
Roger terlihat sangat bersemangat karena bertemu lagi dengan sahabatnya semasa SMP.
Bahkan hampir Roger lupa, kalau ia sedang berjalan dengan Dzakki dan Viona.
"Gigi! Kenalin nih,..."
"Istri sama anak lo?"
"Hm...," Roger agak bingung. Matanya berputar ke arah Viona serta Dzakki hingga tak berani melanjutkan jawabannya.
"Hallo, saya Gigi, Nagita Riyani. Sahabat Roger waktu SMP. Kabarnya sih, cinta pertamanya Roger, gitu...ganti!"
"Apaan sih lo, Gi! Hahaha... Masih aja narsis!"
"Saya Viona Yuliana. Ini putra saya Dzakki Boy Julian." Viona membalas sapaan ramah Gigi.
"Anakmu tampan bangeeet!"
Dzakki tersenyum seraya mencium punggung lengan Gigi membuat perempuan berumur 35 tahun itu terpesona.
"Manisnya!" puji Gigi pada Dzakki.
Gigi ternyata adalah pribadi yang hangat menyenangkan. Mereka melanjutkan pertemuan di sebuah caffe dekat pinggir pantai. Sarapan bersama.
"Kali ini aku yang traktir ya?" kata Gigi dengan wajah sumringah.
"Jiaaah hehehe... Bu Jenderal banyak uang rupanya!"
"Husss..., bukan lagi bu Jenderal! Turun derajat jadi rakyat jelata. Pak Jenderalnya sudah ke laut hejo!" jawabnya membuat Roger termangu.
"Hmm... Jadi single parent nih ceritanya?"
"Yo'i! Hehehe... Mau pancing kamu, siapa tahu tertarik lagi sama aku. Hihihi..."
"Hadeuh! Gi, Gi! Aku sekarang ga main joran, tapi main jaring. Biar menang banyak! Hahaha..."
Viona jadi teringat Ira dan Firman. Ira sering memanggilnya dengan sebutan 'bu Jen' dan Firman menerkanya itu adalah 'bu Jenderal'.
Ira saat ini sedang mengandung lima bulan. Walaupun kini jarak yang sangat jauh terbentang membatasi pertemanan mereka, namun keduanya tetap intens berhubungan via chat-an.
Memang tidak setiap hari. Seminggu sekali atau dua kali, Vio maupun Ira saling menghubungi.
__ADS_1
Ira bahagia bersama Leon sang suami. Kini mereka sedang menanti kelahiran buah hati pertama mereka di Brau sana.
Ira juga selalu mendoakan kebahagiaan Viona serta Dzakki. Semoga persahabatan ini 'til jannah'. Aamiin...
"Mami...!"
"Ya sayang?"
"Dzakki mau berenang."
"Iya. Nanti ya? Kita renang di Atlantis!" jawab Viona mencoba merayu Dzakki.
Sepertinya Dzakki bosan. Dia hanya duduk mengaduk-ngaduk makanannya sambil menengok kanan dan kiri sesekali. Gumam hati kecil Viona.
Roger masih sibuk bercakap-cakap dengan Gigi, sahabat wanitanya. Mereka terlihat semakin asyik hingga sesekali terdengar tawa menggema dan saling pukul bahu satu sama lain.
"Maaf...! Bolehkah aku dan Dzakki main pasir di pantai?" tanya Viona, terlihat agak takut menyela obrolan mereka yang begitu seru.
"Ah...!"
Matanya memancarkan rona serba salah.
"Aku... mengobrol dulu ya, Vi?" pintanya kikuk sendiri.
Viona tersenyum mengangguk. Ia juga mengangguk sopan pada Gigi yang terlihat merapikan kerah kemeja Roger yang miring sebelah.
"Vi! Jangan jauh-jauh ya? Nanti aku telpon!"
"Iya."
"Dzakki jagain Mami ya?"
Roger memangku Dzakki sebentar. Menghadiahi kecupan di pipi kanan dan kiri bocah imut itu.
"Iya, Ayah! Ayah, Ayah... Dzakki mau berenang di Atlantis sama Mami, ya?"
"Aih? Jangan dulu, nanti sama Ayah juga! Tunggu sebentar,...! Ayah sedang mengobrol dulu dengan tante Gigi, ya?"
"Ayah lama!"
__ADS_1
"Sebentar Sayang!"
Viona menarik pangkal lengan putranya gemas. Ia tak ingin mengganggu Roger yang terlihat gembira bertemu teman lama.
Ada sedikit rasa nyeletit dihati yang menggelitik. Rasa yang tak bisa ia tebak sendiri.
Hanya ulu hatinya yang berdengung. Rasa tidak nyaman itu bisa dilihat sang putra.
"Mami bete ya, Ayah pelukan sama cewek lain?"
"Aih? Bete apaan? Siapa yang ngajarin Dzakki kata-kata itu?"
"Wawa Kenken!"
"Hehehe...! Dzakki juga bosan khan di dalam lihat Ayah asyik ngobrol sama temannya?"
"Iya. Dzakki pingin berenang!"
"Ya udah, yuk kita berenang!"
Viona menuntun jemari Dzakki. Ia mengajak sang putra untuk kembali ke kamar. Mengambil dompet untuk lanjut ke kolam renang Atlantis.
"Ayah ditinggal, Mih?"
"Ayah masih sibuk. Kita aja duluan. Mau engga'?"
"Oke!" jawab Dzakki semangat.
Kedua ibu dan anak itu bergegas meluncur ke tempat yang lumayan jauh juga dari cottage tempat mereka bermalam.
...♡♡♡♡♡♡...
Sementara itu di rumah pemberian Christian, Herdilan memulai hari barunya dengan berjualan di samping.
Sebuah toko berukuran 4x4 meter penuh dengan barang dagangan sembako membuat Herdilan lagi-lagi mengucap syukur dalam hati.
Kini ia tak perlu was was lagi dengan hari-hari selanjutnya. Ia tak perlu lagi bekerja sebagai kernet bis di terminal.
Dan ia juga bisa menjemput sang Mama untuk tinggal bersama di akhir bulan.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1