
"Selamat pagi, Bu Guru!"
"Selamat pagi Dzakki!"
Kartika tergagap menjawab sapaan manis bocah imut murid lelakinya itu. Mereka berpapasan di depan gerbang sekolah. Sama-sama baru datang dan baru saja turun dari kendaraan masing-masing yang mengantarnya.
Baru pertama kali ia merasakan nervous luar biasa. Padahal yang menyapa hanyalah anak kecil berusia kurang dari tujuh tahun.
Mata Dzakki beralih menatap ke arah tutebag yang Kartika bawa. Semakin membuat Ibu Guru yang manis cantik ini merinding.
"Ibu ke kantor dulu ya, Dzakki?"
"Ibu... Itu bekal Ibu Guru ya?" tanya Dzakki tak merespon pamit Kartika.
Kartika mengangguk dan tersenyum. Kakinya melangkah lebih dulu berusaha meninggalkan Dzakki. Namun...
Grep.
Tangan mungil Dzakki ternyata mencengkram lembut pergelangan tangan Kartika. Sehingga Gurunya itu langsung menoleh.
"Iya, Dzakki?"
"Jangan makan bekal yang diberikan ibu-ibu itu lagi." Wajah Dzakki tampak imut, dengan senyum polosnya. Tapi perkataannya yang mengintimidasi, membuat Kartika kaget bukan kepalang.
Bagaikan mendengar suara petir. Kartika terperangah. Suara Dzakki terdengar dalam dan mengandung maksud tertentu.
Tapi Kartika kembali berusaha menguasai dirinya. Lagi-lagi hanya senyuman manis yang ia berikan pada Dzakki sebagai jawaban.
"Sini, biar bekal Bu Kartika ditukar sama bekal Dzakki!"
Ya ampuuun... ini anak! Gigih sekali usahanya. Tutur kata hati Kartika.
"Terima kasih, Dzakki! Sepertinya Maminya Dzakki juga buka usaha katering ya? Boleh deh bu Guru pesan satu porsi untuk besok ya? Tapi hari ini bu guru sudah terlanjur bawa bekal juga. Sampaikan salam dan pesan bu Guru ya sama Maminya Dzakki!"
Kini Kartika lebih memilih mengambil langkah seribu. Segera bergegas berjalan cepat ke arah kantor guru.
Mata Dzakki terus menatap tak berkedip pada Kartika. Membuat Kartika semakin takut menghadapi bocah imut yang semula dimatanya itu terlihat cute.
"Bu Kartika, sudah sembuh?" tanya bu Irma, rekan sesama guru yang sudah datang sedari tadi.
"Ah iya, bu Irma. Alhamdulillah, sudah sehat!"
"Syukur deh kalo gitu. Hehehe..., semangat!"
"Iya. Hehehe... semangat juga bu Irma!"
Mereka kembali sibuk mempersiapkan bahan-bahan pelajaran hari ini untuk kelas masing-masing.
Para Guru satu persatu masuk dan saling memberi salam selamat pagi pada para rekan. Lalu sesekali berbincang santai disela mereka menyiapkan bahan yang akan dibawa ke kelas masing-masing.
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Pukul tujuh tiga puluh tepat. Pertanda kelas dimulai.
Suasana sekolah yang tadinya riuh sorak-sorak para siswa, kini perlahan sepi dan hening. Mereka masuk ke kelas masing-masing. Membuat koridor menjadi lapang dan tenang.
Kartika dan para guru memasuki kelas pegangan mereka masing-masing. Tujuan Kartika adalah kelas 1 A, yaitu kelasnya Dzakki.
__ADS_1
Sebelum membuka pintu kelas, Kartika menarik nafas. Memejamkan mata seraya berdoa dalam hati. Entah mengapa sejak kejadian kemarin, ia jadi takut untuk bertemu Dzakki. Apalagi menatap wajah terlebih mata bocah tampan itu.
Entahlah...
"Selamat pagi anak-anak!" sapanya semangat setelah menutup pintu kembali.
"Selamat pagi Ibu Guruuu!!!"
Serentak murid-murid menjawab.
Dian sang Ketua Kelas berdiri di depan kelas. Menjadi Pemimpin memberi aba-aba.
"Berdiri! Beri salam! Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh!"
Suara imut terdengar manis serentak dari bibir-bibir mungil murid-murid Kartika Sari.
"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh! Selamat pagi, selamat belajar semuanya!"
Dian kembali ketempat duduknya. Semua murid telah kembali duduk juga dari berdirinya.
Mata Kartika bertabrakan dengan mata Dzakki. Terlihat Dzakki tersenyum manis. Namun Kartika justru merasa sangat gugup sampai gemetar.
Anak itu kenapa sih? Selama ini dia terlihat sangat manis dan baik. Kenapa sejak kemarin aku dibuat tak berkutik melihatnya, padahal dia tak berbuat kasar apalagi kurang ajar yang berlebihan. Hanya karena kemarin tiba-tiba dia melempar bekal makanku ke arah kelas hingga berhamburan. Dan... kata-katanya yang sebenarnya biasa saja kenapa jadi terdengar menyeramkan bagiku. Hhh...
Kartika berusaha tenang.
Ia mengalihkan perhatiannya untuk fokus mengajar. Meski sesekali ia curi pandang pada Dzakki, yang juga terlihat sibuk dengan tugas yang Kartika berikan.
Hingga bel kembali berbunyi. Pukul sembilan, waktu istirahat tiba.
Kartika yang sedang merapikan alat tulisnya tersenyum mencoba menenangkan diri.
"Selamat istirahat, Dzakki!"
"Sepertinya bu Guru takut sama Dzakki, ya?"
"Ta-takut? Tidaklah. Hehehe...! Dzakki manis dan imut. Kenapa bu Guru harus takut? Dzakki juga baik dan penurut. Iya khan?" kata Kartika bergegas buru-buru meninggalkan kelas.
Namun ternyata Dzakki mengikutinya.
"Dzakki bikin bu Guru takut ya?"
Kartika merasa tubuhnya merinding. Ia semakin mempercepat langkahnya menuju ruang kantor guru.
"Dzakki sayang bu Guru. Itu sebabnya Dzakki tidak ingin bu Guru terus-terusan dinikahkan oleh setan gondoruwo itu!"
Deg.
Kartika bergidik mendengar celotehan Dzakki.
Kini matanya menatap tajam wajah imut itu.
"Dzakki tidak boleh berkata seperti itu. Halusinasi Dzakki terlalu berlebihan. Itu tidak baik untuk tumbuh kembang Dzakki!" ucapnya dengan sedikit tekanan.
"Ibu Guru tidak percaya Dzakki, ya?"
__ADS_1
"Hhh...!"
Kartika menghela nafas panjang. Kesabarannya nyaris hilang. Seketika ia tersadar, bocah dihadapannya itu hanyalah anak kecil yang berusia tujuh tahun kurang.
Ia harus bisa menguasai emosinya. Bukan semakin terpancing.
Senyumnya kembali mengembang.
"Ibu, Dzakki mohon... jangan makan bekal Ibu! Itu makanan bercampur dengan makanan setan. Dan...,"
Tiba-tiba tubuh Dzakki bergetar hebat. Seperti ada kekuatan lain yang membuat Dzakki berguncang ke sana kemari.
"Dza Dzakki!!!" pekik Kartika panik.
Dzakki seketika jatuh terhempas kelantai. Dan masih dalam kondisi kejang-kejang.
Kartika berlari meminta pertolongan.
Tubuh Dzakki kini dibawa keruang UKS sekolah yang ada di samping ruang guru.
"Dzakki, Dzakki!"
"Iya, Bu Guru!"
Syukurnya Dzakki segera sadar. Keadaannya kembali pulih meski wajahnya sedikit pucat dan rambutnya berantakan.
"Dzakki kenapa?" tanya beberapa guru.
"Apa Dzakki sakit? Apa mau diantar pulang ke rumah?" tanya Kartika.
Dzakki menggeleng cepat.
"Jangan! Mami Dzakki sedang hamil lima bulan. Nanti Mami shock kalau diberitahu kondisi Dzakki!"
"Dzakki memangnya sedang sakit?"
"Tidak. Tapi Dzakki sudah biasa seperti ini. Hehehe...! Setan yang mencintai Bu Guru Kartika tidak suka pada Dzakki. Dia jadinya mengganggu Dzakki, berharap Dzakki mundur dan tak ganggu dia lagi!"
Kartika seketika pucat pias.
Bahkan kini beberapa guru yang ada di sana saling berpandangan tak mengerti.
"Dzakki ini sepertinya bercita-cita menjadi penulis novel horror, hehehe...!" Kartika berusaha menenangkan suasana. Seketika para guru tertawa kecil menanggapi ucapan bu Kartika.
Hingga tanpa terasa bel masuk kelas berbunyi. Pertanda jam istirahat telah usai.
"Kami tinggal dulu ya bu Kartika! Biar saja dulu Dzakki istirahat di sini. Sepertinya tubuhnya masih lemas!" kata bu Irma. Beliau keluar bersama para guru lainnya. Lanjut kembali bertugas mengajar kekelas masing-masing.
"Dzakki!"
"Ibu pasti mengira Dzakki berkata bohong! Iya khan? Tapi ini benar. Ucapan Dzakki tidak bohong! Dan setan itu,... selalu mendampingi bu guru bahkan saat ini juga dia sedang memelototi Dzakki!"
Merinding bulu kuduk Kartika seketika.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1