
Sejujurnya aku merasa tak enak hati, pergi berlibur dengan kak Jonathan. Yang notebenenya adalah om dari 'mantan' suamiku sendiri. Dan status kami adalah single janda duda.
Bagaimana pandangan orang nanti? What ever lah, ora' urus. Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Toh hidupku hanya diriku sendiri dan Tuhan yang Maha Tahu. Selama jalanku lurus tak belok kanan belok kiri, it's okay... tak kan Tuhan mengujiku lebih pahit lagi. Pasrah saja pada Illahi!
Kami benar-benar backpacker-an. Turun naik kendaraan umum seperti angkot dan buskota. Menuju stasiun kereta api untuk lanjutkan perjalanan menuju kota Jogyakarta.
"Kakak sudah beli tiketnya?" Kak Jo tersenyum seraya memamerkan dua tiket di tangan kanannya.
Aku kagum melihat kesigapan kak Jo. Ternyata anak buahnya telah lebih dulu memesan tiket via online. Semua sudah di handle meskipun liburan ala-ala ransel, tetap saja gaya sultan mah beda. Hhh...
Jogja menyambut kami dengan pemandangan alamnya yang indah setelah perjalanan yang cukup panjang. Sekitar sembilan jam dengan kereta api dan dilanjut kendaraan umum. Tuhan pun memberi kenikmatan lain berupa cuaca yang cerah ceria.
Kak Jo menyewa dua kamar kecil losmen di kota Jogjakarta. Katanya untuk dua hari saja.
Hari pertama kami hanya rebahan, istirahat di kamar karena tiba pukul delapan malam.
Makan malam di angkringan jogya, lalu kembali ke kamar sewa karena tubuh yang merasa kurang enak. Alhasil kasur jadi tempat terindahku melewati malam di Jogjakarta.
...........
"Oek, oek...!"
Beginilah rutinitasku setiap pukul enam pagi. Morning sickness menjadi 'sarapan pagi' setiap hari.
"Vio! Vio..."
Tok tok tok
Kak Jo mengetuk pintu kamarku berkali-kali. Kamar kami bersebelahan, otomatis suara muntahanku terdengar jelas hingga ke kamarnya.
"Maaf, kak!.. Aku biasa begini, setiap pagi!"
Ia sigap sekali. Mengambil minyak kayu putih dan mengusapkan lembut di pundak leher serta tenggorokan dan sedikit di lubang hidungku.
Kak Jo mengambil air minum dari dispenser yang tersedia. Ia mengatur suhunya hingga menjadi segelas air hangat yang membuatku lebih nyaman dan hilang mual-mualku.
__ADS_1
"Gimana? Enakan?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
Ia menarik kursi kayu yang ada di samping ranjang tidur yang juga dari kayu. Menyuruhku duduk sebentar, menenangkan perasaan yang tak mengenakkan ini.
"Aku cari sarapan dulu ya? Viona mau makan apa?"
"Kita cari sama-sama, Kak!" jawabku tak enak hati.
"Maaf ya, aku lupa... kalau kamu sedang hamil. Aku harusnya membawamu menemui Lena untuk pemeriksaan kandungan di klinik! Malah mengajakmu keluar jalan-jalan, melupakan kesehatanmu juga!"
Aku menggeleng cepat.
"Aku senang, kakak mengajakku pergi seperti ini. Justru bikin hatiku yang rapuh jadi lupa masalah!"
Kak Jo mengusap rambutku pelan. Senyum manisnya amat tipis. Terlihat sekali kalau ia merasa bersalah.
Tring
"Jangan!" sela kak Jo cepat. Tangannya meraih handphoneku.
"Dari siapa? Vio pingin tahu, Kak! Takutnya dari Ira, urusan penting. Mobil dari papa Bambang sudah Vi titip di rumah Ira semalam. Om Tama yang antarkan!"
Akhirnya kak Jo mengalah. Diberikannya benda pipih itu padaku.
Dari kak Firman!
...[Maaf Vi, aku mengirimimu foto-foto Delan dan Lady lagi!]...
...Tak perlu, Kak! Aku sudah membuat akta cerai dengan Herdilan. Tinggal tanda tangannya saja, dan kami resmi jadi mantan....
Kujawab segera. Tak ada lagi jawaban dari kak Firman.
__ADS_1
Kak Jo mengambil lagi ponselku. Menatap raut wajahku yang kusut masai. Ia meraih jemariku.
"Semangat! Apapun itu, kamu harus lebih kuat dari Viona yang dulu! Ada bayi mungil yang harus kamu jaga, sebagai amanah dari Tuhan!"
Aku yang tadi berusaha tegar dihadapan kak Jo, justru luluh lantah perasaanku. Tangisku pecah seketika. Membuat kak Jo segera meraih kepalaku kedalam dekapannya.
"Kenapa nasibku seperti ini, Kak? Hik hik hiks..."
"Bagaimana dengan nasibku, Vi?... Tapi aku berusaha bangkit! Aku tak mau jadi gila karena cinta dunia!"
"Hik hik hiks...!"
"Sabarkan hatimu, tegarkan dirimu! Ayo, Vi!... Kita harus robah nasib kita ini! Ayo... ayo senyum! Louisa-ku bertahan sampai akhir dengan senyuman manis yang menyenangkan!"
Aku menatap mata coklat kak Jo.
"Kakak menolongku karena wajahku yang mirip kak Louisa?"
"Bukan itu. Tapi... karena nasib kita sama! Sama-sama jadi korban kepicikan seorang Tasya Jessica!"
Tatapanku melemah. Menunduk dan...
Cup. (Kak Jo mengecup keningku)
"Ayo! Kita bersenang-senang cari makanan enak!"
Kak Jo mengusap perutku sambil berkata, "Dedek mau makan apa? Biar Papi Jo yang traktir semuanya!"
Aku tersenyum. Kak Jo begitu lembut. Sangat lembut malah hingga meleleh lagi air mataku.
"No! Don't cry, Viona! Mari... kita hapus kesedihan ini. Terlalu lama kita menderita! Sudah saatnya kita bahagia!"
Andaikan kak Jo itu Herdilan...suamiku! Sungguh hati ini pastinya akan sangat bahagia. Suami yang baik hati dan begitu lembut penuh kasih. Aku mohon berilah aku suami yang seperti kak Jo, Tuhan!
Tanpa sadar aku berdoa dengan penuh kekhusukan. Tuhanku Maha Mendengar.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1