PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 149 IN FRAME "SETELAH JONATHAN TIADA"


__ADS_3

Hari-hari Viona kini terasa sunyi dan sepi tanpa Jonathan Lordess.


Meskipun putra semata wayangnya yang bernama Dzakki Boy Julian banyak menghibur kesedihan Viona dan Tini, namun ingatannya pada Jonathan tak pernah tergantikan.


Viona seringkali mengurung diri dalam kamar. Menangis sendirian, tak mau berbagi perasaan.


Sebentar lagi masa iddahnya telah tiba. Viona masih sangat terkenang akan janjinya pada kak Jo, kalau ia bersedia menerima lamaran om nya Herdilan itu jika telah usai masa iddah.


Viona sering menangis tanpa suara di kamarnya yang dingin dan gelap. Terisak tersedu menahan kegetirannya yang selalu gagal dalam meraih cinta bahagia.


Jonathan... telah membuka hatinya pada cinta tulus yang tumbuh perlahan. Cinta yang tak menuntutnya untuk memberi walaupun selalu menerima.


Bahkan Viona merasakan kalau selama ini ia begitu jahat pada Jonathan meskipun pria itu selalu baik dan menomorsatukan kebaikan Viona dalam segala hal. Terlebih... jika menyangkut calon anaknya kala itu.


Kakak...! Dzakki kini sudah sebulan lebih usianya. Semakin tumbuh besar dan makin lincah juga. Andai kakak ada di sini, melihatnya sendiri... Kakak pasti akan selalu tertawa. Tingkah Dzakki semakin menggemaskan. Bahkan Bi Tini, Kenken juga Roger tak bisa meninggalkan Dzakki sekejap pun.


"Hik hik hiks... Kakak Jo! Viona kangen, Kak! Tuhan... mengapa kau buat aku berharap tinggi sekali membina rumah tangga ini? Namun kenyataan tak ada rumah tangga antara kami. Hik hik hiks... Kakak!"


Viona terisak menangis dengan tubuh telungkup di atas ranjang besinya.


Namun...


Dok dok dok


Dok dok dok


"Viona! Viona!!! Buka!!!"


Suara Roger membuat Viona segera menyusut air matanya. Lalu mencoba menenangkan diri agar tak turun lagi jatuh menggenang di pipi.


Roger adiknya Christian memiliki temperamen agak keras. Dia sangat tampan, namun tak ada sedikit pun perlakuan manisnya pada Viona.


Bahkan Roger seringkali memarahinya jika ketahuan menangis dan sembab matanya.


"Viona!!!"

__ADS_1


"Iyaaa..." jawab Viona segera.


Ia bangkit dari tidurnya. Menatap wajahnya di cermin. Memoles cepat bedak padat yang ada di meja rias lalu merapikan rambutnya.


Viona bergegas membuka pintu kamar dan...


"Ngapain nangis terus?"


Viona tak menjawab. Hanya menunduk supaya mata merahnya tak bertatapan dengan mata Roger.


Grep.


Tapi tiba-tiba tangan Roger menangkap dagunya.


"Sudah kubilang, hentikan tangisanmu! Bukan cuma kau yang sedih ditinggal Om Jo! Semua orang di sini juga termasuk Boy, putraku! Kau yang melahirkannya jika sampai baby blues... mental Boy juga terpengaruh! Jangan buat anakku jadi pria cengeng!"


Tatapan tajam Roger membuat Viona merasa sangat aneh.


"Aku Maminya! Sedangkan kau... bukan siapa-siapa!" teriak Viona akhirnya. Kini air matanya kembali rembes.


"Dasar psikopat!" maki Viona menarik wajahnya hingga lepas dan menjauh dari tubuh Roger.


"Kalau kau tak suka, silakan pergi! Tapi jangan harap, Boy bisa kau bawa! Dia anakku! Aku yang mengurusnya!!!"


"Hik hik hiks... Pria aneh! Mengaku-ngaku anak orang sebagai anaknya!"


"Selain aku yang mengazankan Boy, aku juga telah mendapat wasiat dari Om Jo untuk mengurus putranya yang ada dalam rahimmu!"


Hei...!!! Kapan kak Jo memberinya surat wasiat? Surat wasiat yang mana?


Viona mendelik kesal.


"Kau tidak tahu, Om banyak bercerita tentang mimpi indahnya di masa depan dengan jagoan kecilnya! Aku saksi hidupnya, juga Fika!"


"Hik hik hiks..."

__ADS_1


"Tuan Roger, jangan sekeras itu pada Nona Viona! Kasihan Nona Vi... Dan Tuan Besar sendiri tak pernah membentak Nona Viona di depan Bibi! Maaf Tuan... kalau bi Tini ikut campur!"


"Bibi...hik hik hiks..."


Viona menangis di bahu bi Tini. Semua rasa kecewa dan kesedihannya bercampur mengharu biru. Bersyukur, ada yang masih membelanya karena tekanan dari Roger Gibran yang sangat menyebalkan.


Roger akhirnya pergi setelah mendengar suara tangisan Dzakki.


"Anakku!"


Sudah beberapa hari ini Dzakki memang tidur di kamar Roger. Bukan lagi bersama Viona dan bi Tini.


Roger bilang, ia akan belajar mengurus Dzakki. Karena memang selama ini Dzakki sudah sangat nyaman bersama pria aneh itu.


Bahkan Dzakki seringkali menangis keras. Dan tetap menangis meskipun Viona maupun bi Tini sudah menggendongnya serta memberinya susu botol.


"Bibi...!"


"Tenanglah Non! Tuan Roger bukan orang yang jahat. Bibi cukup mengenalnya meski memang terkesan jutek dan pemarah! Tuan Roger sangat menyayangi Dzakki, Non! Percayalah!"


"Aku tahu, Bi! Tapi aku merasa dia telah merebut Dzakki dari tanganku! Dia... dia membuat Dzakki memiliki ketergantungan padanya. Dia juga selalu memanggil Dzakki 'Boy'... hik hik hiks... Aku ga suka bi!"


"Yang sabar ya, Non!"


Viona mencoba mengintip pintu kamar Roger yang tertutup rapat lewat lubang kunci.


Betapa kagetnya Viona melihat Roger yang terisak di pinggir tempat tidurnya sambil memeluk Dzakki. Mukanya merah menahan tangisan.


Tangannya memeluk tubuh putra Viona dengan erat seraya menciumi wajah Dzakki berkali-kali.


Viona terhenyak.


Tak percaya jika pria yang kini diintipnya itu adalah orang yang tadi begitu arogan memarahi bahkan mengusirnya pergi jika tak menyukai kelakuannya.


__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2