PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 69 Berusaha Mainkan 'Peran'


__ADS_3

Treeet... treeet... treeet


"Hallo, Kak Jo! Apa kabar? Maaf... Viona belum bisa menghubungi kakak lebih dulu! Masih melakukan apa yang Kakak sarankan tempo hari!"


[Iya, Louisa! Maaf... Aku... hanya, tiba-tiba melihat kontakmu sedang online. Hm... hanya ingin mengatakan... hm... aku kangen eh tidak jadi. Maaf Viona! Hehehe... peace]


Klik.


Aku hanya tersenyum tipis. Kak Jonathan menelponku karena suatu alasan lucu.


Untungnya aku sudah keluar dari cafe tempat bertemu dengan mama Tasya tadi. Jika tidak, bisa gawat aku.


Secara aku tidak pernah sekalipun merencanakan perbuatan jahat pada orang lain. Jadi, untuk bermain peran pura-pura baik pada mama Tasya saja sudah membuatku bergetar jiwa raga.


Sedari kecil, didikan keras ala militer Ayah membuatku selalu disiplin dan jujur dalam segala hal. Jadi tidak ada kepalsuan di kamus hidupku. Event itu suka ataupun tidak suka. Ekspresi wajah jadi tolok ukur bagiku.


Ting tong


Aku masuk mobil dan kembali pulang ke rumah yang papa Bambang berikan pada kami.


Nanti malam aku harus memintanya mengganti nama kepemilikan rumah ini atas namaku. Harus secara halus dan tanpa paksaan terdengarnya. Tapi bagaimana? Aku bukan perayu ulung juga bukan wanita penggoda seperti si Lady Navisha. Jadi... ini merupakan pekerjaan yang sangat sulit bagiku. Dalam hal mengambil hati Herdilan Firlando.


Kak Jo bilang, aku harus mengambil semua hak ku untuk anakku di masa depan. Semua harus tega kulakukan. Seperti halnya dia pun tega menikamku dari belakang.


Aset-aset penting harus berganti nama sebelum aku melancarkan serangan selanjutnya. Setidaknya, tidak boleh kalah telak dari si wanita penggoda.


Kalau aku tak berani, maka siap-siap harus gigit jari. Begitu kata kak Jonathan Lordess.


Saat ini adalah peran kecilku saja. Peran sedang dan peran besar akan kak Jo lakukan dengan akhir yang 'manis', janjinya padaku. Aku hanya menikmati pertunjukan kehancuran yang luar biasa nantinya untuk klan mereka, katanya.


Sesungguhnya aku sangat menantikan itu. Menunggu saat-saat karma buruk datang menimpa Mama Tasya dan juga Herdilan Firlando. Satu lagi tentunya karma yang buruk pula untuk si Lady Gagak yang sangat sadis memasuki dunia rumah tanggaku yang semula indah.


"Kamu sudah pulang, Sayang?"

__ADS_1


Aku tak percaya, suamiku sudah pulang ke rumah pukul tiga lebih lima belas menit.


Cup.


Pipiku dikecupnya mesra. Kiri dan kanan.


"Mas? Tumben pulang sore?" ucapku seraya mengedipkan satu mataku padanya.


"Kangen dirimu yang cantik!"


Bohong banget! Tubuhku kini sangat kurus. Berbeda dengan istrinya yang bahenol satu lagi. Dan juga, bangkai busuknya sudah kuketahui. Pasti dia ingin bermain-main dulu denganku agar lupakan perbuatan bejatnya selingkuh di belakangku.


"Mas... Aku ingin makan sesuatu!"


"Mau apa, Sayang? Katakanlah! Aku pasti akan membelikan apapun yang kau mau!"


"Aku mau sate Lamongan! Tapi belinya harus asli di Lamongan!"


"Hah???"


"Yang, aku cari yang di sekitaran sini ya?"


"Engga'! Aku mau makan sate Lamongan di Lamongan. Se-ka-rang! Ayo, kita ke Lamongan!"


"Viona, hahaha... ya ampun! Sekarang ga mungkin, Sayang! Aku baru pulang kantor juga. Dan Lamongan itu jauh sekali, Vi!"


"Sejauh apa Lamongan? Sejauh perbuatanmu selingkuh dibelakangku dengan Lady Navisha? Hm? Atau... atau kamu sebaiknya ceraikan aku! Dan aku minta harta gono gini, fifty-fifty!"


"Viona! Oke, oke... Mm...Aku suruh orang untuk ke Lamongan sekarang juga. Beli sate atau soto?"


"Bukan orang yang harus beli. Tapi kamu dan aku yang beli sendiri di Lamongan!"


"Ya Tuhan,... Yang!"

__ADS_1


"Deal or no deal!?"


"Oke, oke! Sebentar... Aku telepon Mama dulu ya?"


"Ga pake lama!"


Aku berusaha mengancamnya dengan banyak cara. Mengerjai si Herdilan Firlando sesuka hatiku.


Dituruti atau tidak, itu hanyalah suatu ancaman saja.


"Yang! Ke Lamongan itu butuh sebelas jam dari sini Imposible kita ke Lamongan sekarang, pukul empat kurang. Sampe jam berapa kita?"


"I don't know and I don't care! Aku mau sate Lamongan yang di Lamongan!"


"Bagaimana kalau hari libur? Ya Vi? Besok aku ada meeting penting dengan para petinggi pertelevisian."


"Oke, tapi aku minta kamu oper alih rumah ini atas namaku! Baru aku setuju!"


"Oper alih rumah? Bukannya sudah atas namamu khan? Dan juga butiknya Mama juga sudah berganti nama sertifikatnya. Minggu depan rampung dan notaris akan mengirimnya ke rumah ini."


"Su-sungguh?" tanyaku tak percaya.


"Iya, Sayang!"


Apa ini taktiknya sebelum aku mengajaknya perang duluan? Tapi baguslah. Rumah dan butik mamanya kini sudah jadi milikku.


"Kamu ga bohong khan?"


"Viona! Mana pernah aku bohong dalam hal keuangan padamu? Itu karena kamu adalah istriku yang terbaik. Yang tak pernah meminta apapun selain menunggu kuberi. Bahkan ketika ku cek saldo rekening tabunganmu, masih sangat aman karena kamu bukan istri yang suka berfoya-foya!"


Ya Tuhan! Aku lupa. Rekening tabunganku, dia tahu pinnya. Aku harus bergerak lebih cepat memindahkan semua uang ke rekening baru.


Aku akan mainkan peranku pelan tapi pasti. Pria di hadapanku ini harus menderita. Terlalu enak hidupnya jika tak mendapatkan penderitaan. Hingga dengan seenaknya ia mainkan perasaanku dan berpindah cinta dengan lain orang.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2