PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 ADA MASALAH LAGI


__ADS_3

Herdilan mengantarkan Kartika pulang kerumahnya pukul tujuh lewat, karena akan ada acara selametan di rumah Kartika.


Herdilan sendiri hanya mengantar saja, tak mampir dan masuk rumah Kartika karena di rumah kediaman Christian pun sedang ada pengajian untuk kelancaran ijab kabul dan resepsi pernikahannya.


Sehingga ia memohon maaf pada Tika untuk disampaikan pada kedua orangtuanya.


Tika mengangguk. Ia masuk ke dalam gang perumahannya setelah mobil yang dibawa Herdilan meluncur pergi dan menghilang dari pandangannya.


"Aduh, Tik! Ibu kira kamu lupa kalau hari ini kita mau tasyakuran!" Bu Fajar mengelus dada. Lega rasanya sang putri telah kembali setelah adzan Isya selesai berkumandang.


"Maaf, Ma! Tadi Tika ziarah kubur, terus ketemuan teman-temannya Bang Herdilan!"


"Ya sudah, Herdilannya mana?"


"Langsung pulang, Ma! Di rumah kakaknya juga ada pengajian. Abang cuma kirim salam dan minta maaf buat Papa Mama!"


"Oh, ya sudah. Acara akan padat, Tik! Besok surat undangan akan disebar. Terus hari kamis pagi siraman. Malamnya pengajian. Tika harus mempersiapkan kesehatan dan mental!"


"Iya, Ma! Tadi siang Tika juga sudah ambil cuti mengajar sepuluh hari. Jadi bisa fokus mempersiapkan semuanya sampai hari H!"


"Iya. Syukurlah! Ayo, ganti pakaian dulu."


Bu Fajar telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ia ingin acara pernikahan Kartika berkesan dan jadi kenangan seumur hidup keluarganya.


Tasyakuran pun berjalan lancar. Para tetangga yang datang pun menerima suguhan tuan rumah dengan hati riang. Banyak makanan dan juga bingkisan untuk dibawa pulang. Sehingga hampir semua yang ikutan tasyakuran mengucapkan banyak terima kasih, juga mendoakan acara ijab kabul dan resepsi nanti berjalan lancar.


"Alhamdulillah, satu acara selesai. Besok kita sebar undangan!" kata pak Fajar setelah semua tamu bubar satu persatu.


Ia memeriksa kembali tumpukan surat undang yang akan dibagikan lewat pengurus Karang Taruna dilingkungan rumahnya. Para pemuda dan pemudi sudah dikoordinasi untuk menjadi bagian pengantar surat undangan pernikahan Kartika.


Mereka juga nantinya akan diperbantukan di gedung milik Mutia yang jadi tempat resepsi pernikahan, sebagai pagar ayu dan pagar bagus.


"Pak Fajar, mana surat undangan yang mau kita sebar besok?" tanya Rifky, ketua Pemuda Karang Taruna.


"Oh ini, Rif! Sudah bapak siapkan. Segitu banyak mau dibawa sendiri, Rif?"


"Ga, Pak! Ada Ilor sama Farhan diluar!"


"Rifky, tunggu!"


"Iya, Mbak Tika?"


"Ini..., ada sedikit dari Abang Herdilan untuk jajan cilok sama es cendol! Terima kasih ya, sudah bantuin Mbak dan keluarga!"


"Aduh, Mbak! Makasih banyak, lho ini! Hehehe, jadi enak ini! Kami khan senang kalo ada tetangga dilingkungan sini berbahagia!"

__ADS_1


"Hehehe... Iya! Selamat bekerja ya, Rifky! Semangat!"


"Siap, Mbak! InshaaAllah, besok malam semua surat undangan sudah selesai dibagikan!"


"Aamiin...! Makasih!"


"Iya, sama-sama. Saya pamit, Pak, Mbak!"


"Oh iya, Rif!"


Pak Fajar kembali menghela nafas. Sedikit bebannya telah terangkat.


Walaupun mumet mengurus semua persiapan pernikahan sang putri, namun ia tetap menebar senyuman. Pertanda hatinya senang dan jiwanya bahagia. Sang putri akan segera menikah.


"O iya, Pa, Ma! Ada yang mau Tika sampaikan sama Papa Mama!"


"Apa itu?" tanya bu Fajar yang keluar dari dapur, membawakan secangkir kopi untuk sang suami.


"Ma..., Tika ada rencana akan resign dari sekolah tempat Tika mengajar!"


"Resign? Berhenti?" tanya pak Fajar memastikan.


"Iya, Pa!"


"Bukan, Ma! Begini..., sepertinya Tika akan ikut Abang pindah ke Singapura."


"Apa??? Pindah? Ke Singapura?"


Kedua orangtua Kartika tampak shock dan terkejut mendengar penuturan putrinya.


"Memangnya Herdilan akan terus kerja di sana? Bukannya buka usaha di sini?"


"Abang baru saja buka bengkel mural bareng adiknya di sana. Kartika harus mendukung suami nanti khan!?"


Bu Fajar mendelik. Matanya langsung berkaca-kaca.


Ia kaget mendengar kata-kata Kartika.


"Jadi kamu menikah itu niatnya mau ninggalin Papa Mama, gitu?" isaknya dengan suara parau membuat Kartika tersekat.


"Ma..., bukan begitu, Ma!"


"Untuk apa kamu menikah kalau akhirnya pergi dari rumah ini? Lalu..., apa kamu tega ninggalin kita berdua yang sudah mulai tua demi untuk mendukung suamimu nanti?"


"Mama! Mama engga' seperti itu, Ma!"

__ADS_1


"Ma tenang dulu! Jangan langsung panik begitu. Tika khan belum menjelaskan secara detil! Berikan Tika kesempatan untuk bicarakan dulu semuanya sama kita!"


"Omongannya sudah jelas mengarah kesitu, Pa!"


"Ma!"


Kartika berusaha menenangkan sang Mama dengan mendekap erat tubuh gempalnya.


"Tika, rumah kita memang tidak sebesar orang-orang kaya itu. Walaupun kita tinggal di perumahan sederhana, kita tinggal disini sudah puluhan tahun. Dan Mama melahirkanmu juga di rumah ini. Ini rumah penuh kenangan masa kecil kamu! Masa' kamu mau tinggalkan begitu menikah?"


"Ma, tunggu dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik!" sela Pak Fajar mulai panik.


Ia faham betul sikap dan sifat istrinya yang langsung naik sensitifnya kalau ada sesuatu hal yang tidak ia sukai.


"Sebaiknya kamu bicarakan lagi sama Herdilan. Setelah menikah, kalian tinggal di sini. Atau kalau tidak mau serumah pun, tinggalnya masih di wilayah Jakarta. Jadi kami bisa melihat kamu, atau kamu sering kesini menengok kami!"


"Iya, Ma! Ini juga belum dipastikan. Ditambah, Abang juga tidak memaksa Tika untuk ikut dia ke Singapura!"


"Singapura itu jauh, Tika! Sangat jauh, harus pakai pesawat terbang untuk ke sana. Kalau kamu di sana, kapan pulang lagi ke Jakarta. Nanti kalian pasti akan beralasan, ga bisa pulang...ongkos tiket pesawat mahal. Ga bisa mudik ke Jakarta, belum cukup biaya pulang perginya! Iya khan? Pasti itu! Walaupun kalian punya uang, tetap tak mungkin bolak-balik Jakarta Singapura setiap minggu setiap bulan!"


Deg.


Dada Kartika bergemuruh. Rasanya seperti ada patahan-patahan yang jatuh didalam hatinya.


Perkataan sang Mama benar juga. Ia tak mungkin bolak-balik menengok kedua orangtuanya sesering mungkin.


"Terus, Tika harus bagaimana, Ma? Lalu..., kalau Abang ga mungkin pindah kerja ke Jakarta gimana?" tanya Kartika dengan suara pelan. Rasa khawatir mulai menjalari hatinya.


"Hhh...! Coba kamu bicarakan baik-baik, Tika!" ujar Pak Fajar mencoba mengurangi kegundahan istrinya.


"Iya, Pa! Akan Tika coba bicarakan nanti. Tika masuk kamar dulu!"


Gadis itu masuk kamarnya, mengunci pintu dari dalam dan rebahan dengan tubuh telungkup.


Perlahan airmatanya menetes. Ia bingung juga sedikit frustasi melihat respon Mamanya yang histeris tadi. Padahal itu baru hanya opsi, belum pasti...karena memang ia juga belum membicarakan secara serius dengan Herdilan.


Herdilan juga tidak menekannya untuk memilih mengambil keputusan. Bahkan Herdilan sendiri sudah memastikan hubungan rumah tangga mereka nanti akan LDR-an.


Tapi, apakah tidak beresiko jika mereka harus tinggal terpisah? Sedangkan mereka masih baru menikah dan belum mengenal pribadi satu sama lain.


Dan bukankah sudah sewajarnya jika istri ikut suami? Mengekor kemana suami pergi, karena sudah jadi tanggungannya pula.


Hhh... Kartika benar-benar gegana menerima keadaan ini.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2