
Seiring waktu...aku sudah bisa mengikuti alurku sebagai mahasiswi. Semester satu berhasil kulalui dengan nilai yang cukup membuat Ayah tersenyum walau tipis.
Nilai semua matkul-ku rata-rata A. Hanya ada dua nilai B. Lumayan membuatku bernafas lega.
Liburan semester pun aku mendapat izin Ayah pergi hangout bersama teman-teman.
Dan satu lagi pencapaianku, circle pertemananku pun perlahan bertambah. Bukan hanya sekitar Lady, Ira juga Delan saja.
Aku perlahan mulai membuka diri. Mencoba berteman dengan semua orang setelah mengadakan kesepakatan dengan Ayah.
Ayah setuju, aku harus bisa speaking dengan banyak orang. Dan kuminta ayah melonggarkan batasan pergaulanku kalau inginkan aku jadi orang yang sukses dikemudian hari.
Satu pesan ayahku, bergaul boleh dengan semua orang. Tapi tetap pertahankan jati diri dan harga diri. Karena perempuan yang utama adalah harga diri. Mau setinggi apapun titel dan juga pencapaiannya, toh tetap yang utama nanti adalah titel luhurnya sebagai seorang istri serta ibu dari anak-anaknya.
Aku setuju kata Ayah. Dan berjanji, akan tetap menjaga harga diri. Juga nama baik diri serta orangtua pastinya.
Hanya satu yang aku tidak habis fikir dengan Ayah. Tiba-tiba Ayah menyindir percintaanku yang memang belum pernah kumulai.
"Vi!... Herdilan itu lumayan keren dimata Ayah, lho!"
Hah??? Delan keren? Ayah lihat dari ujung sedotan kah? Hiks...
__ADS_1
Rambut keriting Delan yang keriting panjang meski klimis, wajahnya tirus tertutup poni. Belum lagi auranya juga. Gelap, suram bagaikan tiada cahaya. Lantas Ayah menilainya keren dari mananya?
Aku sendiri tidak terlalu kenal Delan. Kami nyaris tak pernah mengobrol meski seringkali jalan bareng Ira dan yang lainnya. Apalagi kini Delan juga tak pernah jadi teman kelompokku. Jadi kami juga jarang berdiskusi.
Hanya sekedar say hello basa-basi saja. Bahkan hingga semester kedua berhasil kami lewati.
Semester ketiga, keempat juga kelima perlahan namun pasti juga berhasil kami lalui.
Meski langkah kaki terseok, kadang semangat yang up and down... membuatku patah karena tak ada yang menyemangati.
Bukan tak ada juga sebenarnya. Tapi memang tak mau membuka diri melangkah menjalin hubungan pertemanan serius kearah lebih dari teman.
Juga kak Firman yang kini sudah mendekati semester delapanpun ternyata mulai berani menggandeng pasangannya.
Kak Mutia Permata. Model cantik yang seangkatan kak Firman ternyata sedari dulu memang incarannya.
Pantas saja, dia hanya PHP padaku sewaktu di semester satu kami sempat beberapa kali dekat bahkan membawa teman-temannya ke gerai ayam geprek tante.
Hhh...
Nasib, nasib! Ternyata yang berbobot dan berkualitas tinggi itu sudah pasti jadi rebutan ya! Hm...
__ADS_1
Hanya aku dan... Delan sepertinya yang memang seperti biasa. Menjalani rutinitas tanpa adanya cinta.
Lady Navisha sendiri semakin menjauh dariku karena merasa bosan berteman denganku.
Mungkin karena kecupuanku yang tak berubah dari dulu. Sigadis bebek yang tak kan pernah berubah menjadi angsa.
Kata Lady, percuma aku jadi mahasiswi kalau tak berani berubah dan ambil resiko.
Aku sungguh tak mengerti maksud ucapannya.
Biarlah, itu persepsinya. Bagiku... kuliah dan menuntut ilmu adalah tujuannya menaikkan standar dalam berfikir. Bukan standar dalam pergaulan dan penampilan.
Bagiku diri ini tak terlalu norak-norak amat. Masih bisa aku berdandan walau jarang dan malas. Hanya sekedarnya saja. Karena ngampus itu bukan tempat fashion show. Entahlah pendapat sebagian orang lainnya.
Yang penting, aku bisa memberikan yang terbaik untuk kedua orangtuaku yang telah bersusah payah menyekolahkanku hingga kini.
Dan semoga togaku segera kuraih. Titelku bisa kusandang dibelakang namaku. Menjadi kebanggaan bagi Ayah serta Ibuku.
Itu saja harapanku kini.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1