
Malam ini kami tidur satu kamar lagi. Tapi tak berbuat apa-apa. Benar-benar tidur dengan pulasnya.
Kelelahan yang mendera seharian ditambah suasana pedesaan Ubud yang menenangkan perasaan membuatku dan Mas Delan tidur nyenyak tanpa saling ganggu satu sama lain.
Pukul enam pagi aku baru bangun. Karena tergugah oleh aroma roti bakar yang membangkitkan rasa laparku.
Semalam ternyata Ubud di guyur hujan. Hingga masih tersisa riak-riak genangannya membasahi pekarangan villa om Lordess.
"Selamat pagi, Nona!"
"Selamat pagi, Cemen!"
Cemen menyapaku dengan sopan. Tentu saja kubalik balas sapaannya.
"Masak apa, bi?" tanyaku pada bi Kurni yang sedang sibuk di dapur villa. Matanya spontan melirik ke arahku.
"Pagi, Nona Viona! Hehehe... sarapan roti bakar aneka rasa! Maaf, saya bingung mau buat apa! Takutnya Nona ingin sarapan yang berbeda. Saya ingat Tuan Delan semalam bilang, kalau Nona Viona suka sekali roti bakar!"
"Tapi bukan untuk sarapan juga kali, bi! Hehehe...!" godaku seraya tertawa kecil.
Tapi walaupun aku sedikit komplen, roti bakar memang terbaik dan terfavorit.
Tanpa sadar sudah setangkup roti bakar buatan bi Kurni kubabat habis. Bahkan lelehan keju parmesannya sampai belepotan di bibir membuat Cemen tertawa terbahak-bahak.
"Cemen!!!" tegur mbak Clon padanya seraya berbisik, "Tidak sopan!"
Cemen menutup mulutnya segera. Tersadar kalau yang sedang ia tertawakan itu adalah aku, Nyonya muda yang harusnya ia hormati meskipun usianya tiga tahun di atas aku dan Delan.
"Maaf, Nona! Maafkan kelancanganku!" ucapnya sehalus mungkin.
Aku tertawa seraya menggoyang-goyangkan kedua tanganku.
"Ga papa, Cemen! Aku juga ga merasa tersinggung koq meskipun Cemen tertawa!"
"Nyonya lucu! Juga sangat manis!" puji Cemen membuatku mendelik.
Berani juga pemuda berusia 25 tahun ini dalam mengeluarkan pujian.
Aku tersipu malu. Sementara yang bi Kurni dan mbak Clon diam tak berkata-kata lagi.
"Om Lordess memang jarang pulang, ya Mbak?" tanyaku pada Mbak Clon. Masih dengan setangkup roti coklat sarapanku potongan yang ketiga.
"Tuan Besar memang jarang pulang, Nona Vio!"
"Kerja ya?"
"Iya."
__ADS_1
"Dimana?"
"Tuan Besar memiliki banyak bisnis di Bali. Bukan hanya di Ubud, Nyonya! Banyak tempat di Bali lainnya. Tapi Tuan Lordess staynya ya di sini!"
"Pulangnya kapan?"
"Bisa seminggu sekali, bahkan kadang sebulan sekali. Tapi sering juga tiap hari pulangnya ke sini!"
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Bingung dan pusing dengan jawaban mbak Clon.
Masa bodohlah!
Trek trek trek...
Kudengar suara sandal dan langkah kaki yang di seret. Rupanya suamiku yang tengah berjalan gontai ke arah kami di ruang pantry villa.
"Selamat pagi, Tuan Muda!"
Delan hanya mengedipkan matanya, tak ada niatan menjawab salam Cemen.
"Jus apelku mana?" tanyanya agak angkuh.
Seperti kembali pada jati dirinya lagi, kini sifat Delan yang tak kusukai muncul lagi.
"Bi Kurni, boleh saya minta tolong buatkan jus apel buat Mas Delan?" pintaku mengulangi perintah Delan yang tadi sangat tidak sopan menurutku.
"Bi, maaf... tolong buatkan jus apel untuk saya, ya?"
"Baik, Tuan Muda!"
Delan memicingkan mata karena sinar mentari yang mulai menaik menerpa wajahnya.
Dasar Tuan Muda Arogan!
Aku hanya bisa merutuknya dalam hati.
"Ngobrol dengan Cemen sepertinya lebih menarik ketimbang membangunkan dan mengajakku untuk sarapan bersama bagimu ya, Vi!"
Ulala... Rupanya suamiku ini begini karena terbakar cemburu padaku serta Cemen. Hadeuh, dasar Mas Delan!
Aku membelalakkan mata. Menyeringai tak percaya namun seketika senyumku pecah jadi tawa.
"Mas cemburu sama aku juga Cemen?" tanyaku penuh nada ledekan.
"Kenapa? Banyaknya nona-nona besar suka bermain api dengan para pelayan!"
Deg.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Membuat hati dan perasaanku jadi tak enak. Terlebih Mas Delan mengatakannya blak-blakan di depan Bi Kurni, mbak Clon juga Cemen.
Itu merupakan pukulan telak bagi para pengurus pastinya.
Kulihat juga wajah bi Kurni yang pucat pias seketika mendapati sindiran tegas Mas Delan.
Aku menarik tangan suamiku. Melipir ke arah samping pantry dan menatapnya tajam.
"Mas! Kenapa pagi-pagi ucapanmu kasar begitu?" tanyaku mengingatkannya.
"Ini hanyalah perkataan biasa, Vio! Kenapa harus jadi masalah? Lagipula aku tidak ada maksud dan tujuan menyindir seseorang juga dalam hal ini!"
Aku bingung. Mas Delan justru kini tambah jutek padaku.
Pagi pertama kami di villa om Lordess menjadi anyep berkat sindiran asalnya.
...ππππππ...
"Bi! Saya minta maaf ya, atas ucapan Mas Delan tadi pagi!"
Hanya ini yang bisa kulakukan kini. Membuat permintaan maaf atas nama suami, pada ART om Lordess yang selalu setia melayani kami.
Aku juga tak ingin acara bulan madu kami yang seharusnya indah, justru menjadi kacau hanya karena masalah 'salah bicara' saja.
"Tidak apa-apa, Nona! Tuan Muda juga tak salah bicara, juga tak menyindir kami tanpa sebab!"
"Maksud bi Kurni?" tanyaku tak mengerti.
"Ada banyak permasalahan yang belum selesai memang di villa ini!" cerita bi Kurni dengan wajah tertunduk.
Maksudnya apa? Aku... bolehkah mengorek cerita yang tersembunyi dan sepertinya rahasia besar bagi semuanya?
"Saya... saya memang mmmm... saat ini sedang dalam posisi tidak nyaman di villa Tuan Besar ini, Nona!"
Aku menarik kursi. Menyuruh bi Kurni duduk agar bisa bercerita dengan baik dan menuntaskan rasa penasaran yang menyeruak di hatiku.
"Nyonya Almira pergi dari sini karena kawin lari dengan Faldin!"
Nyonya Almira? Faldin?
Hhh...
Dari cerita bi Kurni, kini kutahu kenapa om Lordess berstatus duda. Ternyata istrinya pergi meninggalkan dan kawin lari dengan pelayannya sendiri.
Dan itu sebabnya juga, suamiku terlihat tidak begitu suka berakrab-akrab ria dengan para pelayan, ART dan pembantu rumah tangganya.
Hmm... Seperti itu rupanya. Dan dia marah kepadaku karena aku akrab berbincang santai dengan Cemen! I see...
__ADS_1
...β€β€β€BERSAMBUNGβ€β€β€...