PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 107 Seperti Ada Manis-Manisnya


__ADS_3

"Butuh bantuan? Sepertinya akan ada omongan yang tidak enak jika Viona yang harus mengobati lukamu. Viona juga bukan dokter ataupun perawat! Apalagi,... statusnya yang baru saja janda akan membuat orang berfikiran buruk pada Viona nantinya!"


Kata-kata kak Jo lugas dan tepat sasaran.


Ia juga mengambil kapas dan cotton bud yang sudah ditetesi betadine dari tanganku. Lalu perlahan menggantikan mengolesi bibir Kak Firman.


Sumpah, melihat kak Jo melakukan itu membuatku ingin tertawa ngakak! Sayangnya aku harus menahan, karena khawatir mereka berdua marah padaku.


"Auw...! Sudah, sudah. Biar aku sendiri saja!"


Kak Firman menolak keras karena kak Jo mengolesnya tanpa perasaan. Membuatku akhirnya tersenyum tipis.


"Ya sudah, lakukan sendiri! Jadi cowok jangan lemah! Baru kena jotos kepalan orang gila saja, langsung melehoy."


"Siapa juga yang melehoy?"


"Nah itu! Minta bantuan perempuan, kalo bukan melehoy... apa namanya? Melambai?"


"Hei, Bung! Kamu kenapa sih, sensi banget sama aku? Siapa kamu sebenarnya?" Firman marah kena sindiran kak Jo.


"Please, Kak... Kak Firman ke sini atas permintaan aku! Aku ga enak hati wajahnya babak belur kena hajar preman suruhan mantan suamiku!"


"Begitu? Tapi... Koq kayak ada manis-manisnya gitu, ya?"


"Maksud Bung apa?"


"Seperti ada gejala-gejala demam tinggi, batuk pilek plus meriang juga karena dapat perhatian lebih dari Viona Yuliana!"


Deg.


Kak Jo cemburu! Fix ini, kecemburuan yang membutakan!


Bolehkah aku senang, karena kak Jo mencemburuiku? Salahkah aku memiliki perasaan senang itu? Sedangkan di antara kami tidak ada hubungan apa-apa. Murni hanya untuk bekerja sama menghancurkan Herdilan dan keluarganya.


Aku meringis. Merasakan sembelit di usus besarku.

__ADS_1


"Kenapa Viona?"


Kompak dua pria beda generasi itu menatap lekat ke arah wajahku.


Sontak aku memegang perut lalu menunduk-nunduk meminta izin dengan kode saja untuk pergi ke belakang alias masuk kamar mandi.


Bergegas setengah berlari meninggalkan keduanya yang akhirnya diam mematung.


Uuufffhhh...! Aman...


Aku tak mau terlibat dalam keributan diantara keduanya. Karena mereka adalah orang-orang baik yang punya jasa besar dalam hidupku.


Aku bingung bertindak untuk memihak salah satu dari mereka.


Tidak bisa.


Untunglah sakit perut ini bisa menjadi alasanku kabur dari adu argumen di antara keduanya.


Perlahan kuintip mereka dari kaca jendela. Ternyata suasana adem tak terdengar lagi debat kusir seperti tadi.


Kak Firman masih duduk di kursi santai teras. Sedangkan kak Jo duduk di tembok pilar tak jauh dari sana.


"Minuman sudah datang!"


Aku pura-pura menjadi sosok pribadi yang cuek dan hangat. Mencoba menyatukan keduanya, bukanlah suatu dosa. Siapa tahu kak Jo dan kak Firman bisa berteman nantinya. Who knows khan?


Kak Jo menoleh, begitu juga kak Firman.


"Aku pamit, Vi!" kata kak Firman membuatku termangu.


"Eit, minum dulu tehnya! Aku sudah capek-capek buatkan... kesannya koq ga dihargai gitu!" sungutku pura-pura imut.


"Itu bibirmu lama-lama monyong kalau terus-terusan begitu!" tukas kak Jo membuatku tertawa dan kak Firman juga tersenyum kecut.


"Ayo, minum tehnya!"

__ADS_1


Kami bertiga akhirnya mengambil gelas masing-masing dan meregutnya hingga tandas.


"Teh yang nikmat!" puji kak Firman.


"Juga manis semanis yang buatnya!" kak Jo tak mau kalah, memujiku juga.


Hiks... Permainan apa ini?!?


Tapi kemudian kak Jo dan kak Firman saling tatap dan saling berjabat tangan dengan senyuman pula.


Haish... Kenapa sih dua orang ini?


Aku bingung dan tak mengerti. Tadi mereka seperti hendak saling serang. Kini mereka rupanya sudah bisa berteman.


Aku tanpa sadar menepuk dahiku.


"Semua demi Viona."


"Dan calon bayi yang akan lahir lima bulan lagi!"


Hm... Gencatan senjata yang indah. Hehehe...


"Aku pulang, Vi! Terima kasih untuk perawatan juga jamuannya!"


"Sama-sama, kak! Get wet soon ya!?"


"Hati-hati di jalan!" tambah kak Jo yang di balas anggukan dan jabatan tangan kak Firman.


"Pamit kak, permisi... Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" Aku dan kak Jo kompak menjawab.


"Ayo, kamu juga siap-siap sana! Tania dan Fika menunggu!"


Aku mengangguk. Lalu kembali masuk mengikuti perintah lembut kak Jo.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2