PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 219 IN FRAME "ROGER SAKIT"


__ADS_3

Pernahkah kau bicara, tapi tak didengar


Tak dianggap... sama sekali


Pernahkah kau tak salah, tapi disalahkan


Tak diberi kesempatan


Kuhidup dengan siapa


Kutak tahu kau siapa...


Kau kekasihku tapi orang lain bagiku


Kau dengan dirimu saja


Kau dengan duniamu saja...


Teruskanlah teruskanlah...


Kau begitu


Lirik lagu Agnes Mo terdengar sampai ke hati. Alunan musik yang Viona nyalakan dengan suara pelan dari galeri musik di hapenya. Membuatnya hanya bisa melamun seorang diri di teras villa mendiang Jonathan.


Matanya menerawang jauh, mengingat semua kisah dalam hidupnya.


Di dalam Dzakki sedang asyik bergulat dengan Ayah angkatnya. Seperti biasa, mereka memiliki dunia sendiri ketika sedanh berduaan.


Dunia laki-laki yang keras dan selalu ada pukulan. Sesekali Viona mendengar teriak serta tawa Dzakki menggema.


Baru kali ini ia mendengarnya lagi, setelah hampir tiga minggu mereka tinggal di sini.


Ada senang terselip di dada Viona.


Dzakki dan Roger, memang tak bisa dipisahkan.


Meski mereka bukanlah ayah dan anak kandung, keduanya memiliki ikatan batin yang kuat serta chamistry yang luar biasa.


Bahkan mengalahkan kedekatan Viona sendiri sebagai ibu kandung yang melahirkan Dzakki.


Viona menengok ke arah jam dinding. Pukul sembilan malam kurang. Dan suara Roger maupun Dzakki kini tak lagi ia dengar.


Viona memutuskan masuk rumah melihat keadaan keduanya.


Senyumnya mengembang.


Dzakki dan Roger sudah tepar diatas matras.


Dengan berjinjit, Viona memasuki area ruang bermain. Perlahan mengangkat tubuh Dzakki, namun... ternyata baru ia sadari kalau putranya itu kini sudah besar. Hingga ia cukup kewalahan menggendong Dzakki yang semakin berat.


"Biar aku yang angkat!" kata Roger yang ternyata kembali bangun.


Viona tak menyerah. Dzakki adalah putranya.


Dengan perjuangan lumayan keras, ia mengangkat Dzakki terengah-engah dan memindahkan masuk kamarnya.


"Dasar perempuan yang keras kepala!" sungut Roger pelan tapi jelas. Dan rutukan Roger terdengar telinga Viona.


Roger bangkit. Masuk kamar lain.


Ia menggigil merasakan tubuhnya sakit keseluruhan. Namun berusaha tak dihiraukan.


Giginya bergemelutuk, menahan hawa dingin dari dalam tubuhnya yang agak gemetar.


Viona kini ikut berbaring disamping sang putra. Mengusap lembut wajah Dzakki yang mulus dan bersinar indah. Menetes air mata Viona.


Anakku... Maafkan Mamimu ini, Sayang! Mami terlalu egois dan mau menang sendiri. Mami tak pernah memikirkan perasaanmu. Tak sadar, telah menyakitimu! Kamu pasti berat menjalani hidup ini sendirian. Dan perlahan, kekacauan hidup Mami, telah Mami salurkan pula pada hidup serta masa depanmu!


Airmatanya mengalir deras.


Malu pada putranya.


Malu oleh kelakuannya yang tak pernah bisa dewasa.


Bahkan Dzakki jauh lebih dewasa dengan berani memarahi Roger yang memakinya karena kesalahan Viona sendiri.


Viona perlahan bangkit dari tidurnya. Kini tujuannya adalah Roger. Ia harus berdiskusi dengan pria itu untuk minta pendapatnya.


Viona kini menyadari, kalau semua nasehat yang keluar dari bibir Roger adalah yang terbaik.

__ADS_1


Tok tok tok...


Viona mengetuk pintu kamar Roger.


Krieeet...


Pintu kamarnya ternyata tak dikunci.


Viona menatap tubuh yang tergolek diatas ranjang kasur. Berselimut menutupi hingga bawah dagunya.


Ia berjalan perlahan menghampiri Roger.


Ini baru pukul sembilan lewat. Roger pasti belum tidur karena tadi baru saja masuk kamar! gumam hati kecil Viona.


Ditatapnya wajah Roger. Perlahan Viona menyadari... Roger terlihat begitu pucat.


"Roger..." sapanya pelan.


"Hhh...! Hhh... Hhh..."


Viona terkejut. Seperti suara hembusan nafas dan er*ngan kecil dari bibir Roger. Seperti orang yang meriang panas dingin.


"Ro-ger?"


Viona memegang dahi Roger.


Panas sekali!!!


Terlihat keringat dingin mengucur dari pelipis Roger. Membuat Viona sadar, kalau pria yang tidur itu sedang sakit.


Ia segera bergegas ke dapur. Mengambil air hangat ke dalam baskom. Juga mencari sapu tangan handuk di lemari pakaian miliknya.


Langkahnya dipercepat.


Kemudian Viona juga mengambil kotak obat. Dicarinya parasetamol penurun panas juga antibiotiknya.


Lalu balik lagi ke dapur mengambil segelas air hangat.


"Roger... bangun dulu sebentar!" pintanya dengan lembut.


Sementara sang pasien tampak tak pedulikan ucapannya.


Viona kembali me-lap dahi Roger yang basah oleh keringat.


"Vi... tidurlah sana! Aku bisa mengurus diriku sendiri." Roger menolak kebaikan Viona yang ingin memberinya obat.


"Bangunlah dulu!"


"Hhh... hhh... Sudah pergi sana! Aku tidak apa-apa!"


"Haish! Ternyata kamu bocil juga ya dikala sakit!" rutuk Viona pada akhirnya.


Meski begitu, Viona tetap tak meninggalkan Roger. Justru ia menyingkap selimut pria itu. Mengangkat bahu Roger sekuat tenaga, hingga mata Roger yang terpejam perlahan terbuka.


"Viona!"


"Makanya bangun, minum dulu obat!"


Akhirnya Roger mengalah.


Ia pun menuruti perintah Viona. Mengambil dua butir tablet dari jemari Viona, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Segelas air hangat jadi pendorong hingga habis masuk kedalam perutnya.


"Terima kasih!" ucapnya dengan suara parau.


Viona melap leher Roger yang basah. Tangannya juga meraba bagian dada Roger yang basah oleh keringat.


"Tunggu sebentar, ya? Aku cari pakaianmu!" ujar Viona mengambil ransel milik Roger.


"Aku lupa bawa baju!" tukas Roger membuat Viona memandang ke arahnya.


Viona lalu bergegas ke kamarnya. Mencari kaos oblong miliknya. Lalu kembali dan membuka kemeja yang dipakai Roger.


Tangannya agak gemetar. Dia gugup meski secara umum sudah agak terbiasa mengurus pasien di RSJ.


"Jangan bilang ini kaos oblongnya si Cemen! Hhh... hhh..." tutur Roger dengan mulut manyun disela meriangnya.


"Bukan. Ini milikku. Eh? Maaf... aku salah ambil, hehehe... ini kaos daster!"


"Haish! Hhh... hhh... hhh..."

__ADS_1


Meski begitu, Viona tetap memakaikannya. Roger kadung menggigil kedinginan jika tak segera ia kenakan baju.


"Ke Dokter yuk?" ajak Viona.


"Ini sudah malam. Besok saja!"


"Tapi suhu tubuhmu tinggi sekali!" Viona menyelipkan termometer ke ketiak Roger.


"39, 4 derajat celcius! Ini tinggi sekali!!"


"Tadi khan sudah minum obat! Hhh... hhh... hhh... Viona! Tolong selimuti tubuhku!"


Viona menuruti permintaan Roger. Bahkan ia mengambil satu lembar lagi selimut miliknya dari kamar Dzakki. Sejak pindah ke tempat itu, Viona dan Dzakki kini tidur berdua. Berharap Dzakki jadi lebih dekat dengannya, meski kenyataannya justru kebalikannya.


Viona menutupi tubuh Roger dua lapis.


Sesekali ia melap keringat di kening serta lehernya juga. Kemudian memakaikan kompres handuk basah di dahi Roger.


"Aku jadi seperti bayi! Hhh... hhh... hhh..."


"Ssstt...! Tidur saja, jangan berisik. Biarkan aku merawatmu!"


Mendengar perkataan lembut Viona, Roger hanya terdiam. Sesekali giginya terdengar bergemerutuk menahan hawa dingin.


Viona mulai cemas. Khawatir Roger dehidrasi dan hipotermia.


Sesekali diangkatnya handuk basah yang cepat sekali mengering menyerap panas tubuh Roger.


Viona kembali menyodorkan air putih ke bibir Roger yang tampak membiru.


"Minum, Ger!"


"Hhh... hhh... Tidak sopan! Aku mau dipanggil Ayah! Itu perjanjian kita, bukan? Hhh... hhh..."


"Hhh... Baiklah, Ayah! Minum dulu!"


Kacau. Bocil ini mulai meracau karena panasnya yang tinggi.


Roger menurut. Ia minum air yang Viona berikan dengan dibantu sedotan.


"Viona!... Jangan sakiti perasaan Dzakki yang lembut! Anak kita itu terlalu cerdas, dan memiliki IQ tinggi. Hhh... hhh..."


"Iya. Maafkan aku, telah terlalu egois hanya memikirkan diriku sendiri!"


"Minta maaf pada Dzakki, bukan padaku! Kamu membuat Dzakki sedih dan kecewa. Hhh... hhh...!"


"Iya. Besok akan kulakukan. Tidurlah! Istirahat!"


"Hhh... hhh... kamu juga! Tidurlah sana di kamar Dzakki. Jangan dekat-dekat aku! Hhh... hhh... nanti ketularan!"


"Sssttt...!"


Viona menempelkan jari telunjuknya ke bibir Roger. Perlahan jemari itu naik ke atas kelopak matanya. Mengusap-usap lembut pucuk hidungnya, hingga mata Roger terpejam.


Viona hanya bisa menghela nafas. Matanya menatap lekat wajah tampan Roger yang rupawan.


Tuhan! Aku inginkan pria ini! Apakah aku boleh hidup bersamanya?


"Hhh... hhh... hhh... Viona! Apa ada kaos kaki? Dingin sekali hhh... hhh..."


Viona bangkit. Mencari-cari kaos kaki di laci lemari pakaiannya.


Lalu kembali ke kamar Roger dan memakaikannya.


Kaki Roger dingin sekali, meski kepalanya teramat panas.


Viona semakin gugup dan cemas. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam. Dan ia memikirkan jalanan yang becek dan berlumpur habis hujan tadi siang. Sehingga urung hendak membawa Roger ke rumah sakit yang lumayan jauh dari rumahnya.


Kini ia hanya memegangi jemari Roger dengan erat. Lalu perlahan merebahkan tubuhnya disamping pria itu dengan malu-malu.


Tiba-tiba...


Grep


Roger memeluknya. Jemari Roger ada di atas pipinya.


"Hhh... hhh... Maaf ya Viona! Tubuhmu hangat! Hhh... hhh..."


Viona memegangi tangan Roger yang turun kelehernya. Ia biarkan telapak tangan itu berdiam di situ menyerap suhu tubuhnya.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2