
Aku baru saja terbangun dari mimpi panjang yang tak kuingat.
Ada ayah, sedang duduk di samping ranjang tidur kamarku. Juga ibu yang akhirnya menghela nafas lega karena aku bangun juga.
Kulirik jam bekker di atas meja nakas. Pukul enam dua puluh tiga.
Aku bangkit, duduk dan menunduk. Bersiap pada hukuman yang pasti akan ayah berikan.
"Minum apa semalam?" tanya ayah dengan nada dingin.
Aku menggeleng. Tak tahu dan tak faham maksud pertanyaannya.
"Ada zat psikotropika dalam tubuhmu semalam! Kau tahu, Vio? Kalau sampai malam itu ada razia dari pihak kepolisian, kau dipastikan melewati malam di sel tahanan!"
Glek.
Aku menelan saliva. Terkejut bukan kepalang dengan perkataan Ayah.
Fikiranku menerawang.
Mungkinkah minuman cocktail yang dibawa Lady mengandung narkoba?
"Siapa yang memberimu minum? Lelaki atau perempuan? Siapa namanya? Dan mulai sekarang jangan berteman dengan orang itu lagi! Ingat!!! Ini peringatan keras ayah! Faham, Vio?"
Aku menunduk dan mengangguk. Airmataku menetes beberapa butir.
Kini ayah makin membatasi pergaulanku.
Beliau keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Tinggalkan aku dan ibu yang perlahan mendekatiku.
Aku memang anak kesayangan mereka.
Aku anak semata wayang. Karena ibu memang sulit mendapatkan keturunan hingga akhirnya berhasil juga mengandung dan melahirkanku kedunia. Tentu saja sambutan mereka begitu luar biasa.
__ADS_1
Sayangnya ayahku yang seorang tentara begitu over protectif menjagaku dari segala hal. Meskipun semua kasih sayang serta perhatian beliau numplek plek padaku, tapi aku seperti burung dalam sangkar.
Aku merasa sesak dengan semuanya. Karena mereka selalu membatasi pergaulanku.
Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Harus begini, harus begitu.
"Vio... Maksud ayah baik, sayang! Agar Vio tidak salah dalam bergaul! Apalagi zaman sekarang sulit sekali mencari teman yang jujur dan benar-benar baik. Ayah takut kamu terperosok kedalam jurang pergaulan remaja sekarang!" tutur ibu.
"Tapi bukan berarti ayah membatasi semua gerak-gerik Vio khan, Bu!? Vio sudah kalian tuntut untuk selalu jadi anak baik, anak sukses! Tapi... gerak-gerik Vio sendiri selalu kalian curigai, seolah langkah Vio selalu salah!"
"Itu buktinya! Semalam kamu minum apa? Sama siapa? Teman-temanmu yang bagaimana yang sampai hati memberikan minuman berbahaya begitu?"
Tiba-tiba ayahku kembali masuk kedalam kamar. Mengatakan kalimat yang memang benar juga.
Semalam memang Lady memberiku minuman. Tapi aku menolak jika ayah mengatakan minum bareng teman-teman yang 'tak jelas' karena selama ini aku sudah menuruti perintah Ayah dan meminimalisir diri agar tak bergaul bebas dengan siapa saja.
Toh semua yang ayah ibu katakan selalu aku lakukan. Tidak boleh gampang menerima pertemanan. Dan harus selektif dalam mencari teman. Hingga kini usia remaja menjelang dewasa, aku merasakan dampak kurang baik di diriku yang kaku dan sulit mencari teman.
Aku hanya bisa menangis sesegukan saja. Menyesali diri dan juga Lady Navisha. Yang dengan mudahnya mendapat minuman gratisan entah dari mana.
Feeling ku, Lady mendapatkan minuman itu dari para pemuda yang mengejar cintanya. Yang berharap minuman itu jatuh ke tangan Lady dan mereka... bisa berbuat apapun pada gadis itu.
"Ayah!!... Vio harus telepon Lady! Jangan-jangan Lady kenapa-napa!"
Aku terhentak, mengingat Lady.
Apa yang terjadi jika Lady pingsan seperti aku. Lalu, dia pulang sama siapa?
Ibu membantuku mengambilkan hape dari dalam tas ransel yang kupakai semalam.
Kucoba menelpon Lady, tapi ternyata hapenya tak aktif.
Haish!!! Dyyy... Aktifkan ponselmu, Dyyyy!!!
__ADS_1
Jujur aku sangat gusar. Fikiranku galau. Bagaimana kalau Lady jadi bulan-bulanan pria iseng yang berniat jahat padanya.
"Yah! Tolong izinin Vio ke kampus Yah! Vio mau ketemu Lady! Hapenya ga aktif. Please yah!" pintaku pada Ayah dengan sangat memelas.
"Hari ini jadwal kuliahmu kosong khan?" sela Ayah membuat jatuh berderai airmata di pipi ini.
"Ya udah! Ayah antar!"
Akhirnya ayahku mengalah. Meski pada akhirnya tetap harus mendapatkan pengawalan. Aku harus bertemu Lady dan menanyakan dirinya baik-baik saja.
"Tunggu sebentar! Siapa nama temanmu, Vi?" tanya ayah sebelum keluar dari kamarku.
"Lady Navisha, Ayah!"
Ayah terlihat menelpon seseorang.
"Hallo, selamat pagi! Herdilan Firlando, ini saya...ayahnya Viona Yuliana. Saya minta bantuanmu, tolong tanyakan kabar Lady Navisha yang semalam bersama Vio. Bagaimana keadaannya? Apa Lady baik-baik saja semalam? Apa Lady juga pingsan sama seperti Vio?"
Jantungku berdebar. Tindakan Ayah sudah keluar batas. Seperti seorang reserse kesannya.
Tak lama kemudian Ayah mengangguk. Mengucapkan terimakasih banyak dan mohon bantuan. Begitu katanya.
"Hari ini kamu istirahat di rumah saja! Herdilan akan mencoba mencari tahu kabar tentang Lady Navisha katanya. Jadi kamu ga perlu capek-capek ke kampus! Dan lagi, kalaupun temanmu itu terjadi sesuatu juga... kamu bisa bantu apa! Semua khan sudah kejadian!"
"Tapi kami engga' minum-minum seperti yang ayah perkirakan!" elakku agak meradang.
"Ya setidaknya ini jadi pelajaran buat kalian. Bahwa jangan mau menerima minuman sembarangan!"
Ayah kembali keluar. Mengajak ibu serta kali ini. Seperti sengaja membiarkanku merenung memikirkan segala tindakan yang salah dimata mereka.
Hiks.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1