
"Apakah kamu bahagia, Viona?" tanya suamiku di atas ranjang baru kami hadiah pernikahan dari Papa Bambang yang beliau kirimkan langsung ke rumah kami lengkap dengan permintaan maafnya karena tak bisa ikut hadir di pesta perusahaan kemarin malam.
Kado-kado besar kecil dari para tamu undangan berserakan dilantai, belum sempat kami unboxing.
"Tentu saja, Mas! Aku sangat bahagia!"
Jawaban yang benar-benar keluar dari hatiku yang paling dalam.
Aku bahagia, menikah dengan mas Herdilan Firando.
"Kita sudah setahun menikah, tapi kita tak pernah menghabiskan waktu liburan berdua. Maukah kamu pergi denganku lusa ke Lombok, Vi? Kita bulan madu yang kedua!"
Aku mengangguk senang. Ini pertama kalinya mas Delan mengajakku liburan setelah setahun kesibukan melandanya dengan pekerjaan yang super padat.
"Beneran, Mas?"
"Iya. Kita liburan lima hari di Lombok! Aku sudah mengaturnya lewat perjalanan online milik rekananku, yang!"
Kupeluk tubuh gagah suamiku. Kini seakan terbalas semua pengorbananku menunggunya pulang pukul sepuluh malam setiap harinya. Kini ia memikirkan diriku juga.
"Viona! Semoga cinta kita selalu kekal abadi ya sayang?" bisiknya lirih membuatku hanyut dalam buaiannya.
Mama Tasya juga kini tak lagi terobsesi menodong kami dengan permintaannya untuk memberinya cucu segera.
Entah kenapa. Apakah mungkin mas Delan kini telah bisa meluluhkan hatinya dengan argumen yang bisa di terima Mama. Yang pasti hidupku kini lebih menyenangkan di hari-hari kedepan tanpa tekanan Mama Tasya.
Kabarnya, mas Delan meluangkan waktunya sejam setiap hari sebelum pulang ke rumah kami untuk mengunjungi mama Tasya di istana megahnya.
Aku tidak keberatan juga. Toh biar bagaimana pun Mas Delan adalah putra tunggalnya. Mama Tasya kesepian pastinya setelah kami pergi pindah rumah dari istananya. Jadi,... akulah kini yang harus lebih ikhlas membiarkan suamiku untuk menengok mamanya setiap hari.
...⚘⚘⚘...
Kisah Terselubung Diantara Jelita Lara, Mama Tasya dan Herdilan Firlando
Setahun telah berlalu dalam kehidupan rumah tangga Herdilan dan Viona. Hingga tiba saatnya hari istimewa.
Herdilan yang tengah tergila-gila bermain api dengan Lady Navisha alias Jelita Lara semakin intens melakukan pertemuan, baik diluar jam kantor maupun di dalam kantor itu sendiri.
Mama Tasya yang begitu antusias ingin memberikan surprise pesta pernikahan putra dan menantunya itu berniat menemui Herdilan di ruang pribadi sang putra di perusahaan yang di bangunnya sejak muda.
Ia sudah terbiasa keluar masuk ruangan putranya itu tanpa pemberitahuan sebelumnya, baik langsung pada sang putra maupun pada sekretaris pribadi Herdilan.
__ADS_1
Mama terkejut melihat ruangan Herdilan yang kosong, namun ada sebuah tas kulit asli tergeletak di kursi sofanya.
Tentu saja itu membuat hatinya bertanya-tanya serta menimbulkan kecurigaan yang tinggi akan si pemilik tas branded yang tak ia kenali.
Jantung Mama Tasya berdesir kencang. Telinganya mendengar lenguhan-lenguhan yang makin membuat hatinya gusar. ******* itu begitu meresahkan. Terdengar dari balik ruang pribadi sang putra yang terkunci rapat dari dalam.
Ada perempuan di dalam sana!
Ia akhirnya memutuskan untuk duduk diam menunggu putranya dalam berkegiatan hingga selesai. Tak mau ambil langkah yang gegabah.
Herdilan pucat pias melihat sesosok tubuh wanita tengah duduk dengan wajah tegang menatap ke arahnya yang baru saja selesai bercinta dengan Lady Navisha.
"Siapa perempuan yang bersamamu di dalam?" tanya sang Mama datar.
Herdilan segera menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tepat berlutut di bawah kaki Mamanya.
"Ma... Maafkan aku, Ma!"
"Siapa wanita yang di dalam itu?" tanya mamanya lagi. Kali ini sorot mata kekecewaannya berubah menjadi lebih garang.
"Ma!"
"Yang pasti itu bukan istrimu, bukan? Siapa perempuan murahan itu?"
Mama Tasya menampar pipi Delan dengan keras.
"Mas Delan!"
Lady Navisha memekik lalu tertegun menyaksikan kekasih tercintanya sedang duduk bersimpuh dihadapan sang pemilik asli Perusahaan tempatnya bekerja.
Keringat hasil kerja kerasnya bersama Delan masih mengucur di pelipis, belum ia hapus.
"Kamu...! Talent yang baru bergabung itu? Cih... Benar-benar perempuan murahan!" maki mama Tasya membuat Herdilan mendekap tubuh mamanya erat.
"Jangan salahkan Lady, Ma! Kisah hidupnya adalah duplikat Mama!" tutur Delan membuat sang Mama mendelik.
"Apa maksudmu, Delan? Kamu samakan kisah hidup Mama dengan perempuan ini? Ya Tuhan...!"
Lady menangis sesegukan. Ia ikut menjatuhkan tubuhnya di lantai setelah mengancingkan blues atasan yang dikenakan.
"Maafkan saya, Miss! Maafkan saya!"
__ADS_1
"Jangan sentuh kakiku dengan tangan kotormu!" hardik Mama juga berurai airmata.
Delan menangis sesegukan di bawah kaki mamanya. Disampingnya Lady yang juga terpekur lebih sedih lagi tangisannya.
Delan menceritakan kisah hidup Lady yang miris dijadikan boneka sapi perah pamannya. Yang harus mencari uang demi menafkahi dirinya sendiri serta keluarga pamannya. Lady selalu diintimidasi, di tekan agar menuruti semua perintah sang paman.
Mama Tasya ikut terhanyut dan menangis mendengar kisah Lady yang sedikit Delan dramatisir demi mendapatkan maaf dari sang Mama.
Entah begitu lemahnya pertahanan mama Tasya. Akhirnya ia merengkuh tubuh Lady Navisha dan memeluknya erat.
"Semangat ya, sayang! Kamu jangan patah! Kamu bisa fight meskipun pamanmu hanya memanfaatkanmu saja!" kata Mama membuat suasana mengharu biru.
Lady semakin lirih tangisannya. Membuat mama Tasya makin memeluknya erat.
(Benar-benar akting yang nyebelin : isi hati author)
"Sekarang kamu tinggal dimana? Siapa namamu?" tanya Mama pada Lady.
"Lady, Miss! Nama panggung saya adalah Jelita Lara! Saya... saat ini ikut kata mas Delan saja! Hik hik hiks..."
"Jadi... selama ini kamu tinggal berpindah-pindah?" tanya Mama.
"Iya, Ma! Lady kusuruh tinggal sementara waktu di apartemenku yang di Angkasa."
"Sejak kapan... kalian bersama?" tanya Mama gelisah akhirnya mengingat Viona, menantunya.
"Sudah... dua bulan ini!"
Delan menunduk. Menenggelamkan wajahnya yang merah karena malu, perbuatan tercelanya telah ter-gep sang mama.
"Kamu sadar akan perbuatanmu, Delan?"
"Iya, Ma! Maaf... Aku..., aku khilaf! Aku hanya..."
"Jangan bilang kau hanya kasihan saja pada Lady! Mana pertanggung jawabanmu padanya setelah dengan seenaknya kau... mengajaknya bercinta?... Haish!"
Mama Tasya sangat kesal dengan keadaan yang membuatnya serba salah ini. Ia seperti telur yang berada di ujung tanduk. Sangat bingung mengambil sikap.
Terlebih melihat seraut wajah polos milik Lady Navisha yang bagaikan seorang putri yang tercemar kini akibat tindakan putra tunggalnya.
"Hhh... Baiklah! Untuk saat ini,...kamu Lady, ikut pindah ke rumah Mama. Dan kamu, Herdilan,... kembali pada Viona! Hubungan kalian harus dituntaskan sampai di sini saja! Ini sangatlah berbahaya dan tidak baik. Kalian baru akan merayakan setahun rumah tangga, Delan! Teganya kamu... ish!"
__ADS_1
Bingung hendak berkata apa. Yang pasti kini jemari Mama Tasya menggenggam erat jemari dingin milik Lady Navisha.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...