
"Bu Guru Kartika sakit?"
Dzakki terhenyak mendengar perkataan teman-temannya tentang kabar tidak mengajarnya bu Guru Kartika selama tiga hari ini.
Ia juga tidak sekolah selama tiga hari. Tetapi hari ini memaksa hadir pada sang Mami dengan alasan takut ketinggalan pelajaran dan kangen teman-teman di sekolah.
"Kamu sih sakit, jadi bu Guru juga ketularan sakit!" celoteh Gunawan, teman sebangkunya.
"Ibu Guru sakit apa memangnya?"
"Gak tau!"
"Kata Pak Ilham, bu Guru juga dirawat di rumah sakit!"
Dzakki diam. Wajahnya terlihat sangat serius.
Jam pelajaran di kelasnya diisi oleh pak Ilham. Guru Olahraga sekaligus Guru Piket hari ini. Selama beberapa hari ini kelas satu diajar oleh para guru piket.
.....
Dzakki mendatangi ruang guru. Dilihatnya ada seorang guru yang cukup ia kenal dan juga baik.
"Bu Irma, selamat siang!"
"Selamat siang, Dzakki!"
"Bu Irma, Dzakki mau tanya... dimana rumah sakit tempat bu Guru Kartika dirawat?"
"Hm... Di rumah Sakit Tarakan. Dzakki mau jenguk bu Kartika, ya?"
"Iya."
"Pulang sekolah nanti bu Irma juga mau ke RSUD. Dzakki jenguknya sama siapa?"
Dzakki langsung berubah ceria wajahnya.
"Boleh tidak kalau Dzakki ikut bu Guru Irma jenguk bu guru Kartika?" Dzakki balik tanya.
Bu Irma tersenyum dan mengangguk.
"Boleh. Asalkan Dzakki izin dulu sama Maminya! Harus kasih kabar orangtua kalau mau kemana-mana. Walaupun kita pergi untuk hal yang baik!"
"Iya bu Guru! Dzakki bisa minta tolong?"
"Minta tolong apa, anak manis?"
"Dzakki mau izin Mami. Bisa bu Irma hubungi Mami Dzakki?"
"Hmm... nomor Maminya Dzakki berapa? Dzakki hapal? Sini bu Irma telepon!"
Dzakki tersenyum senang. Ia memberikan nomor pribadi Mami Viona pada bu Guru Irma.
__ADS_1
Tak lama kemudian...
"Hallo, assalamualaikum!"
...[Waalaikumsalam]...
"Ibu Viona Yuliana, Maminya Dzakki ya?"
...[Ya, dengan saya sendiri. Maaf ini siapa, ya?]...
"Saya Ibu Irma dari Sekolah Dasar Borches Internasional. Maaf, Bu Viona... Putra Ibu ingin bicara. Katanya ingin minta izin ikut menjenguk wali kelasnya siang ini, yakni bu Kartika Sari yang sedang dirawat di RSUD. Silakan Ibu bicara dengan Dzakki."
Bu Irma memberikan ponselnya pada Dzakki.
"Mami, ini Dzakki, Mi!"
...[Pulang dulu, Nak! Ada Papi di rumah! Jangan ke rumah sakit, please...]...
"Papi pulang? Iya Mi? Yeaay, okey Dzakki pulang dulu deh!"
Klik.
Wajah Dzakki terlihat begitu sumringah, setelah mendengar perkataan Maminya soal kepulangan Papinya dari Kuala Lumpur.
"Ibu, Dzakki minta maaf... Dzakki tidak bisa ikut. Papi Dzakki pulang dari Malaysia!"
"Oh begitu ya!?! Baiklah, hehehe... Tidak apa-apa, Dzakki!"
...🌼🌼🌼🌼🌼...
"Dzakki!"
Anak dan bapak kandung itu terlihat saling berangkulan erat.
Viona terharu melihat kedekatan keduanya. Padahal jarak, waktu dan juga pertemuan tidak serta merta memudahkan hubungan kontak batin diantara keduanya.
Benar, darah lebih kental dari air.
Dzakki memiliki hubungan khusus dengan Roger, Sang Ayah sambung. Namun tak dapat Viona pungkiri, hubungan Dzakki dengan Herdilan juga terjalin indah meski ia telah sekuat tenaga menghalangi pertemuan antara keduanya.
Roger merangkul bahu istrinya yang nampak nyaris menitikkan air mata.
Hati kecilnya sedikit gamang, mendapati kabar sang istri di tempat kerja kalau adik tirinya itu datang menyambangi rumah mereka.
Sejujurnya, Roger memiliki ketakutan jika Viona bertemu Herdilan dengan Dzakki diantara mereka bertiga saja.
Herdilan sampai saat ini masih menjomblo. Roger takut, Herdilan masih mendamba Viona. Roger juga takut, Viona lemah karena ada Dzakki yang hadir diantara mereka.
Hhh...
Cinta itu rumit. Menahan cemburu juga sulit.
__ADS_1
Seketika Roger pulang ke rumah demi tak menginginkan adanya kesempatan pertemuan empat mata saja antara Viona dan Herdilan. Sedangkan Dzakki masih ada sekolah.
Roger merapat Viona. Kini ia menoleh kepada perut besar sang Istri yang hampir memasuki usia kandungan enam bulan.
Dia menarik nafas. Ada kelegaan dihembusannya. Sebentar lagi baby mereka akan launching. Dan Viona tidak akan bergerak kemana-mana meninggalkan dirinya. Juga Dzakki, bocah imut kebanggaannya itu.
"Papi beneran sudah pulang? Tidak akan kembali lagi ke Malaysia khan?" tanya Dzakki memastikan keadaan Papinya.
Herdilan tersenyum seraya mengangguk.
"Papi dapat bonus pulang lebih cepat dua bulan dari om Ciko!"
Herdilan tersenyum. Diusapnya wajah sang putra yang kini semakin tampan dan dewasa.
Ia mencium kening Dzakki, lalu memeluknya lagi.
Hampir ia mati karena menahan rindu yang cukup besar pada bocah imut hasil pernikahannya dengan Viona itu. Apalagi setelah mendapat kabar dari Christian ketika ada orang jahat mengganggu putranya itu.
"Om Ciko baik banget, ya Pi! Papi boleh pulang lebih dulu!" tutur Dzakki senang.
"Iya. Om Ciko memang sahabat Papi sedari SMA, Nak! Dia sahabat yang pengertian. Juga dia tahu, kalau Papi sangat kangen pada putra Papi yang paling keren sedunia ini! Hehehe..."
Dzakki tersenyum. Ia sesekali menunduk malu, dipuji oleh Ayah kandungnya sendiri.
Namun seketika Dzakki terdiam. Seperti merasakan denyut jantung yang lain. Yang membuat bocah itu menoleh ke arah Roger.
Dzakki mendekat kepada Ayah Sambungnya itu. Menarik tangannya, sehingga tangan Dzakki kiri dan kanan menggenggam jemari Roger serta Herdilan.
"Dzakki senang, punya Ayah juga punya Papi! Dzakki bahagia, Ayah dan Papi menyayangi Dzakki!"
Anak yang hebat! Kata hati Viona. Seketika jatuh butiran dari sudut matanya yang sefari tadi berkaca-kaca.
Roger terenyuh. Putra kebanggaannya adalah yang terbaik. Dan ia bangga telah menjadi bagian dari hidup Dzakki.
"Ayah, Papi...! Antar Dzakki yuk, jenguk bu guru Kartika ke rumah sakit?"
Deg.
Seketika jantung Roger kembali berdegub keras.
Bocah ini, ya...! Hadeeuh... hiks! Roger mengusap wajahnya. Menghela nafas panjang seraya tertawa menyeringai.
"Mami sudah masak. Papi juga masih capek karena baru saja landing dari pesawat. Boleh ya, kita makan bersama dulu, Dzakki?"
Roger berusaha merayu sang putra agar mengingat keluarga mereka saja. Tak lagi ikut campur pada orang lain meskipun itu adalah gurunya sendiri.
"Tapi nanti habis makan kita jenguk bu Guru ya Ayah? Please..., ya Ayah? Atau Dzakki mau diantar Papi saja?"
Roger diam. Menatap wajah polos Dzakki dengan penuh kegalauan. Pada akhirnya sang putra telah mengetahui isi hatinya yang takut kalau Dzakki lebih dekat dengan Papi kandungnya.
Anggukan kepala Roger membuat Dzakki tersenyum dan merangkulnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah!" ucapnya pelan dan terdengar tulus. Luluh seketika hati Roger. Dan Herdilan tersenyum menyaksikan kedekatan keduanya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...