PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 170 IN FRAME "KAWAN BARU DZAKKI BOY JULIAN"


__ADS_3

"Ayah, Ayah bangun! Ayaaah...!"


Dzakki mengguncang-guncangkan kaki Roger. Mencoba menind*hnya dengan tubuh mungilnya agar sang Ayah bangun dari tidurnya.


"Hhmm...!"


"Ayah! Ayo ke Jungle Land!" rengeknya pada Roger yang masih tergolek di atas ranjangnya.


"Jam berapa sekarang, Boy?"


"Jam tujuh. Kata Ayah kita mau ke Jungle Land!"


"Hoaaah...! Ayah mandi dulu ya?"


"Jangan lama ya Ayah?"


"Dzakki sudah mandi belum?"


"Hehehe... Dzakki juga mau mandi ini!" katanya sembari berlari keluar kamar Roger dengan wajah memamerkan senyum malu-malu.



Roger yang masih mengantuk karena semalaman begadang game online bersama teman-temannya di dunia maya, beranjak bangkit lalu mengambil handuk di hanger dan masuk kamar mandi.


Tubuhnya masih terasa penah. Matanya pun masih mengantuk berat. Tapi demi Dzakki Boy Julian, ia kesampingkan semuanya.


Apalagi mengingat waktunya yang kini hanya dua hari saja untuk Dzakki. Membuat Roger menomorsatukan permintaan sang putra.


"Sudah siap?"


"Siap!"


"Let's go, kita berangkat!"


"Berangkat!"


Roger pergi berdua saja dengan Dzakki. Mereka memang telah terbiasa pergi berduaan mengelilingi taman-taman hiburan pilihan Dzakki. Benar-benar seperti Ayah dan Anak.


Bi Tini sudah menyiapkan semua perlengkapan. Termasuk bekal roti dan camilan untuk Dzakki serta Roger di jalan. Juga satu stel pakaian ganti milik Dzakki, jika nanti di tempat hiburan ingin berenang.


Keduanya pergi dengan hati riang gembira.


Sementara Viona, minggu ini tetap masuk kerja. Dan memang ia juga selalu menyempatkan waktu menyambangi Tasya Jessica, mantan mertuanya yang juga berada di rumah sakit tempatnya bekerja setiap waktu luangnya.


Mengetahui sang putra pergi dengan Roger ke Jungle Land, ia pun menyusun acara mengunjungi Tasya dengan maksud berbincang santai saja.


Menyembuhkan dan menyadarkan kembali Tasya pada kenyataan adalah tujuan terselubung Viona.


Biar bagaimanapun wanita itu dulu begitu baik padanya. Sebelum Lady datang mengacak-acak keharmonisan rumah tangganya. Itu sebabnya Viona merasa miris melihat kondisi Tasya.


Setidaknya jika Tasya sehat, putranya tidak akan terbebani nanti hatinya. Mengetahui sang nenek yang gila dan dirawat di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Dzakki sekalin besar dan tambah pintar. Suatu saat nanti, pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir sang putra tentang ayah kandungnya.


Viona perlahan berusaha mempersiapkan diri untuk hal demikian. Walau ia tak bisa memprediksi kapan itu terjadi. Tapi setidaknya ia sadar diri, separuh jiwa Dzakki adalah jiwa Herdilan Firlando.


Tapi sampai kapanpun ia tak akan pernah membiarkan Herdilan mengambil putranya. Namun bin untuk Dzakki tetaplah Herdilan Firlando sampai kapanpun bahkan sampai akhirat nanti.


...🌲🌲🌲🌲...


"Ayah! Ayah... Hahaha... Ayah sini!"


Dzakki benar-benar memanfaatkan momen bahagianya itu dengan Roger.


Setelah puas bermain mencoba berbagai wahana permainan yang ada di Jungle Land, Dzakki kini berlarian di area lapangan berumput yang luas.



Ia anak yang lincah dan menyenangkan. Hingga ada sepasang mata anak lain yang memperhatikan keceriaannya sedari tadi.


"Kakak! Sini!"


Dzakki memang anak yang supel dan mudah bergaul. Ia pandai menempatkan diri dalam situasi apapun dan suasana dimanapun.


Anak lelaki yang lebih besar darinya pun dia sapa tanpa sungkan dan takut.


Kini Dzakki mempunyai teman baru. Anak laki-laki yang kemungkinan beda usia lima tahun lebih darinya.


Mereka cepat akrab meskipun sang kawan baru terlihat agak berbeda. Anak itu...berkebutuhan khusus. Tapi rupanya ia merasa nyaman bermain bersama Dzakki yang terlihat welcome padanya.


Mereka lagi-lagi tertawa bersama di area taman. Sedangkan Roger yang tadi mengalihkan fokus ke layar hapenya mengetahui ada chat masuk di kotak pesan. Kini kembali fokus memperhatikan sang putra yang senang karena punya kawan baru.


Tiba-tiba...


"Dirga...! Haish, Papa cari Dirga kemana-mana. Ternyata di sini!"


"Pappa... pappa... adddek!"


Dzakki tersenyum mengangguk sopan pada Papa dari teman barunya itu yang terlihat ngos-ngosan. Tampak raut wajah memerah dan nafasnya turun naik karena berlari-lari.


"Ternyata Dirga punya kawan baru ya?"


Roger yang memperhatikan dari jarak tujuh meter itupun berjalan menghampiri.


"Ada apa, Dzakki?" sapanya pada sang putra. Membuat pria yang berada diantara Dzakki dan Dirga menoleh padanya.


"Ah, Bung pasti Ayahnya ya?"


"Iya. Kenalkan, Roger Gibran. Ayahnya Dzakki!" jawab Roger seraya menyodorkan telapak tangannya.


"Diandra. Dirga putra tunggal saya! Senang berkenalan dengan Bung!"


Keduanya berjabatan tangan saling lempar senyuman.

__ADS_1


Ini adalah awal pertemuan antara Roger-Dzakki dan Dokter Diandra-Dirga.


Perkenalan yang mengakrabkan kedua pria dewasa itu saling bercengkerama dan Dzakki serta Dirga semakin akrab bahkan terlihat tertawa saling berangkulan.


"Putra bung pintar sekali ya?"


Dokter Diandra sangat senang melihat keceriaan Dirga putranya. Ini pertama kalinya ia melihat Dirga sangat senang bermain bersama orang lain.


Biasanya Dirga selalu menjauh dan seolah memasang benteng hingga asyik sendiri tak mau berkawan dengan siapapun.


Tapi dengan Dzakki yang baru beberapa menit ia lihat, Dirga sangat berbeda. Wajah putranya terlihat begitu sumringah membuat Diandra ikut bahagia.


"Alhamdulillah. Dzakki memang membawa aura kebahagiaan bagi semua orang!"


Roger tak kalah senang dan bangga pada putra kesayangannya.


Rasa yang tak pernah ada dihatinya dulu-dulu.


Begini rasanya ya, jadi seorang ayah yang putranya dipuji orang lain. Dan memang benar, Dzakki-ku pintar sekali. Juga membawa aura kebahagiaan dihati setiap orang yang bersamanya. Seperti aku juga kini.


Hhh... Andaikan Dzakki benar-benar jadi putraku. Dan Viona mau menikah denganku. Pastinya saat ini kami bisa bermain bertiga di wahana hiburan ini. Hhh... Sayangnya Viona ada kerja. Andai... (tuk-tuk)


Roger tanpa sadar mengetuk kepalanya membuat dokter Diandra menoleh dan bertanya,


"Sakit kepala kah? Sebaiknya cepat minum air putih yang banyak. Bisa menstabilkan kembali syaraf-syaraf yang tegang, Bung!"


"Ah hahaha... tidak, Mas! Saya hanya teringat Maminya putra saya yang saat ini harus kerja! Jadi sedikit menyesal, kebersamaan ini agak kurang terasa!"


"Oh... begitu ya!? Hehehe... maaf, saya kira..."


"Mas bersama istrinya kah?"


"Istri saya sudah meninggal dunia tujuh tahun lalu!"


"Oh... maaf!"


"Tidak apa-apa, Bung! Kami sudah terbiasa berlibur hanya berdua."


"Hhh... Saya juga gitu sih, Maminya Dzakki juga jarang libur pas saya off kerja. Jadi kami jarang liburan bersama juga! Tapi yang penting anak kita bahagia. Bukan begitu, Mas?"


"Betul itu. Hehehe..."


"Berapa usia Dirga, Mas?"


"Sepuluh tahun bulan lalu. Anak saya berkebutuhan khusus! Tapi saya sangat sayang dan bangga pada Dirga. Dia sangat mandiri dan tidak menyusahkan meski keadaannya berbeda dengan yang lain."


"Putra Mas sehat dan baik-baik saja. Tidak nampak...," Roger tak melanjutkan pembicaraannya. Dia merasa agak riskan bicara terlalu jauh. Apalagi soal anak. Khawatir obrolan mereka nanti semakin panjang dan ketahuan kalau ia adalah bujang lapuk 31 tahun yang belum laku-laku yang mengaku-ngaku sebagai Ayah Dzakki.


Hhh...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2