
Yang satu dosen antropologi, yang satunya lagi dokter psikiatri.
Roger Gibran Suherman dan Dokter Diandra Alexander.
Sama-sama pria dewasa. memiliki rasa pada Viona. Kini saling berhadapan satu sama lain dengan sikap canggung dan kikuk.
Sangat berbeda sewaktu keduanya mengobrol di taman Ancol beberapa waktu lalu sebelum saling mengenal satu sama lain.
"Silakan duduk, Dok!" ujar Roger berusaha tenang.
Namun walaupun ia sudah terbiasa menangani kondisi caos ketika mengajar, namun hatinya tak tenang. Terlebih melihat senyuman Viona yang terlihat manis menggoda pada sang dokter. Tak ayal membuat sakit dada Roger.
Shiiit! Ngapain pake senyum-senyum segala, Vi! Biasa aja kali'! Segitu senangnya ya, disambangi dokter alay yang sok manis di depan kamu! Hadeh! gerutu hati Roger, kesal.
Sementara sang dokter tak kalah degdegan. Matanya sesekali melirik Roger yang terlihat akrab bahkan dengan santuinya meminta Viona menyajikan minuman untuknya.
Seberapa dekat dosen lapuk ini dengan Viona? Kalau Dzakki memang aku sudah tahu. Tapi dengan Viona?... Hhh... Tapi aku dapat rekomendasi dijodohkan oleh abangnya sendiri, si Christian. Otomatis, aku lebih punya kans ketimbang dia. Dan pastinya si Chris tidak akan setuju kalau Roger inginkan Viona! Secara... mereka kini telah jadi kerabat khan... Hhh...
Keduanya sama-sama sibuk dengan fikiran yang tak tentu hingga Viona datang dengan membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat.
"Silakan di minum dulu, dok!" ujarnya sopan.
Grep.
Roger gerak cepat menarik jemari Viona.
"Cepat ganti pakaian dulu, nanti kamu masuk angin!"
Perkataan lembut Roger meski dengan wajah tegas, membuat Viona tersenyum dalam hati.
Ada apa dengan si Roger ini? Apa... Apa dia cemburu pada dokter Diandra? tebak Viona.
__ADS_1
Ish! Ge'er kali' aku ini! Belum tentu si Roger suka sama aku. Ck ck ck... Vi, Viona! Sadar, sadar! Seberapa pantas kau bersanding dengan si Roger ini! Hm... sainganmu berat! Janda bohay cantik semok sekelas Gigi! Matang dan pastinya pandai bercinta. Cih! Otak apa ini di kepalaku!?!
Viona merasa geli pada dirinya sendiri. Seketika ia insecure pada Nagita, sahabat wanitanya Roger yang tadi pagi ia jumpai.
"Hari ini dokter off kah?"
"Iya. Dirga merengek terus minta ketemu Dzakki. Hhh... Sejujurnya saya pun tak enak hati. Tapi, putra saya kadung sayang pada Dzakki juga Viona!" jawab dokter Diandra.
Wow wow wow...! Berani banget nih duren petot! Rayu-rayu Viona di depan aku! Cih...! Jangan-jangan, dia lebih berani lagi di belakangku godain Vio! Hm... Sepertinya sudah gatal ya, tujuh tahun jadi duda. Dan dia punya keinginan kuat mendapatkan Viona yang bisa dia jadikan 'babu' di rumahnya nanti! Enak saja! Huh!
Roger menatap tajam wajah dokter Diandra.
Ia sengaja stay duduk manis di antara Viona dan Diandra. Tak ingin memberi kesempatan keduanya bebas mengobrol.
Dokter Diandra sendiri lama-lama merasa risih dengan kelakuan ambigu sang dosen yang lima tahun lebih muda darinya itu.
"Kapan Viona wisuda?" tanya Dokter Diandra.
"Kenapa memangnya, Dok? Waktunya belum dipastikan pihak universitas khan ya, Vi? Masih dalam tahap perencanaan sepertinya!"
Namun Viona menghargai perasaan Roger. Dia juga tak mau membuat Roger malu dan jatuh harga diri. Viona mengangguk mengiyakan perkataan Roger.
Padahal jadwal wisuda sudah keluar, yakni senin depan alias satu minggu lagi.
"Hm... Tadinya saya mau mengajak anak-anak ke Monas! Tapi... sepertinya kalian masih capek ya!?"
"Monas?" tegas Viona senang.
"Dzakki masih capek, harus tidur siang juga! Maaf dok, saya tidak mengizinkan putra saya ikut serta! Tapi kalau dokter ingin ke Monas, ya silakan... mumpung masih pukul sebelas."
"Rencana saya mau mengajak Dzakki naik MRT. Hehehe..."
"Lha? Koq ke Monas naik MRT? Gak nyambung, Dok!"
"Ya namanya juga ngajak jalan-jalan! Setidaknya, ada pelajaran hidup yang bisa dipetik anak-anak disetiap perjalanannya. Bagus khan Viona? Jadi, selain mereka tahu fasilitas-fasilitas umum negara, mereka juga jadi tahu rasanya naik angkutan umum juga. Jadi pengalaman hidup juga!"
Viona mengangguk-angguk antusias.
__ADS_1
Sementara Roger tertawa sinis tanpa sadar. Namun seketika ia tersadar, kalau sikapnya itu sangat kekanakan. Akhirnya Roger mundur perlahan dengan pamit masuk kamar.
Bodo amat lah! Mau ke Monas kek, mau ke Bundaran kek... suka-suka kau lah cuap-cuap! Hhh... Lelah hati ini!
Begitulah isi hati Roger yang kecewa melihat raut wajah Viona yang cerah mendengarkan sang dokter bicara.
Sehingga ia memutuskan masuk kamar. Mengistirahatkan hatinya.
Namun sebelum masuk kamar, Roger menyempatkan diri melihat Dzakki dan Diandra di ruang bermain.
Berantakan semua mainan Dzakki diacak-acak Dirga. Namun Dzakki ternyata anak yang pandai membawa diri. Dzakki juga dewasa dan mengerti kondisi keadaan Dirga yang berbeda. Sehingga ia tampak enjoy membiarkan teman barunya itu mengapresiasikan semua kesenangannya.
"Abang suka?" tanya Dzakki ketika Dirga mengapit empat mobil-mobilan miliknya.
Dirga mengangguk beberapa kali.
"Abang boleh pinjam mainan Dzakki!" katanya sembari tersenyum.
Tentu saja Dirga tertawa bahagia. Berlari ke arah sang Papa yang duduk manis di ruang tamu.
Hhh... Dzakki-ku sangat baik hati. Dia juga seorang anak yang berfikiran luas dan sangat dewasa. Kalau aku cemburu berlebihan pada Viona, sedang kapasitasku hanyalah ayah angkat saja bagi Dzakki... Rasanya... malu aku jadinya pada Dzakki.
Kalau ternyata Tuhan menjodohkan keduanya, aku yang malu sendiri nantinya. Hhh... Sudahlah!
"Ayah, Ayah...! Ayah mau kemana?" tanya Dzakki menarik tanganku yang berjalan keluar dari ruang bermainnya.
"Ayah mau ke kamar, Boy! Mainlah dulu bersama Abang Dirga! Ayah mau istirahat sebentar!"
"Iya, Ayah!"
Jodoh, rezeki, maut... Tuhan yang atur.
Roger sangat memahami arti kalimat tersebut. Membuatnya berjalan gontai dengan hati sedih dan pasrah pada Ketentuan Illahi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1