesal karena saat itu dia tidak langsung pamit pada Gigi. Padahal Gigi tahu, kalau Roger sedang bersandiwara. Karena dahulu Roger tidak seheboh itu padanya meski ia lah yang begitu.
Diakhir pertemuan mereka Roger menceritakan kalau Viona adalah perempuan yang sedang ia dekati dan berharap menjadi pasangan sejatinya kelak.
Bahkan Gigi secara pribadi mendoakan semoga Roger berjodoh dengan Viona.
Mata Roger tak lelah menengok kanan kiri mencari sosok Viona serta Dzakki di arena kolam renang yang sangat luas.
Meski bukan hari libur, tapi pengunjung cukup ramai membuat Roger pening.
Dipijitnya pelipis sebelah kirinya. Hanya helaan nafas pendek yang bisa ia lakukan selain berputar arah kembali mencari Dzakki dan Viona.
"Ayah! Ayaah!!!"
Roger tersentak. Suara Dzakki memanggilnya namun beberapa detik kemudian ia melihat sang putra yang berlari kearahnya terpeleset jatuh kedalam kolam yang cukup dalam bagi Dzakki yakni dua meter.
__ADS_1
"Dzakki awaaas...!!!"
Roger dan Viona berteriak keras bersamaan meski mereka di tempat yang berbeda.
Roger langsung melompat secepat kilat. Terjun kedalam kolam meraih tubuh Dzakki yang tenggelam dan terlihat panik tak bisa bernafas.
Blubub blubub
"Dzakkiii!!!" Viona hanya bisa teriak histeris melihat putranya terlihat kesulitan menguasai tubuh mungilnya di air dalam.
Ia berlari ke arah kolam dengan tubuh gemetar dan air mata terurai.
Syukurlah, Roger berhasil membawa tubuh Dzakki ke pinggir kolam.
Bocah imut itu hanya terdiam setelah terbatuk-batuk dan memuntahkan air kolam yang sempat masuk kemulut dan hidung Dzakki.
Beberapa orang mendekat seraya bergumam lega.
Viona langsung memeluk tubuh Dzakki sambil menangis sesegukan. Hampir saja ia kehilangan sang buah hati membuat Viona langsung memukul dada Roger kesal.
"Gara-gara kamu, Dzakki hampir tenggelam!" omelnya. Roger hanya diam tak berkata apa-apa.
Dzakki yang tadi pucat pias, berangsur-angsur merona kembali pipinya. Ia tersenyum melihat sang Mami marah-marah.
"Ayah, Ayah! Mami bete lihat Ayah mengobrol sama Tante pirang tadi!" celetuk Dzakki.
Viona terkejut mendengar ucapan putranya. Namun seketika ia tertawa malu sambil berkata, "Mana ada Mami bete, ish Dzakki! Hehehe..."
"Mami malu tuh!"
Roger juga tersenyum malu.
Ia lalu mengajak Dzakki dan Viona kembali ke cottage setelah membeli beberapa potong pakaian di toko cinderamata yang juga menjajakan baju untuk ganti.
"Kita pulang, Yah?"
"Iya, Boy! Hari sudah siang, mari kita pulang. Besok Dzakki sekolah, Ayah yang antar dan tunggui!"
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya."
"Beneran, Yah?" tanya Dzakki dengar bola mata membulat penuh cahaya. Senangnya bukan kepalang mendengar Roger akan mengantarnya sekolah.
...☆☆☆☆☆...
Di depan rumah almarhum Jo, dokter Diandra bersama Dirga sedang menekan bel pagarnya.
Bi Tini keluar rumah. Lalu tersenyum lebar mengetahui tamu yang datang.
"Dokter, Abang Dirga!" sapanya ramah.
"Maaf... Mbak! Dirga nangis pingin ketemu Dzakki. Saya telepon hapenya Viona tapi tidak aktif. Jadi kami langsung meluncur kemari tanpa konfirmasi dulu."
"Waah... gitu ya? Masuk, masuk sini! Tapi... Dzakkinya sedang pergi. Kemarin menginap di rumah tuan Chris tiga hari. Semalam dijemput Mami dan Ayahnya. Tapi ternyata mereka tidak pulang, katanya menginap di cottage Marina Ancol!"
Deg.
Jantung Dokter Diandra langsung bergetar.
Viona dan Roger membawa Dzakki menginap di hotel? Hhh... Apa mungkin... mereka tidur dalam satu kamar? Hm... tapi kalau kamar deluxe apalagi premier, pasti luas. Dan... Haish, fikiranku jadi melanglang kemana-mana! gumam hati kecilnya galau.
"Begitu ya?"
"Sebentar, saya telepon dulu Viona ya Dok!?"
"Oh iya, silakan Mbak!"
Bi Tini menelpon Viona. Mereka berbincang sebentar lewat hape.
"Mereka sedang dalam perjalanan pulang, Dok! Apa... dokter mau menunggu?" tanya Tini dijawab anggukan oleh sang dokter.
Agak sedikit kecewa karena mengetahui Roger telah pulang dari Surabaya.
Padahal ia telah izin cuti dengan sengaja di hari pertama Viona tidak bekerja. Dan jam pulang sekolah Dzakki juga. Karena rencananya ingin mengajak mereka ke Sea World, tempat yang gagal dikunjungi tempo hari.
Ternyata Roger lebih maju beberapa langkah dari dirinya.
Dokter Diandra mengeratkan genggaman tangannya pada Dirga.
Semoga Maminya Dzakki dan Papa bisa berjodoh ya Nak! Dan kamu bisa hidup bahagia. Doanya dalam hati.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...