
"Tika,... pergilah tinggal di Singapura bersama suamimu!"
Kartika terkejut, sang Mama mengucapkan kalimat sakti yang kemarin sempat menjadi perdebatan itu.
"Mak sud Mama?"
"Suami istri itu memang sepantasnya tinggal bersama. Apalagi kalian masih pengantin baru. Mama minta maaf ya, kalau selama ini mengesampingkan kebahagiaanmu!"
"Ma! Beneran ini?"
"Iya. Panggil suamimu, biar Mama bicara!"
"Sebentar, Baaang! Abaaang, Mama mau bicara!"
"Tika ish,... ga gitu juga panggil suaminya!" semprot sang Mama membuat putrinya tertawa lebar.
Suaminya yang sedari tadi duduk disebelahnya hanya senyum-senyum melihat tingkah dan sikap bu Fajar kini.
"Ma, Mama ga bohongan khan kasih Tika izin?" tanyanya berusaha mencari tahu ketegasan sang istri.
"Mama serius, Pa! Mama bahagia, putri Mama sekarang bukan hanya satu. Tapi tiga. Eh empat deh, tapi yang dua akan jauh sepertinya. Jadi tinggal dua yang bisa Mama sambangi karena dekat!"
"Maksud Mama?"
Bu Fajar menceritakan semua kejadian indah dirinya bersama Viona, Mutia dan Fika di rumah Christian kemarin malam.
Tanpa Kartika ketahui, ketiga saudara iparnya itu mengajak Mama berbincang di kamar. Kartika sedang asyik mengobrol sambil menggendong Elzhar bersama saudara-saudara Herdilan dikamar lain.
Mereka mengobrol dari hati ke hati. Bahkan Mutia sampai memeluknya erat karena larut dalam curhat.
Mereka sangat menyukai bu Fajar dalam memberikan nasehat. Jadi teringat pada Ibu-Ibu kandung mereka, katanya.
Mutia yang paling rapuh ternyata, jika bercerita tentang Ibu. Dia memang paling merasa sakit dan sesak tak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu sedari muda.
__ADS_1
Mereka semua ingin bu Fajar menjadi ibu mereka. Karena tidak ada lagi orang yang dituakan untuk dimintai nasehat kecuali beliau dan suaminya kini. Semuanya adalah anak yatim piatu, kecuali Kartika saja yang masih punya orangtua lengkap.
Itu sebabnya bu Fajar kini menyebut punya empat anak perempuan.
"Waah, Mama curang... Papa gak diajak juga makan malam sama mereka!"
"Papa khan lagi ada meeting. Pulangnya jam sebelas malam. Papa pulang, Mama malah sudah tidur. Jadi, belum sempat cerita!"
"Iya ya, hehehe..."
.....
Kartika dan Herdilan duduk dengan hati senang dihadapan kedua orangtua itu.
"Kalau Mama sudah mengizinkan, Saya akan buatkan visa tinggal untuk Kartika. Jadi, minggu nanti kami bisa berangkat bersama-sama."
"Iya. Pergilah! Bekerjalah dengan baik di negeri orang. Mama Papa doakan, kalian sukses disana. Dan membanggakan kedua orangtua ini."
Kartika tak mampu menahan keharuannya. Sang Mama begitu mudah luluh hatinya setelah mereka ajak bertemu keluarga besar Herdilan.
Kepergiannya mengikuti langkah sang suami, mendapatkan doa restu serta iringan doa keberkahan yang sangat dinanti Kartika.
Begitu juga Herdilan, tak mau gegabah membawa Kartika begitu saja. Karena meskipun kini Kartika jadi tanggung jawabnya, namun restu Papa Mamanya adalah yang utama.
Kini, tiada lagi halangan dan hambatan. Mereka bisa menjalani hidup bersama meski harus meninggalkan Indonesia. Demi sebuah masa depan, yang lebih baik tentunya.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
"Jangan lupa sering-sering telepon Mama Papa ya, Nak!?! Hik hik hiks..."
"Iya, Ma!"
Hari yang dinantikan telah tiba waktunya.
__ADS_1
Herdilan harus kembali ke Singapura. Kartika yang juga sudah mengurus visa serta mengajukan pengunduran diri dari pekerjaan mengajarnya di sekolah tempat Dzakki menuntut ilmu, ikut terbang bersama suaminya.
Mutia dan Christian mengantarkan Herdilan dan juga Kartika. Viona tidak bisa ikut, karena Elzhar sedang sumang. Hanya Dzakki dan Roger saja yang turut serta mengantar sampai bandara.
Dzakki tak banyak bicara. Tetapi senyumnya mengembang mengantarkan Papi dan Mamanya pergi.
Tangan mungilnya menuntun jemari Nenek barunya dengan erat.
"Nenek, boleh ga' Dzakki minta antar pergi ke toko buku?"
"Boleh, dong! Toko buku yang mana? Memang Dzakki mau beli apa? Biar Nenek antar!"
Bu Fajar tak lagi terhanyut pada kesedihannya, karena punya cucu yang akan selalu menemuinya setiap minggu. Itu janji Dzakki padanya.
Mereka akan menghabiskan waktu beberapa jam dipagi hari dengan pergi olah raga ke car free day di pusat kota.
Bu Fajar tentu saja senang dan bersemangat menunggu hari-hari itu tiba.
Kini kedua manusia beda generasi itu tampak akrab sekali. Verrel dan Velli ikut serta sehingga suasana menjadi sangat heboh. Mutia yang juga ikut menemani sesekali mengingatkan putra-putrinya untuk tidak terlalu aktif bergerak kesana kemari, karena khawatir bu Fajar kelelahan.
"Tidak apa-apa, Muti! Mama senang sekali melihat mereka tumbuh sehat! Asal jangan lari-lari di dalam toko. Selain bahaya bisa jatuh, itu juga mengganggu ketenangan orang lain!"
"Nah tuh dengar kata Nenek!" ucap Mutia diikuti putra-putri mereka.
Roger diam-diam merekam tingkah polah anak-anak bersama bu Fajar, lalu mengirimkan videonya ke grup What'sApp keluarganya.
Kartika dan Viona senang sekali melihat video itu. Pertanda keluarga mereka semakin akur dan akrab.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1